Ayat (11)


Written on March 3, 2008 – 10:42 am | by ghifarie
Menulis Petanda Orang Beradab
Oleh Ibn Ghifarie

Saat
ngimpul bareng kawan-kawan Sunan Gunung Djati beberapa pekan lalu. Kala
senja mulai tertutupi oleh awan dan munculnya warna merah di ufuk barat
petanda Sang Raja Siang ingin ‘berpamitan sejenak’ kepada kita dalam
rutinitas kesehariannya.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu
pertanyaan yang dilontaskan oleh temenku ‘Kenapa benyak penulis brilian
dari Sumatra atau paling tidak ada keturunan Minangnya daripada Jawa,
termasuk Sunda?’

‘Seperti Buya Hamka, A Nafis, itu yang sudah meninggal atau Buya Syafie dan Azra yang masih hidup!!

Kata Pamali;Sumber Ketidak Bebasan Berekspresi
Aku
hanya bisa menjawab ‘Sejak awal mereka tidak pernah mendapatkan
larangan saat mengelurkan pendapat sekalipun berbeda dengan orang
tuanya’

Coba liat dalam obrolan Nenek kepada Cucunya saat
bertamasya ke Kampung halamannya ‘Saat ada yang bertanya Ari ujang
kadieu sareng saha? [Bareng siapa kesini]

Naek pasawat terbang [Naik pesawat terbang], jawabnya

Aduh
teu kenging nyarios kitu pamali. Pan ujang teh kadieu sareng Bapak naek
mobil pan!! [Jangan biang begitu. Kan cucu datang ke sini sama Bapak
itu naik mobil bukan!] Tegur Nenek.
Disadari atau pun tidak,
kata-kata pamali inilah yang membuat daya fakir masyarakat Sunda (maaf)
sedikit tidak bebas. Imajinasi untuk menuliskan satu gagasan menjadi
terganjal.

Berwatak Bebas, dan Tak Peodal
Deretan
pertanyaan sahabatku, terus muncul sekaligus menuntut jawaban.
Sampai-sampai saat mengikuti acara Seminar di Universitas Kristen
Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema
"Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media".

Nah, saat
penjamuan makan siang pula akhirnya pertanyaan serupa ku lontarkan juga
pada kedua Narasumber; Wilson Lalengke, Pimred HOKI dan Andreas Hirata,
penulis Tetralogi Laskar Pelangi.
 
Menyoal kebanyakan
penulis berasal dari masyarakat sekaligus keturunan Minangkabau,
Sumatra daripada Jawa atau Sunda Wilson Lalengke, Pimred HOKI
menjelaskan ‘Mungkin saja karena budaya Jawa itu terlalu peodal dan
mangut-mangut terhadap orang tua atau yang kita tuakan, jelasnya

Berbeda
dengan kami setiap anak saat saya masih kecil bebas untuk mengepresikan
apa yang kita rasakan, alami dan liat untuk ditulis, tambahnya.

Selain
itu, kebiasaan merantau ke daerah lain untuk laki-laki dan jangan harap
kembali bila sebelum berhasil, baik dalam urusan materi maupun imateri,
ujarnya.

Faktor-faktor inilah yang memicu terlahirnya ribuan
penulis. Kendati besarnya para penulis tidak di daerah aslnya. Melaikan
setelah merantau ke Ibu Kota, tegasnya.

Hal senada juga
diamini oleh Andreas Hirata, penulis ‘Tertalogi Laskar Pelangi’
menuturkan liarnya imajinasi saat anak-anak menumbuh kembangkan gagasan
yang brilian ‘Berbeda dengan kebiasaan masyarakat luar Sumarta, maaf
terlalu dikungkung oleh atauran-aturan yang kaku.’
Tradisi inilah yang terus memicu anak muda untuk terus berkarya sekeil apa pun, ungkapnya.

Baca, Diskusi dan Merenung Modal Menulis
Kebiasaan
tulis-menulis tak selamanya hadir tanpa sebab. Melainakn harus dibina
secara terus menerus supaya terlatiih. Banyaknya bacaan, seringnya
berdiskusi dan membiasakan diri untuk tetap menulis apa yang kita
rasakan, alami, lihat, tentu akan membuahkan tulisan yang renyah
dibaca. Adakah waktu tepat untuk menuliskan sesuatu?

Menanggapi
kehadiran ide-ide untuk membuat tulisan di malam hari saat orang lain
tertidur lelap. Sukron Abdillah, tukang Bewara Sunan Gunung Djati
menjelaskan ‘Kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa
ini seakan terus-menerus mengidap penyakit "insomnia" di malam hari.’

Bahkan
ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa
siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari
kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco–menulis
adalah sebuah kewajiban moral, kilahnya.

Lebih berapiapi lagi Ia
menuturkan ‘Tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak
akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya
sesuatu yang “absurd”.’

Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku
katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah
tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan.
Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak
menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.

Memang menulis tidak muncul dalam kesendirian, tapi selalu terkait dengan budaya membaca, diskusi dan merenung.

Sejatinya
kebiasaan menulis tak perlu diembel-embeli dengan perasaan takut tak
dibaca atau di terbitkan. Pramoedya Ananta Toer mempunyai strategi jitu
dalam menepis anggapan ini “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut
tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis
dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”

Tentunya, menulis
merupakan pertanda orang-orang beradab. Lihat saja jargon dalam dunia
Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) ‘Sebagaimana
bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan
membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange
distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen
ma from barbarian).

