Catatan (8)
Written on October 9, 2006 – 5:25 pm | by ghifarie
Ujian Maha Dahsat Itu Bernama Puasa
published on 23 September 2006 | Berita Universitas–oleh Ibn Ghifarie
A.H
Nasution–Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, Badan Eksekutif
Mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama (BEMJ-PA) KBM (Keluarga Besar
Mahasiswa) UIN SGD Bandung menggelar acara Dialog Lintas Agama (21/09)
bertajuk `Puasa Dalam Perspektif Lintas Agama` di Auditorium UIN SGD
Bandung dengan pembicara; Ida Bagus Ray Adyana (Ketua Bidang Pendidkan
Parisada Kota Bandung; Perwakilan Hindu), Gustiana, P.h.D (Dosen
Fakultas Filsafat dan Theologi; Perwakilan Islam), Bikhu Jagarapanno
(Kepalan Budha Viviasan Graha; Perwakilan Budha), Dra. Wiwik. W
(Pembaca Sidang Jemaat Kristen Science; Perwakilan Kristen) yang
dipandu oleh Eva Nurlatifah (Ketua Bidang Hubungan Antar Agama BEMJ-PA).
Terselengaranya
kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa
Perbandingan Agama yang dimotori oleh BEM-J dalam menyambut bulan penuh
berkah, rahmat, dan ampunan tersebut. Pasalnya sebagian umat Islam
menganggap bahwa tradisi puasa itu hanya milik islam semata. Padahal,
hampir semua agama mempunyai kebiasaan berpuasa.`mudah-mudahan acara
ini dapat menambah wawasan kepada kita dan mempertebal keimanan
kita,`ungkap Abdul Basit selaku ketua Oc.
Menyoal pemahaman
shaum hanya milik muslim semata. Ida Bagus Ray Adyana mengawali dialog
dengan mengurai terlebih dahulu makna Puasa. Semula kata puasa itu
berasal dari sangsekerta yakni Upa (dekat) dan Wasa (kuasa). Tak lain
supaya mensucikan diri dan tetap menjaga moralnya , hingga upaya
mendekatkan diri kepada Tuhannya tercapai.
Kebiasaan itu sejak
dahulu telah diajarkan oleh para Resinya. Berdasarkan pada Darma
Sastra; dosa hukumnya bila tak melakukan amalan baik berupa puasa.
‘Jadi puasa tah hanya di miliki oleh agama islam saja, tapi dalam agama
kami (Hindu-red) pun ada. Malah terdapat dua kategori dalam puasa
tersebut. Yakni pribadi (puasa kelahiran, bulan purnama) dan umum (Hari
Raya Nyepi; api, kerja, hiburan, berpergian),’paparnya.
‘Intinya tradisi puasa itu untuk mensucikan diri, meningkatkan spiritualitas, hingga menyatulah dengan atman,’tambahnya.
‘Puasa
merupakan rangkaian dalam aturan yang mesti dimiliki oleh setiap
umatnya,’ sambil menjelaskan ketetapan umat biasa yang harus
menjalankan pancasila; berusaha tak membunuh makhluk hidup, tak
mencuri, tak melakukan perbuatan asusila, berbicara tak benar dan
berusaha meninggalkan perbuatan yang dapat melemahkan kesadaran dan
pikiran kita ungkap Jagarapanno.
Meski, berbeda aturan tersebut
bagi para Bikhu. Yakni sebanyak 208 dan terdiri dari 8 kategori. Namun
yang terpenting dari pesan puasa adalah terbentuknya kesadaran dan
kejujuran pada dirinya. `Inilah ujian besar buat kita,`jelasnya.
Bagi
Wiwik yang mengurai dari Kitab Perjanjian Lama (bab 5 dan 7)
menjelaskan Daud sering menjalankan puasa, karena melihat saudaranya
yang terluka. Kata-kata dalam berperang (Yunus 4-7) 40 hari Niniwe akan
dihancurkan Allah, maka diserukanlah kepada seluruh umat untuk berpuas.
(Yesaya 58;1-8) engaku harus merdeka dari segala ketertindasa, belenggu
kelaliman. Bila perbuatan itu akrab dan melekat pada biri kita, maka
terangmu merekah bak fajar, tegasnya.
Matius 6-16 berpesan kita
jangan sering melakukan perbuatan munafik, bahkan dalam melakukan
perbuatan baik (puasa) kita jangan sampai terlihat oleh orang lain.
