Catatan (9)
Written on October 9, 2006 – 5:27 pm | by ghifarie
Buah Simalakama Itu Bernama Politik Identitas
Oleh Ibn Ghifarie
Menyoal
konflik Libanon-Israel yang terjadi di negeri seribu bidadari itu,
membuat kita mengerutkan dahi bila kita mencari asal muasalnya terjadi
peperangan. Bila dulu perseteruan kedua kelompok bermula dari pesan
suci dari Tuhan guna menyebarkan luaskan risalahnya.
Kini,
tesis ini dibantah oleh M Guntur Romli, Ia menjelaskan “Konflik
Libanon-Israel yang terjadi sejak satu bulan terakhir ini bukan hanya
persoalan perang antara milisi Hizbullah dengan Israel, tetapi juga ada
persoalan politik identitas kelompok pada masyarakat Libanon. Inilah
yang menyebabkan terjadinya baku hantam di negeri seribu bidadari ini.”
Demikian demikian, permasalahan politik identitas menjadi pemicu akut
dan pelik dalam menentukan eksistensi kelompoknya. Apalagi dengan
adanya pendekatan mutakhir multikultarlisme. Sunguh lengkap sudah
bentrokan antar golongan tersebut. Seolah-olah metode itu, memberikan
peluang sekaligus melegalkan masyarakat guna terjadinya peperangan
antar golongan. Bahkan terkesan melanggengkan budaya barbar. Artinya,
bila segala sesuatu sudah terhinggapi penyakit ekslusif, maka kemudian
akan melahirkan sikap dan sifat superior. Ujung-ujungnya mereka akan
mempunyai anggapan bahwa klannya saja yang paling benar. Sedangkan di
luar kelompoknya tidak.
Meskipun, pada mulanya cara pandang
tersebut, diharapkan bisa menghormati keragaman dan mengarifi segala
permaslahan. Namun, pada kenyataanya berkata lain. Justru dengan
munculnya kaca mata itu, malah memperkeruh susana yang sedang gaduh.
Hingga, pertikaian antar kedua kelompok pun tak terelakan lagi.
Pendek kata, buah simalakama dalam pertikain saudara di Libanon-Israel itu berbnama politik identitas.
- Ibn Ghifarie, Jl, Darussalam No 470 Pasar Lama Bung Bulang Garut 44164, 04/09/2006 21:09
Disadur dari JIL
http://islamlib.com/id/index.php?page=comment&art_id=1119&pageno=1