Mencoba mengikuti orang-orang berakhlak mulia, maka tak ada car alain selain menulis, menulis dan menulis. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi, 1/03/08;00.34 wib

Ayat (10)


Written on March 3, 2008 – 10:41 am | by ghifarie
Pimred HOKI Bertandang Ke Sunan Gunung Djati
Oleh Ibn Ghifarie

Pasca Seminar di Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema ‘Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media’

Pimred
HOKI, Wilson Lalengke sempat mengnjungi Sunan Gunung Djati Komunitas
Blogger UIN SGD Bandung. Sekitar 7 orang (Dian, Ibnu, Hikmat, Didin,
Oki, Wanddi, satu perempuan) berkumpul di Sekretariat ISR@C (Institute
Religion and Cultur) Jl A. H Nasution No 34 Cibiru Bandung 40416.

Kendati
hujan terus menguyur Kota Kembang pasca shalat jum’at itu, namun
antusias warga Sunan Gunung Djati untuk bertemu sekaligus
bincang-bincang dengan Pimred HOKI sangat kuat.

Pertemuan ini
terkatit dengan keberadaan HOKI di Bandung, yang telah mengukuhkan Ibn
Ghifarie, sebagai ‘Citizen Reporter of the Month February 2008’

Saat
ditanya asal-muasal HOKI, ia menuturkan ‘Kurangnya media yang bisa
memuat tulisan dari wartawan dan karyawan satu Harian Umum, diharapkan
HOKI menjadi media alternative.’

Derasnya arus informasi dan
memasarakatnya ‘Citizen Reporter’ dikalangan masyarakat ‘Tidak menutup
kemungkinan warga biasa dapat mengirimkan tulisanya. Maka layanan yang
kami hadirkan ruang ‘Daptar Jadi Penulis’.’

Semuanya bisa
ditulis dan dikirimkan ke Redaksi HOKI. Tentu yang tidak berbau Sara,
porno dan mengdiskriditkan kelompok yang lain, paparnya.

Dalam
obrolan terakhirnya, Ia memberikan pesan ‘Beras harapan saya bila
kawan-kawan yang hadir dalam pertemuan ini bisa terus mensosialisasikan
dan menjadi penulis tetap di HOKI. [Ibn Ghifarie, Wandi]

Cag Rampes, Pokok Bumi Abdi, 29/02/08; 18.45 wib

Ayat (9)


Written on March 3, 2008 – 10:40 am | by ghifarie
Anak Muda Bandung Masih Kreatif dan Mandiri
Oleh Ibn Ghifarie

Sepekan
pascatragedi muski cadas di Asia Africa Culture Center (AACC), sabtu
(9/2) sebagian masyarakat ikut prihatin sekaligus membuat aksi
solidaritas komunitas underground.

Salah satunya yang dikalukan
oleh Nandi panitia pelaksana peluncuran album baside itu, Ia melakukan
pembacaan puisi ‘…..Selamat jalan kawan pahlawanku/haruskah pengorbanan
11 orang itu kita sia-siakan?

Kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap komunitas musik bawahtanah, harapnya.

Acara
yang serupa juga hadir dari komunitas underground yang di kawaki oleh
Gustar ‘Kita harus mengambil pelajaran atas kejadian itu dan lebih baik
dalam memahami pelbagai musik, katanya.

Nah, untuk mengenang
dan memberiakan dukungan kita kepada komunitas musik cadas lainya ,
kita akan menggelar Dialog Publik dan tabur bunga pada hari sabtu
(23/02) sebagai bentuk kerprihatinan kita terhadap korban dan
memberikan bantuan alakadrnya kepada mereka, jelasnya seperti yang
dilansir oleh STV dalam program ‘Kabayan Nyentrik’, selasa (19/02)

Kegiatan
Kabayan yang dipandu oleh Tisna Senjaya ini mencoba menelisik tentang
kemandirian dan kreativitas aliran ini, Layana pentolan musik cadas dan
pemilik Distro menuturkan ‘Indrustri kreatif tak tadi tak pernah ada
campur tangan pemerintah, bahkan tak pernah diperhatikan.

Memang tak dapat bantuan dari penguasa. Istilahnya harus usaha sendiri, ungkapnya.

Sudahlah
jangan saling menyalahkan. Toh, setelah ada korban baru pemerintah mau
menanggapi. ‘Kreatifitas tak bisa dibungkam’. Mestinya kan tidak
seperti itu dan gedung tempat berekspresi musik menjadi satu keharusan
untuk mencegah korban lain berjatuhan, tambahnya

Maraknya
Distro, label rekaman Indi, hingga ke penjuru Nusantara ini petanda
anak muda Bandung masih kreatif dan mandiri, kata Tisna dalam menutup
program Kabayan Nyentrin tersebut. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/02/08;18.45 wib

Ayat (8)


Written on March 3, 2008 – 10:39 am | by ghifarie
Hari Pertama Kuliah; Semangat Baru
Oleh Ibn Ghifarie

Tak
seperti biasanya, lingkungan kampus UIN SGD Bandung dipadati
orang-orang. Pasalnya, beberapa pekan civitas akademika tak tampak.
Suasana sepi pun menyelimuti kemegahan bangunan Universitas.

