Catatan Mushaf (3)
Written on October 16, 2006 – 10:14 am | by ghifarie
1 I/2 Jam Bersama Bombay
Pagi hari yang cerah itu, langit tampak indah yang di sekelilinginya
terlihat gulungan-gulungan asap yang menutih bak selimut kematian. Tak
tanpak lagi sisa-sisa hujan lebat yang telah mengguyur Cipadung,
Bandung tadi malam. Kulangkahkan kakiku yang “aga” besar ini dengan
memakai sendal gunung ala boggie dan celana katu yang agak kucel dan
kumel.
Maklum sudah hampir seminggu celana kesukanku itu tidak pernah ganti.
Sementara baju yang kukenakan tidak lain baju hitam dengan di depannya
ada logo IAIN SGD Bandung dengan tulisan Komite Pemilu Raya Mahasiswa
(KPRM). Yang kebetulaan aku sendiri terlibat secara langsung sebagai
Koordinator Pubdokak dalam hajatan Mahhasiswa tersebut.
Sementara kebiasanku, setiap pergi kemana saja, selalu tidak luput
menenteng kantong bivak ala Boggie, yang di hiasi dengan segala
asesoris. Pernak-pernik di tas itu merupakan kenang-kenangan–buah
tangan dari berbagai daerah yang aku kunjungi, termasuk kampung
halamanku sendiri. Entah itu, sekedar pergi ke kampus, kostan, atau
kesekretariat tas yang kucel itu selalu menghiasi pundaku. Hingga pada
akhirnya terbentuklah anggapan di temen-temen bahwa dimana ada kantong
yang di hiasi gantungan tas ala kadarnya. Maka dipastikan disitulah aku
berada.
Begitupun, ketika ada acara-acara, sebut saja kegiatan jurusan—dengan
OSABA-nya; acara UKM—melalui TGB-nya; hajatan penerimaan anggota baru
di organisasi primordial—dalam rangka Mapersaba; orientasi anggota baru
di pergerakan ekstra Kampus pun–OGAM. Tas punggung itu selalu menjadi
teman akrabku, di sela-sela kegiatan itu berlangsung. Tak hanya itu,
sliping bag pun selalu menjadi ‘istri’ kudua, yang menjadi teman
‘kencannku’ setelah setumpukan buku-buku yang mesti di lahap dalam
keseharianku.
Dengan demikian, hari ini tepatnya pada tanggal 29 April, merupakan
hari pertama di mulainya serangkaian kegiatan Mapersaba daan Seminaar
Kedaerahan. Yang di lakukan oleh Perhimpunaan Mahasiswa Kota Intan
Garut (Permata Intan). Setibanya di Kampus, tepatnya di depan Wartel.
Waktu itu menunjukan pukul 08.30 WIB. Aku duduk termenung di samping
ATM BNI, tanpa di temani seorang pun kecuali kantong boggie dan buku
Islam Atual karya Kang jalal—sapaan akrab Jalaluddin Rahmat semata.
Meskipun, di sekitar wartel ini banyak orang-orang yang lalu lalang dan
hilir mudik. Bahkan terdapat sekelompok mahasiswa, yang mungkin dalam
gunanmu inilah orang-orang yang akan megikuti acara Mapesaba alias
peserta? Akan tetapi, ternyata mereka bukan para peserta? Padahal hari
ini, dicanangkan sebagai hari pemberangkatan kloter 1 kegiatan
Mapersaba yang di adakan di Yayasan Pendidikan Al-Masduki Garut.
Ternyata lagi-lagi tidak mendapatkan sebatang hidung pun peserta dan
panitia.
Selang beberapa jam. Maka bermunculah beberapa mahasiswa yang akan
mengikuti acara Mapersaba. Yang membuatuku terkentak dari lamumanan
tadi.
Lantas, seorang temanku—sebut saja fauzin berujar ‘ughie, mana peserta
Mapersabanya? Aku hanya bisa bengong sambil gelenggeleng kepala.
Artinya gelengan kepala itu pertanda jawaban atas ketidak tahuan adanya
peserta.