`Namun, yang terpenting dalam melakukan puasa bagaimana cara menahan
diri dari sifat keduniawian. Pengorbanan. Kasihanilah sesame manusia
seperti mengasihi diri sendiri,`katanya.
‘Untuk itu, maka ikutilah segala tindak-tanduk baik Nabi bernama puasa. Pasalnya mereka merupakan suri tauladan kita,’jelasnya.
`Puasa
merupakan berbuatan baik guna mendekatkan diri pada Allah SWT. Umat
isalam harus menjaga dari segala perbuatn makan, minum, menahan
perbuatan zina, mulai dari terbit pajar, hingga terbenamnya
matahari,`kata Gustiana.
`Meski begitu, inti dari pelaksanaan
shaum adalah mengikatnya derajat taqwa kita dihadapan Allah SWT, sambil
mengutif Al-Qur’an (Al-Baqarah;183)
Suasana Dialog Lintas Iman
itu, mendapatkan perhatian lebih dari civitas akademik. Terutama bagi
mahasiswa baru. `Acara ini menarik sekali. Soalnya, membuat aku
bertanya-tanya. Benarkah dalam agama lain kebiasaan puasa itu ada?
Ungkap salah satu mahasiswa baru yang tak mau disebutkan namanya.
Meski
bendapatkan antusias lebih dari kalangan mahasiswa. Namun, sikap awam
dan naif dalam dialog antar agama di kalangan umat Islam tampaknya
masih menggejala. Hal ini tampak dalam sederetan pertanyaan yang
cenderung melakukan “penyerangan” terhadap sistem ajaran non muslim.
Hal ini bisa disimak dari pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kalau memang
dalam setiap agama mengajarkan puasa, tapi mengapa banyak terjadi
konflik antar agama? Merajalelanya perbautan KKN (Korupsi, kolusi dan
nefotisme) di Negara Indonesia? Lantas dimanakah fungsi agama itu?
Apakah dalam agama non muslim terdapat waktu-waktu tertentu dalam
menjalankan perintah tersebut?
Lebih lanjut, pertanyaan bernada
ganjil pun bermunculan; `Bagaimana posisi orang baligh, tapi saat
menjalankan puasa ia mendadak gila dan sembuh satu tahun mendatang.
Apakah ia harus mengkodo atau membayar fidyah? Apakah ada perbedaan
pahala dan dosa bagi para kasta dalam melakukan perbautan puasa
tersebut? Termasuk berdosakah bila para Bikhu melakukan makan setelah
pukul 12 siang?
Lepas dari rantaian pertanyaan klise itu, yang
jelas setiap agama mengajarkan kepada umatnya untuk mengikuti teladan
Rasulnya. Salah satunya dengan melaksanakan puasa. “Mudah-mudahan acara
ini dapat menambah wawasan dan membuka cakrawala kita tentang kajian
keagamaan, terutama selaku insan akademik dan insan agama. Tentunya
supaya dapat menumbuhkan rasa toleransi yang tinggi pada pelbagai
perbedaan dan mempererat tali silaturrahmi antar iman” kata Abdul Basit.
Husni
Mubarak, Presma BEMJ PA menjelaskan bahwa “hajatan” ini merupakan
Program kerja BEMJ dan guna membangun visi intelektual muslim yang
beriman dan bertakwa, tanpa menghilangkan bahkan menapikan keragaman
dalam beragama. Terlebih lagi guna merajut kembali tapi persaudaraan
lintas agama yang sempat bercerai-berai. Apalagi sebentar lagi bulan
Ramadhan tiba. Karena Shaum mengajarkan kita untuk tetap selalu menjali
persaudaraan antar sesama manusia, tagasnya.
Senada dengan
Basit, Casram, Sekjur PA, pun dalam sambutan pembukaan perhelatan
Dialog Lintas Iman itu, berkata “Mudah-mudahan dengan digelarnya
kegiatan ini dapat menambah wawasan, membuka cakrawala dan memberikan
kontribusi positif kepada kita tentang kajian keagamaan serta
diharapkan dapat mengenal jiwa-jiwa lain lebih arif. Bila sudah
mengenal dari sumbernya (mengenal agama dari para pemuka agamanya-red),
maka tak ada lagi anggapan-angapan yang subjektif tentang ajarannya,
sehingga terciptalah tatanan masyarakat yang ramah dan menghargai
perbedaan, katanya. (Ibn Ghifarie PusInfoKomp).
Cag Rampes,Pojok Auditirium,21/09;12.24 wib