Semula
hanya ada para aktivias yang tengah mempersiapkan kegiatanya di Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Teater Awal—mempersiapkan pementasan
di Rumentang, sabtu (16/02) LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu
Keislaman)—persiapan Ta’aruf Generasi Baru (TGB) di penghujung Februari.

Kini,
memasuki hari pertama kuliah di semester genap orang-orang pada kumpul
di Fakultasnya masing-masing, ruang belajar mengajar, DPR (Di bawah
pohon Rindang), pelataran mesjid Iqomah, sekitar gedung Student Center
(SC).

Tentu mengisahkan sederetan cerita, keluh-kesah dan
motivasi saat pertama kuliah lagi. Salah satunya, Iim mahasiswa Adab
menuturkan ‘Asyik masuk kuliah di semester baru. Semanagt dan nuansa
baru harus menjadi modal untuk meraih kebahagiaan’

Ya paling tidak, biar lebih baik lagi nilai yang saya dapatkan dari semester sebelumnya, tambahnya.

Aduh belum apa-apa sudah belajar dan dikasih tugas lagi, cetus Asep aktivis pergerakan.

Padahal
biasanya tak seperti itu. ‘Ya ngaret dikit gitulah. Baru sesudah
seminggu proses belajar mengajat dimulai. Ini tidak lagi’, keluhnya.

Pemandangan
serupa pun terjadi di ruangan eks pasca sarjana. Pasalnya, mahasiswa
tingkat empat tengah mencari penempatan sekaligus lokasi KKN (Kuliah
Kerja Nyata) yang dipusatkan di daerah Kota dan Kabupaten Bandung dari
tanggal 27 Februari-28 Maret 2008.

Geliat mahasiswa juga mulai
menampakan dirinya. Kala ditanya soal persiapan apa yang dibawa dalam
program pengamdian masyarakat itu ‘Ah..nyantai waelah. Pan urang ge pernah PLJK (Peraktek Lapangan Kejamiyahan) baheula. Waktu sakola di Pasantrent [Ah..nyantai saja. Kan saya juga pernah PLKJ dulu. Waktu masih sekolah di Pesantren].

Jadi
teu kudu riweuh sagala. Anguran mah nyiapkeun mental jeung duit. Pan
sok loba nyiuen kagiatan ceuk anu pernah KKN oge. Otomatis saku kudu
rada munel
[Jadi ga mesti ribet segala. Yang mesti kita
persaapkan dari segi mental dan keuangan. Kan suka banyak kegiatan kata
orang-orang yang pernah KKN juga. Otomatis uang harus banyak], ungkap
peserta KKN. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/02/08;21.46 wib

Ayat (7)


Written on March 3, 2008 – 10:37 am | by ghifarie
Layanan Blogger di Harian Umum Syndrom atau Trend?
Oleh Ibn Ghifarie

Kehadiran
Blog menjadi media alternative dalam mengekspresikan apa yang dilihat,
didengar, dirasakan dan dialami. Memang sangat menyenangkan.

Betapak
tidak, Harian Umum (HU) tengah menyediakan layanan blogger. Linhat
saja, HU Tempo, Kompas, Suara Merdeka untuk kalangan nasional dan
Tribun Jabar dalam ruang lingkup Bandung.

Semula
webblog hanya digandrungi oleh pengiat dan pemerhati blog yang membuat
komunitas tertentu. Kini, media cetak pun ikut menumbuh kembangkan
media online ini.

Namun, marakya kolom blogger di Koran membuat
Fardi salah seorang pengurus LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)
Bandung angkat bicara ‘Wah…jangan-jangan maraknya layanan blog di Koran
itu merupakan trend semata.’

Ya orang-orang lagi gila dengan dunia ngeblog. Baru media cetak pun ikut-ikutan nampilin blog. Benerkan? Jelasnya.

Hal
senada juga diamini oleh seorang aktivis mahasiswa yang enggan
disebutkan namanya ‘Ya itu kan syndrom saja. Lagian komunitas blogger
masih elit jika dibandingkan dengan kelompok gerakan petani yang sampai
ke gress root’.

Apalagi dengan adanya layanan di Harian Umum, cetusnya.

Nah,
bila anggapan yang melekat pada sebagian masyarakat terdapatnya ruang
blog di HU hanya syndrome dan trend belaka, maka kira-kira menurut para
blogger mania gimana? [Ibn Ghifarie]

Ayo Ngeblog, Ayo Ngement Juga!!

Cag Rampes, Pojok Sekere Kere, 15/02/08; 21.12 wib   

Ayat (6)


Written on March 3, 2008 – 10:36 am | by ghifarie
Scumbag Pendobrak Ujungberung Rebels dan Penulis ‘Yang Tertunda’
Oleh Ibn Ghifarie

Terkuaknya,
11 orang tewas mengenaskan saat peluncuran album ‘Baside’ di Asia
Africa Culture Center (AACC), sabtu (9/2) membuat komunitas underground
jadi bulan-bulanan.
Betapak tidak, angka kematian itu cukup pantastis.

Apalagi
menginat keberadaan musik bawahtanah sarat akan Stigma negative.
Alih-alih musik cadas yang diusung, dan lantas dikaitkan dengan
narkoba, alkohol, serta kekerasan. Benarkah begitu?