Alih-alih Fauzin itu memberitahukan kepadaku tentang keberangkatan ke
lokasi kegiatan yang akan memakai mobil Bombay. Kita tahu bahwa Bombay
itu, salah satu mobil milik IAIN SGD. Sebutan bombay pun, konon
dinunjukan kepada mobil yang sudah tua itu, tapi masih tetap bertahan
dengan ketuanya. Walaupun ketinggagalan zaman alias kuno. Karena ada
kemiripan dengan mobil-mobil tua yang ada di india atau lebih tepatnya
di daerah Bombay. Kira-kira seperti itulah tanda-tanda mobil yang biasa
mangkal di Fak Ushuluddin itu, hingga akhirnya di kenaal dengan sebutan
mobil Bombay.
Maka dengan serta merta yang ada dalam pikiranku ketika mendengan mobil
bombay, terdapat segudang pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban.
Salah satu pertanyaan; mampukah mobil bombay itu sampai ketujuan?
Selang setengah jam, maka munculah mobil berplat nomor B 7080 S yang
ditunggu-tungu itu? Lalu, tanpa di komandoi panitia dan peserta yang
sudah terkumpul di warten pun akhirnya memasuki mobil antik itu, yang
di pangakalkan di samping poliklinik.
Sekitar pukul 09.50, setelah semua peserta dan panitia untuk keloter 1
di cek oleh Rahmaat, selaku ketua OC. Lantas meluncurah mobil yang di
kemudikan oleh siapa lagi kalau bukan pak Ade. Karena tidak ada seorang
pun yang bisa mengendarai mobil antik nan unik ini selan ia sendiri.
Posisiku aku duduk di belakang paling pojok, sambil menenteng handuk
yang belum kering kerena basah kuyuk akibat mandi terlalu pagi. Sambil
menikmati pemandangan bangunan yang menjulang tinggi bak tangga yang
akan mengantarkan kita kepada ruang angkasa, yang jauh di sana. Yang di
lewati oleh mobil unik ini dengan kekuatan standar (60 km/jam).
Namun, aku masih tetap dihantui dengan segudang dan seabreg
pertanyan-pertanyan tadi. Sementara, itu di samping kananku terduduk
seorang laki-laki kecil berbadan kurus alias jangkis—yang akrab di
panggil dengan sebutan Leway. Mengawali pembicaraan denganku. Ia
berkata ‘ughie, kenapa peserta yang mengikuti Mapersaba ini sedikiit.
Bukankah yang tadi duduk-duduk dan ngumpul di wartel itu banyak
bukan?”, ungkapnya.
Aku tetap tidak bisa menjawab pertanyan kawanku kecuali geleng-geleng
kepala dan berdiri guna membuktikan pertanyaan temanku sambil berhitung
di dalam hati. Ya…..ternyata yang ikut gelombang 1 masih bisa di
hitung dengan jari alias hanya sedikit. Padahal yang mendaptarkan diri
waktu masih membuka stand pendaptaran di post depan itu tercatat
sebanyak 60-an peserta Mapersaba.
Sementara masih di samping kananku dekat kaca, terdapat kawanku—sebut
saja Dika. Ia ketawa ketiwi sendirian bak orang gila. Bahkan sesekali
tertawa berbahak-bahak, entah menertawakan siapa yang jelas ia kayanya
sedang menikmati keindahan perjalanan ini. Tanpa ada rasa beban apapun
dari pancaran raut mukanya. Padahal jika mau jujur ia sebagai pesrta,
yang sebentar lagi akan medapatkaan seabreg kesulitan dari panitia baik
secara materi ataupun non materi, setibanya di sana. Sebab ia sendiri
peserta, bukan panitia. Apalagi senior. Gumanku.
Suasana di dalam mobil pun menjadi riuh gaduh dan bising akibat suara
kenalpot yang di keluarkan oleh Bombay itu. Apalagi ketika, melewati
jalan-jalan yang jelek bak sungai yang kering kerontang tidak ada
airnya, maklum lagi musim kemarau. Bahkan sesekali terdengaar lontarn
kata-kata yang di ungkapkan entah oleh siapa. Yang jelas kata itu
sering terdengaar di telingaku. Misalkan “awas-asaw ada halilintar; euy
aya hujaan poyaan nyiwit ceuli saeutik nya; ieu aya naon nya, sambil
loncat-loncatan di kursi jok; ataupun beberapa sikap dan prilaku
teman-teman yang mengganjal pikiranku mulai dari memegang-megang pintu,
karena takut copot sampai pada berdiri lantas memegang atap mobil,
sebab takut tertimpa atap, yang kelihatan sudah mulai kepopos”.
