Catatan (8)


Written on October 9, 2006 – 5:26 pm | by ghifarie

Wajah `Bengis` Ramadhan

    

Oleh Ibn Ghifarie

Baru
memesuki hari kedua puasa di bulan Ramadhan ke maha sucian shaum mulai
ternodai oleh pihak tertentu. Betapa tidak, sejumlah pengais rezeki di
Pasuruan terkena razia secara besar-besaran, hingga gerobag dan ruko
para pedagang nyaris rata dengan tanah. Pasalnya mereka melakukan
jual-beli makanan di siang bolong (Metro,25/09).

Alih-alih
penyebaran risalan Tuhan dan penegakan syariat islam dari segala bentuk
penyakit masyarakat, mulai dari perjudian, togel, kupon sampai
penutupan klab-klab malam secara paksa.

Pengrusakan tempat
penjaja makanan itu, dilakukan oleh Satpol PP (Pemuda Pancasila) atas
pengaduan dari masyarakat, ungkap salah seorang petugas Satpol.

Selain
itu, pemberantasan dari penyakit yang dapat meresahkan tersebut berawal
dari surat edaran MUI (Majelis Ulama Indonesia) melalui Perda
(Peraturan Daerah), tambahnya.

Tak hanya di Pasuruan saja,
perbuatan serupa pun terjadi di Tangeranga. Alih-alih menjalankan Perda
tentang penegakan syariat islam, mereka tega melakukan penangkapan
secara serempak terhadap sejumlah `pedangang jalan`yang membuka lapanya
di saat menjalankan ibadah puasa (Trans,25/09).

Lain pedagang,
lain pula Gepeng (Gelandangan dan Pengemis). Mereka di swiping secara
tak manusiawi oleh Satpol PP. Tengok saja, di Purwakarta sejumlah Ajal
(Anak Jalanan) yang sering mangkal di sekira ruas jalan Alun-alun dan
Pemda (Pemerintah Daerah) terkena gerebeg Satpol. Dikarenakan mereka
sudah membuat resah masyarakat dan mengganggu ketertiban serta
keindahan kota tersebut. Apalagi saat bulan Ramadhan tiba (SCTV,25/09).

Konon,
hadirnya bulan BBM (Bulan Barokhah dan Maghfirah) itu merupakan surga
para pengaiz rezeki `kaum pingiran`. Entah itu bagi para Gepeng,
penjaja makanan ataupun PSK (Pekerja Seks Komersial).

Terlebih
lagi saat menjelang lebaran. Biasanya mereka yang berada di daerah
tertinggal menyerbu ibu kota untuk mengadu nasib, ungkap salah satu
pengamat sosial.

Kini, mereka malah mendapatkan bogem dari pihak berwajib dan khitanan keyakianan dari polisi aqidah. Sungguh ironis.

Ternyata
tibanya bulan penuh rakhmat itu, malah menjadi laknat. Karena sebagian
umat islam masih mempunyai anggapan bahwa mereka yang tak menjalankan
puasa harus menghormati mereka. Salah satunya dengan tidak membuka
jualan disaat shaum.

Benarkah kita harus tetap mendapatkan
pujian dari orang-orang non-muslim, karena sedang menjalankan perintah
Tuhan. Atau jangan-jangan kita malah terkena penyakit akut bernama
egois. Artinya kita hanya ingin dihargai orang lain, tapi kita tak mau
mengakui perbedaan yang ada. Bukankah kita selaku orang beriman harus
belajar menghormati mereka yang tak melaksanakan puasa?

Namun,
bila kita tetap mempertahankan tradisi gelepak terhadap mereka yang tak
mengetahi kebiasaan umat islam saat tiba bulan Ramadhan. Lantas
dimanakah pameo Islam sebagai agama rakhmatal lil’alamien dan haruskah
spirit shaum itu tercoreng oleh perbuatan tak terpuji tersebut? [Ibn
Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/09;23.13 wib



Post a Comment