"Underground"
adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak
dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan,
mana yang menerangkan.

Ya, underground tentunya tak lepas dari
peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca:
pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar
bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif
di Bandung sekitar 14 tahun silam. (Pikiran Rakyat, 12/02)

Ujungberung Rebels
Namun,
rasanya tak berlebihan jika membicarakan aliran bawahtanah tak
menyebut-nyebut ujungberung. Pasalnya, daerah Bandung Timur itu
merupakan gudangnya musisi aliran metal.
Tengoklah, dari 10 band
independen di Indonesia yang tercatat majalah Hai tahun 1995, tiga di
antaranya berasal dari Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad,
dan Sacrilegious. Label dan perusahaan rekaman yang mereka kibarkan
adalah Palapa Records.

Kendati tak jelas, kata Kimung, kapan
rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming heavy metal di
Indonesia pertengahan tahun 1980-an, Ujungberung tak ketinggalan tren
ini. Dalam kondisi yang sangat terbatas, beberapa gelintir kaum muda
Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu band rock favorit
mereka.

Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang
Bey (kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal.
Pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, mereka memainkan lagu rock
semacam Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden selain
menciptakan lagu sendiri. (PR, 13/02)

Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan
Pun
menyoal Ujungberung Labels tak pas bila tidak menyebut-nyebut Ivan
Firmansyah. Walau sudah dulu meninggalkan kita, 27 Juli 2007 silam
akibat penyakit akut yang dideritanya bebarapa tahun silam. Pemakan
Dangder jadi tempat peristiarahatan terakhirnya.

Ivan
Firmansyah, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan adalah pionir
pendobrak Ujungberung Rabels. Bersama bandnya, Burgerkill, ia membuat
terobosan-terobosan besar yang lalu semakin mengangkat dinamika musik
independent ke tataran yang lebih tiinggi dan fenomenal. Yang kemudian
menjadi sangat personal, dengan segala pencapaianya, ivan tak lantas
berubah menjadi sosok yang lain. Ia tetep dengan segala kerendahan
hatinya, membumi bersama rereka yang mengusungnya.

Ia terlahir
dari pasangan Aam Rusyana Suhandi-Dedeh Herawati di Klinik Bersalin
Bidan Emma Fatimah, Jl Gegerkalong Hilir ke kediamnya di Jl Sarijadi
59/177 D. Pada tanggal 17 April 1978.

Masa kecil Ivan di besar
dalam pola asuh permisif, yang membesarkanya dan melakukan apa saja
tanpa kontrol yang jelas. Kurangnya perhatian itu dibarengi dengan
jarangnya mendapatkan ‘kasih-sayang lebih’ dari keluarganya.

Meninjak
remaja, ia acap kali berpindah asuhan. Sejatinya, figur keluarga
sebagai kontol dirinya cenderung semakin pudar. Pola pikirnya selalu
berubah. Tentu, sesuai dengan pola pembinaan yang didapat dari sang
empunya. Dalam urusan nilai dan norma sangat berat.

Perkenalanya
dengan Beby, penabuh drum Beside kala itu memikat hatinya untuk bermain
musik. Kendati darah seninya telah mengalir dari Ayahnya, karena memang
seorang seniman handal.

Semenjak itulah Ia kerap menghabiskan
waktunya bermain musik ria. Aliran Bawahtanah menjadi gendre yang
diusungnya kelak. Burgerkil jadi pelabuhan sekaligus muara dalam
mengekpresikan kegelisahan, kecambuk hatinya saat mengeja persoalan
yang dihadapinya.

Namun, ada yang unik dari Scumbag ini. Meski
seorang pentolan kelompok Metal yang sarat pengguna dzat adiktif, tapi
dalam urusan ibadah tak mau ketinggalan. Misalnya saat puasa di bulan
ramadhan Ia selalu menasihati kawan-kawanya untuk teta[ shaum dan
shalat. Lantunan adzan dari kejauhan terdengar agak sayup-sayup
mengisaratkan pertemuan Abid dengan Sang Kholik

Aing kan geus mabok van! Sengit Bebi protes
Eh..!! mabok mah mabok. Tapi nu lima waktu kudu jalan terus, ivan menjawab tak kalah sengit.

Inilah
percakapan yang mengasikan. Diakui atau tidak masa kecilnya yang
dipenuhi dengan bimbingan keagamaan yang kuat membuat Ia tetap
mempertahankan rutinitas ibadah. Keaktif di Ikatan Remaja Mesjid
Membangun Daerah (Remamuda) Al-Hidayah; Ikatan Remaja Nurul Islam
(IRNI); Ketua Ikatan Remaja Mesjid Sekolah Menengah Pertama (SMP) 12
Bandung. Melengkapi keimananya.

‘Penulis Yang Tertunda’
Satu
hal lagi yang tak kalah menarik darinya, keinginya untuk menulis
terpatri dalam coretan dinding kamar WC Rony salah satu kawan karibnya
dan buku harianya.

Ikhtiar sekaligus mengikuti orang beradab
dalam menulis terus mengebu-gebu bak api, manakala Ia mendapatkan
tawaran membuat ilustrasi untuk buku ‘Tiga Angka Enam’ karya Addy
Gembel (Forgoten) dari Minor Books yang dikomandoi oleh Kimung.