Lagi-lagi, gejala-gejala aneh itu bermunculan, terutama Pada saat-saat
melewati jalan-jalan yang berlika liku bak hurup ‘S’ buatan anak kecil
yang belajar menulis dan saat melalui berbenjol-benjol batu yang hampir
ada di setiap menapaki jalan ke tempat tujuan bagaikan muka bulan yang
mengadap ke bumi alias kerodok dan keriput.
Sedangkan di luar sana, setiap Bombay ini melewati sekelompok
orang-orang, entah lagi ngerumpi, nongkrong-nongkrong atau sekedar
orang yang lagi jalan saja. Tiba-tiba mereka di buatnya murah senyum.
Ketika mobil tua nan unik ini melintas di depan mereka. Bahkan sesekali
terlihat lontaran kata-kata mereka, yang keluar dari mulutnya. Tapi aku
sendiri tidak tahu persis apa yang di ungkapkan oleh mereka mulai dari
mencibir, mengejek, menghardi sampai pada mentertawakan, sambil
menunjuk bombay ini.
Aku ataupun sahabat-sahabatku yang ada di dalam mobil, tidak
menggubrisnya dengan dalih “anjing menggonggong kapilah berlalu”.
Begitulah pepatah kuno dari negri gurun sahara, yang masih menempel
dalam benak ingatanku.
Setibanya di tempaat tujuan, sekitar pukul 11. 20 WIB. kami di
‘hidangi’ dengan sekelompok bocah-bocah kecil yang sangat ramah dan
familier. Seolah-olah kita saudara mereka, yang lama tidak jumpa karena
jarak yang jauh dan waktu yang memisahkan kita. Meskipun, sesekali
mereka menertawakan kami. Bahkan ada yang mencoba mendekati kami.
Hingga pada akhirnya mereka menaiki mobil tua yang unik lagi aneh itu
tanpa ada rasa takut sedikitpun yang menghantui mereka.
Selain itu, dengan kepolosan dan keluguannya, mereka asyik bermain di
Bombay itu. Berbeda dengna kami atau aku sendiri yang mmasih di hantui
rasa takut. Ya.. terbukti dari igauanku pertama mendengar kata bombay.
Yaitu mampukah mobil ini mengan tarkanku dan teman-teman sampai
ketujuan? Sebab baru pertama kali ini aku menaiki mobil milik IAIN SGD
Bandung ini.
Dengan demikian, hal inilah yang menjadikan aku merasa percaya lagi
kepada seseorang yang Maha Menguasai Kerajaan Alam ini. Padahal, yang
mengurus dan mengatur kita adalah Tuhan. Atau dalam tradisi Sunda kita
kenal pepatah jodo, pati, bagya jeung cilaka anging Allah anu tos
nangtoskeun. Sedangkan dalam pewayangan kita akrab dengan wejangan ari
hirup teh kudu siga wayaang, anu ngusik malikeun urang teh nyaeta ku
dalang.
Akir kalam, Setelah 1 ½ jam bersama bombay dalam perjalanan Mapersaba
menuju Al-Masduki. Maka sampailah kita ketempat tujuan dengan selamat.
Lantas, tanpa menggedepankan kesombongan di depan Tuhan yang Maha
Mengetahui dan Menguasai Segala-galanya.
Tak hanya itu, dengan tidak ada daya dan kekuatan yang kita miliki kecuali milik Tuhan.
Oleh karena itu, kita sejogyanya selaku orang yang hanya bisa berencana
dan Tuhan pulalah yang akan menentukanya. Maka kita di anjurkan untuk
memohon doa kepada sang Pencipta atas keselamataan kita sampai ketempat
yang dituju. Semoga [Ibn ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Ponpes Al-Masduki 29/04/05;11.30 wib]