Catatan (7)
Written on October 9, 2006 – 5:23 pm | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
peristiwa mengerikan, nanar, hingga nyaris hanyut dalam pangkuat
sejarah ganjil. Betapa tidak, sebagian masyarakat menggugat tentang
kebenaran PKI sebagai biang kerok kejadian tersebut.
Laksamana
september kelabu. Kini, anggapan miring terhadap kaum komunis pun mulai
perlahan-lahan dibantahnya. Seperti yang dilakuakn oleh Imam Soedjono
dalam buku Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, (2006;350) dan ditulis ulang oleh Syahrul Kirom dalam Media Indonesia (03/10)
Menurut
Imam Soedjono, pemberontakan PKI 1926 harus dipahami sebagai bentuk
perlawanan rakyat melawan kolonialisme. Sementara itu, peristiwa Madiun
1948 sebagai pemberontakan dalam mempertahankan diri dari serangan yang
dilancarkan Red Drive Proposal (usulan pembantaian kaum merah) yang
didanai Amerika Serikat (AS) untuk membendung kekuatan komunisme.
Artinya bukan lagi pemberontakan antara PKI dengan pemerintah.
Melainkan perseteruan rakyat jelata dengan penguasa modal.
Lagi,
karena kuatnya pencitraan dan stereotip masyarakat terhadap PKI tetap
buruk. Sejarah PKI yang sering disalahpahami di antaranya peristiwa
pemberontakan PKI 1926, peristiwa Madiun 1948, dan peristiwa G-30-S
serta pembantaian tokoh-tokoh Indonesia.
Tak salah kirannya,
jika kemudian terjadi praktik rekayasa, manipulasi, imajinasi,
penggelapan, pemalsuan, dan penghitaman peristiwa sejarah. Misalnya
melalui buku-buku sejarah, pidato kenegaraan, film, khotbah,
pemberitaan pers, khotbah agama, kemudian dijadikan suatu kebenaran.
Dengan
demikian, upaya penghitaman sejarah komunis merupakan salah satu bentuk
kecelakaan sejarah. Pasalnya, tak selamanya benturan sekaligus nyawa
sebagai imbalanya dalam mempertahankan diri dari cengkaraman penguasa
lalim.
Alih-alih menyelamatkan pancasila dari segala bentuk rong-rongan
paham-paham tak berTuhan (ateis) dan melanggengkan kekuasaan Orde Baru
(OrBa), Soeharto berusaha menutup-nutupi peristiwa sebenarnya, hingga
dalam ranah keilmuan sejarah pun Ia berupaya menyeragamkan para
sejarawan. Sudah tentu, bila mereka tak mau mengikuti selera Bapak
Pembanguna, maka tunggu pembalsanya.
Pertanyaannya, bukankah
ketika terjadi pemasungan secara besar-besaran terhadap ruang
Intelektual. Hal ini merupakan kecelakaan sejarah? Ironis..[Ibn
Ghifarie]
Cag Rampes,Pojok PusInfoKomp,03/10;08.34 wib.