Mung urang oge loba tutulisan euy, bisa teu diterbitkeun kumaneh, cetusnya
Sarua
jeung si Addy sih. Carita-carita tentang lirik si be-Ka lolobanamah,
tapi siganamah teu siga si Addy. Urang teu bisa nyiuen siga kieu mah,
kata ivan sambil menggenggam naskah

Wah lamun carita-carita
tentang lirik si Be-Ka jigana bisa jadi biografi si Be-Ka nyet sok loba
geningan dina buku lirik-lirik the beatles, lagu taxman misalna, iraha
ditulisna, nunulisna saha, nyaritakeun naon, kritik dibalik lagu naon,
kondisi band pas nyiun lagu eta jiga kumaha, kondisi masyarakat, naha
lagu ditulis, jeung sajabana. Menarik sih nyet. Mung jiga kitu,
antusian Kimung panjang lebar.

Heueuh nya eta ku urang oge sarua
kapikiran kitu. Malah biogapi si Be-Ka mah urang haying nulsi misah
deui, ivan menangapi tak kalah antusias.

Enya sok atuh kari tuliskeun!
Bisa aing nulis. Hehehe! Enya eta, urang the teu bisa nuliskeuna, euy. Kumaha mun urang anu ngomong, maneh anu nulis.

Wah
hese atuh euy. Tuliskeun mah tuliskeun wae. Kajeun ku urang diedit.
Manehmah nulis hajar-hajar weh tong sieun salah tinggal si Gembel oge
rea pisan salahna, salah ketik, salah struktur kalimat, cuek weh! Kan
aya editor, kilahnya

Heueuhlah ku urang dicobaan heula dituliskeun. Ngke lamu urang butuh bantuan omat bantuan urang, harapanya.

Keterlibatanya
dalam dunia tarik suara tak bisa diragukan lagi. Band Burgerkill tak
bisa dipisahkan darinya lasmana dua sisi mata uang. Kegigihanya dalam
berdendang menorehkan beberapa karya monumental. Hingga kini terkenang
dalam ingatan pecinta musik underground, diantaranya; “DUA SISI” MC
Album, Riotic Records, (2000), “BERKARAT” MC & CD Album, Sony Music
Ent. Indonesia, (2003), “DUA SISI REPACKED” MC & CD Album, Sony
Music Ent. Indonesia, (2005), “BEYOND COMA AND DESPAIR” MC & CD
Album, Revolt! Records, (2006)

Beberapa penghargaan pun telah diraihnya; Nominator “Band Independent Terbaik” versi majalah NEWSMUSIK Indonesia, (2000),

Exclusive
1 year Endorsement “PUMA Sports Apparel” USA, (2001), Exclusive 2 year
Endorsement “INSIGHT Clothing” Australia, (2002),

Award “Best
Metal Production” (“Berkarat”, Sony Music Ent.), AMI AWARDS, (2004),
Salah satu Album Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi
majalah RIPPLE Indonesia, (2006), 20 Album Indonesia Terbaik (“Beyond
Coma…”, Revolt! Records) versi majalah ROLLING STONE Indonesia, (2006),
Original Soundtrack “Hantu Jeruk Purut” Movie, Indika Film, (2006),
Original Soundtrack “Malam Jum'at Kliwon” Movie, Indika Film, (2007).

Di
tengah-tengat derasnya arus pelabelan dan mudahnya menjadi seleb
mendadak. Scumbag bareng Burgerkill saat teken kontrak selama 6 album
dengan Sony Music, malah rela meninggalkan produksi recor ternama itu
dan kembali ke Indi.

Keputusan inilah yang menjadi decak kagum,
Gustaff H Iskandar, Seniman bekerja untuk Bandung Center For New Media
Arts Common Room Networks Foundation di prolog buku Based On True Story
My Self Scumbag (Beyond Life And Death) (2007;365)
 
Namun
keterbatasan inilah yang justru malah membina mereka menjadi
musisi-musisi yang konsisten diranah idealisme yang tinggi.
Terkondisikan oleh gesekan-gesekan dari lingkungan sekitar, membuat
mental musisi-musisi Ujungberung menjadi kuat. Ini terbukti hingga
sekarang mereka tetap konsisten memainkan musik yang mereka sukai,
tidak terpancing oleh arus trend yang global. Justru merekalah yang
kemudian menciptakan trend di kalangan musisi underground Bandung,
Bahkan Indonesia.

Dengan demikian, kiranya kita menghargai
sekaligus mendukung tumbuh berkembangya pelbagai aliran musik di
Indonesia sebagai khazanah kebudayaan yang tak ternilai harganya. Sebab
peradaban suatu bangsa terlihat dari seberapa jauh kita menghargai
karya budaya anak negeri. Semoga. [Ibn Ghifarie, Mahasiswa
Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan Pemerhati musik
bawahtanah
]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 12/02/08;22.39 wib dan 13/02/08;16.57 wib

Ayat (5)


Written on March 3, 2008 – 10:35 am | by ghifarie
UIN Bandung di Belantara Dunia Maya
Oleh Ibn Ghifarie

Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung merupakan
Universitas Negeri yang berbasiskan keislaman dalam bingkai ‘Wahyu
Memandu Ilmu’.

