Catatan (10)
Written on October 9, 2006 – 5:28 pm | by ghifarie
Belajar Toleransi Dari Kelenteng Kenapa Mesti Malu?
Oleh Ibn Ghifarie
Ibarat
pepatah gurun berujar ‘lihatlah apa yang di katakanya, tapi jangan
lihat siapa yang berkata. Kata ini mesti kita simak baik-baik. Pasalnya
ungkapan ini memberikan kita makna lihatlah apa yang telah di perbuat
seseorang, tapi jangan melihat siapa yang berujarnya.
Begitupun
dalam hal belajar toleransi, mestinya kita belajar dari agama lain
dalam bidang kerukunan supaya hidup kita aman, damai, sentosa. Sudah
tentu semuanya taat dan patuh terhadap aturanya guna menghargai segala
perbedaan yang ada di masyarakat.
Lagi-lagi kita jangan
merasa minder berguru dari rumah ibadah kelenteng. Kita ketahui setiap
tempat ibadah itu selalu dipakai ritual agama budha, tao, kong hucu.
Bila kita tak mau becermin pada mereka berarti kita mengiingkan pesan
Rasul untuk selalu belajar kepada siapapun. walaupun harus ke negeri
china (shin)
- Ibn Ghifarie, Jl, Darussalam No 470 Pasar Lama Bung Bulang Garut 44164, 01/09/2006 23:09
Disadur dari JIL http://islamlib.com/id/index.php?page=comment&art_id=1109&pageno=1
One Response to “Catatan (10)”
By Candra on Dec 16, 2006 | Reply
Kang Buled…., bisa diperjelas ga maksud dari belajar bertoleransi dari kelenteng? Apakah hanya karena tempat ibadah itu dipakai bersamaan oleh beberapa agama lantas itu yang dimaksud dengan contoh toleransi beragama? Kaitannya dengan kita yang notabene agama Islam apa? Mohon bimbingannya . . . .