Perguruan Tinggi Islam ini terletak di pinggiran Bandung Timur. Letaknya berada di Jalan A. H Nasution No 105 Bandung 40416.

Namun, saat kita menjelajahi jendela dunia cyber. Kita menemuka posisi yang sangat mengejutkan sekaligus mengecewakan.

Betapak tidak, berdasarkan google saat kita mengklik UIN. Kampus IAIN SGD Bandung berada di posisi Ketiga; Pertama UIN Jakarta yang di ketuai oleh Prof Dr Komarudin Hidayat. Kedua UIN Jogjakarta yang di komandoi oleh Prof Dr H M Amin Abdullah. Ketiga, UIN Bandung yang di pimpin oleh Prof Dr H Nanat Fatah Natsir.

Tak hanya itu, kala kita mencari Forum Diskusi lebih mengecewakan lagi. UIN Bandung menduduki urutan keduabelas. Padahal Bedah Wacana merupakan komunitas diskusi cyber Civitas Akademika.

Kendati sedikit berbangngga. Pasalnya ruang diskusi untuk kalangan UIN. Bandung berada di peringkat pertama.

Begitupun dalam urusan Blogger.Sunan Gunung Djati adalah komunitas Blogger UIN SGD Bandung mendapatkan posisi top

Inilah
sekelumit kisah Keluarga Besar UIN SGD Bandung (Website, Forum Diskusi
dan Blog) di belantara dunia maya. Semoga bermanfaat. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Ngeheng Komputer, 18/02/08;21.23 wib

Ayat (4)


Written on March 3, 2008 – 10:34 am | by ghifarie
Blog Bicara, Ada Gitu?
Oleh Ibn Ghifarie

Pernah dengar blog yang bisa bicara? Ga mungkin kali.!!!

Kalau
yang ngomongin blog banyak. Apalagi yang mengelola blognya seorang
seleb. Tentu dapat dipastikan pengunjung dan yang memberi komentar juga
membludak. Benerkan ?

Konon, Blog bicara
merupakan review blog sekaligus mengajak pemilik blog untuk bercerita
tentang blognya dan juga mengajak orang lain untuk bercerita atau
mengomentari tentang blog tersebut, harap JaF

Menanggapi
apa yang dibicarakanya Ia menjelaskan Blog Bicara bercerita tentang
dirinya, sejarahnya, posting-postingnya, tanggapan
pengunjung-pengunjungnya. ‘Pokoknya semua tentang dirinya, dan
diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi orang lain yang ingin ngeblog,
sesuai dengan misi Ayongeblog’

Program ini tidak serta merta hadir, tapi merupakan pengganti acara Pranala.
Nah, kali ini Kali ini kami ingin menghadirkan acara yang sepenuhnya
didedikasikan kepada dunia blog dimana kami mengajak pemilik blog untuk
bercerita tentang blognya dan juga mengajak orang lain untuk bercerita
atau mengomentari tentang blog tersebut. Mau disebut acara ulasan blog
boleh, review blog juga bisa, tapi kami memilih untuk menyebutnya Blog Bicara.

Acara Blog Bicara hadir setiap hari Rabu pukul 20:35 WIB di Radio Singapura Internasional dan dipandu oleh Fika Rosemarie.

Menyoal
bagaimana cara kita supaya mendengarkan program ngeblog ini, masih
menurut JaF menguraikan; Pertama, Melalui Radio SW atau gelombang
pendek di frekuensi 6120 KHZ (49 MB) atau 7235 KHz (41 MB). Kedua,
Melalui siaran Streaming di internet. Caranya klik saja ke
www.rsi.sg/indonesian, lalu klik PLAY di bagian siaran live. Ketiga,
Melalui Satelit di AsiaSat 3S, Posisi 105.5 Derajat, Frekuensi 3706
MHz. keempat, Melalui Podcasting atau mendownloadnya dalam format MP3
melalui situswww.rsi.sg/indonesian (klik Podcasting di bagian tengah,
lalu pilih edisi Blog Bicara.).

Hmm…setelah mendengarkan uraian singkat dari JaF. Masa ga mau lagi percaya soal Blog Bicara. Pasti keterlaluan dech…!!

So..silahkan
klik program acara tersebut. Bila ada, maka langsung ikut nimbrung dan
ngomentari kegiatan itu. Dijamin bermanfaat. Ok

Ayo Ngeblog, Ayo Ngoment Juga!! [[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 14/02/08;22.04 wib

Ayat (3)


Written on March 3, 2008 – 10:33 am | by ghifarie
Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah
Oleh  Ibn Ghifarie

Apa
yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba?
Aksikah, demokah, turun kejalan sambil meneriakan yel-yel, mengerumuni
sekaligus merusak pusat pelataran seks, mengucapkan ‘Selamat Hari
Valentine’, ataukah diam seribu bahasa.

Bila pertanyan itu
dialamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya. Terlebih lagi,
melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentne. Namun, akan
sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur lara di
tengah-tengah kepenatan rutinitas pasca bencana. Pasalnya momen ini
merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu.

Mereka
berusaha ingin membagi kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa)
dalam bingkai cinta kasih. Meski terkadang disalah-artikan. Hingga
nyaris menuai protes dari golongan tertentu. Alih-alih mengikuti
tradisi barat dan tak sesuai dengan budaya timur pun menjadi alasan
mereka untuk berbuat semaunya. Konon, memasuki awal abad keempat
sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa mengadakan pesta bagi Dewa
Lupercalia (Lupercus).

Perhelatan akbar itu, dilaksanakan pada
pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin
burung. Perayaan hajatan Lupercalia itu, dianggap belum berhasil
manakala setiap laki-laki atau perempuan belum mendapatkan pasangan
masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi digelar dengan cara setiap
gadis harus menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan
ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya. Para pemuda yang hadir diwajibkan
mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Walhasil, wanoja
yang terpilih akan menjadi pasangan jajaka tersebut, hingga berujung
pada kegiatan Lupercalia tahun depan.

Namun, seiring waktu
sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma. Kehadiran acara
perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau telah berlangsung
cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat sekaligus menjadi
bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala itu. Pasalnya,
pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen, bahkan
termasuk golongan kafir. Lagi-lagi setiap keadaan selalu hadir juru
penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih lagi, pada saat Kaisar Roma berada
dalam genggaman Claudius II.

Ia memberlakukan peraturan yang
melarang orang-orang untuk menikah. Tiba-tiba, seorang uskup dari
Interamma bernama Valentine (270 M) berani memulai kembali kebiasaan
tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi
Lupercalian sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine
mengumpukan kaum muda-mudi yang saling ‘silang rasa’ supaya dapat
dinikahkan secara masal.

Di lain sisi, aktivitas Valentine itu
sudah tercium oleh Kaisar. Sampai-sampai Ia murka terhadap sang Uskup.
Alhasil, hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang
tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula
harus beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggan melaksanakan
perintah penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya. Kematian pun
menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia,
1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem,
lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga
nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.

Namun, berkat
keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir
Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata
seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil
bertajuk ‘From Your Valentine’. Semenjak itulah, ungkapan-ungkapan
Valentine menjadi simbol hari kasih sayang. Hal ini terlihat dari
Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada kaitan langsung
dengan St. Valentine.

Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang
St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di
Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya
dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica,
Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998, Sinar Harapan
10/02/2003). Secara bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti
: `Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”.

Kata
ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi.
(www.korrnet.org) Maraknya aksi prostitusi berkedok panti pijat dan
menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat hubungan di luar nikah
serta tak diterima kembali di keluarganya membuat sebagian muda-mudi
lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamouran pesta tersebut.

Nyatanya,
kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab
bisa berakibat fatal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak
diinginkan. Ambil contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS.
Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari
Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan
erotis,” tutur dr Andik.

Ini bukan omong kosong lho. Salah satu
faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah
makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat?
Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine
atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.

Bukti
lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14
Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari
impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih
parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week
(pekan kondom nasional).

“Maksudnya, kampanye nasional
penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti
peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai
33,3 persen,” imbuh dr. Andik. (www.dudung.net) Padahal, bangsa
Indonesia sedang dirundung malang pelbagai musibah dengan silih
berganti dan saling susul menyusul bencana.

Gundukan sampah pun
pasca musibah kembali meminta perhatian kita. Karena pengekspersian
kasih sayang tak selamanya harus berpesta pora. Atau sekedar
tukar-menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan, kaset/CD dan
hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.

Disadari atau tidak,
perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang
Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan
kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang sampah pada tempatnya dan
membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk dalam bingkai kasih sayang
pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;13.44 wib

Ayat (2)


Written on February 10, 2008 – 9:33 am | by ghifarie
Imlek dan Solidaritas Antarumat Beragama
Oleh Ibn Ghifarie

Pasca
di cabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala
aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor
477/74054/BA.01.2/4683/95 oleh Presiden Abdurrahman Wahid membuat
komunitas Tionghoa Indonesia sedikit lega.

Betapak tidak,
setelah hampir 32 tahun silam golongan non-pribumi ini tak bisa hidup
bebas di Bumi Pertiwi. Kini, geliat kebangkitan masyarakat keturunan
China pun mulai kelihatan lagi. Terlihat dari maraknya perayaan
kalender China, mulai dari Imlek, pergelaran barongsay di halayak
banyak, hingga Peringatan 600 Tahun Pelayaran Cheng Ho Ke Semarang,
Mengenang Sang Raja Laut (2005).

Chang Ho; Risalah Ajaran Islam
Padahal,
keberadaan mereka sangat jelas memberikan andil begitu besar terhadap
kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya, bagi penududuk Indonesia
yang mayoritas beragama islam.

Kehadiran etnis Tionghoa tak bisa
di pisahkan dari sosok Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut muslim yang
tangguh. Awal keberadaan Islam di tanah Jawa pula yak hanya dari Arab
(Mekah) dan India (Gujarat), melaikan bermuara dari Sam Po Kong.
(Slamet Muljana;Jakarta, 1968).

Adalah Laksamana Cheng Ho atau
lebih dikenal dengan sederetan nama-nama; Cheng Ho (Tionghoa
Tradisional:鄭和, Tionghoa Sederhana: 郑和 , Hanyu Pinyin: Zhèng Hé,
Wade-Giles: Cheng Ho; nama asli: 马三宝 Hanyu Pinyin: Ma Sanbao; nama
Arab: Haji Mahmud; Sam Po Kong (1371 - 1435).

Cheng Ho merupakan
seorang kasim muslim, pelaut sekaligus penjelajah China terkenal yang
melakukan beberapa penjelajahan antara tahun 1405-1433 saat kaisar
Tiongkok Yongle (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti
Ming.

Orang nomer satu di Kaisar Yongle memiliki nama aslinya;
Ma He, atau Ma Sanbao (馬 三保), berasal dari provinsi Yunnan, bersuku
Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, tapi beragama
Islam. Kala pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan
dijadikan orang kasim.

Sejatinya kehadiran Hari Raya Imlek
mestinya kita jadikan sebagai momentum evaluasi secara bersama, mulai
dari nilai dinamika keberagamaan [antar, intra] kita, sampai sisitem
pemerintah.
Pasalnya, tanpa kesadaran kolektif dari semua kalangan
masyarakat niscaya sebuatan Nusantara yang toleran, terbuka akan
semakin tenggelam. Beringas, murka akan semakin memperburuk pencitraan
Indonesia di mata Internasional.

Tentunya, saling
hujat-menghujat, bunuh-membunuh, kafir-mengkafirkan, hingga merusak
tempat ibadah agama apa pula akn lebih semarak sekaligus membabi buta.
Mengerikan memang.

Solidaritas Antarumat Beragama
Agama
boleh berbeda-beda. Namun, pada dasarnya semua agama mengajarkan
kebajikan dan perdamaian. Dalam agama islam dan Kong Hu Cu misalnya,
terdapat banyak ajaran dasar mengenai kebajikan dan kedamaian. Hanya
pengungkakannya yang berbeda.

Islam sendiri sudah bermakna salam
(damai). Agama Konfusius senantiasa menyerukan sepuluh iman menjunjung
Kebajikan (Cheng Juen Jie De) di bumi.

Bandingkan pula doktrin
rahmatan lil alamin dalm islam dan Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang); Ren
(Cintakasih), Yi (Kebenaran/Keadilan/Kewajiban), Li (Kesusilaan,
Kepantasan), Zhi (Bijaksana), Xin (Dapat dipercaya) dan Delapan
Kebajikan (Ba De); Xiao (Laku Bakti), Ti (Rendah Hati), Zhong (Satya),
Xin (Dapat Dipercaya), Li (Susila), Yi (Bijaksana), Lian (Suci Hati),
Chi (Tahu Malu).

Di tengah-tengan keterpurukan bangsa dan
konflik antar ras, suku dan agama kian menggebu-gebu. Tengoklah, hasil
survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang "Toleransi Sosial
Masyarakat Indonesia" yang dilaksanakan di 33 provinsi dengan 1.200
responden, menunjukkan tingkat toleransi antarumat beragama di negeri
ini cukup rendah. Sebanyak 42,3% responden menyatakan keberatan jika
penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di lingkungannya. Hanya
38,1% saja yang tidak merasa keberatan. (detik.com, 7 Agustus 2006)
Jejak
pendapat ini menunjukkan penghargaan masyarakat terhadap keberagamaan
orang lain yang berbeda keyakinan dengan mereka masih tergolong amat
rendah. Jika dikataakn tidak sama sekali.

Tentunya, pelbagai
konflik pun sarat kepentingan ‘pemuka agama’. Hal ini menunjukan
keterbukaan memang menjadi barang mahal ongkosnya. Belum lagi, kemelut
yang menimpa satu agama menjadi perlengkap jarangnya dialog antar umat
beragama. Semuanya memang mengerikan. Seakan-akan kehidupan beragama di
negeri ini tak ramah lagi.

Belajar Dari Klenteng
Menilik
ketidakharmonisan antar umat beragama. Mestinya kita menengok kembali
terhadap Klenteng guna membangun solidaritas. Pasalnya, tempat ibadah
itu memberikan kepada kita tentang keterbukaan, toleransi, dan
keragaman.

Lihatlah, saat praktik ibadah. Pemeluk keturunan
Tionghoa; agama Budha, Kong Ho Cu, Tao bisa bergandeng tanga di
Kelenteng Tri Dharma. Satu atap lagi. Sungguh indah sekaligus syahdu.
Seakan-akan perbedaan menjadi modal dasar dalam membangun kehidupan
yang lebih bae lagi. (www.islamlib.com)

Kiranya, petuah ‘Perbedaan adalah rahmat’—ajaran islam pun telah diperaktikan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Beriringan
Tahun Baru Masehi, Hijriah dan Imlek tak membuat kerukunan antar umat
berkeyakinan semakin membaik. Malah saling mengecam satu kelompok agama
dengan yang lainya. Hingga menyebabkan bentrikan dan berujung kepada
kematian.

Nah, Bila memang perilaku ini yang terjadi dimanakah
petuah Rasulullah Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan
membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim).
Jangankan untuk membunuh, saling caci-maki se-agama, atau antar beda keyakinan tak diperbolehkan.

Dengan
demikian, sikap keterbukaan, toleransi dan menghargai keragaman menjadi
modal utama dalam membangun solidaritas antarumat beragama. Apalagi
saat menyambut datangnya Hari Raya Imlek [1 Imlek 2559]. Gong Xi Fa Cai
….!!. Semoga.

*Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan beragama.

[Pernah dimuat di Kompas Jabar, edisi 02 Februari 2008]