Catatan Mushaf (4)
Written on December 22, 2006 – 8:34 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie*
hujan telah tiba. Di bagian dunia yang lain hujan merupakan berkat alam
karena membasahi bumi dengan air yang menghidupkan. Di Indonesia,
sebagian wilayah menikmati juga hujan sebagai berkat. Tetapi bagi
sebagian besar wilayah ini hujan adalah bencana.
Karena itu,
ketika musim hujan datang, datang pula malapetaka. Beberapa hari yang
lalu 18 warga terkubur di Solok, Sumatra Barat (18/12), karena tanah
longsor setelah hujan mengguyur. Di beberapa bagian Pulau Jawa hujan
yang disertai angin puting beliung merontokkan rumah-rumah warga.
Di
hari-hari mendatang selama musim hujan akan semakin pasti datangnya
berita tentang bencana dalam berbagai wujud. Banjir, longsor, topan,
gempa, tsunami, gagal panen dan sebagainya.
Musim bencana kali
ini rupanya berawal dari Sumatra. Setelah longsor di Solok Senin malam,
Pulau Sumatra diguncang gempa kuat. Sejumlah warga meninggal dan
ratusan bangunan ambruk. Belum diketahui apakah gempa yang berpusat di
Aceh dan Sumatra Barat itu berkaitan dengan datangnya musim hujan.
(Media Indonesia, 19/12)
Lagi-lagi bencana terus silih berganti.
Satu daerah korban keganasan alam belum selesai saat rekontruksi dan
relokasi warga, nyatnya di belahan yang lain alam menunjukan ke
kuatannya. Hingga negara Indonesia di buatnya kalangkabut dan
berkali-kali menangis.
Mencermati maraknya bencana yang terus
menerus mendera Bumi pertiwi, semuanya disebabkan keperkasaan alam,
memang sungguh tidak bisa dicegah. Topan, tanah longsor, banjir, dan
gempa bumi, misalnya, tidak mampu dihalangi manusia dengan teknologi
apa pun.
Tak hanya itu, menegemen bencana pun hanya sebatas
wacana semata. Padahal, alat cangih atau sistem peringatan sejak dini
yang dapat mendeteksi malapetaka dalam kasus letusan gunung merapi,
angin topan, tanah longsor dan gempa tsunami sangatlah di perlukan.
Haruskah kehadiran sistem peringatan dini di tebus dengan beribu nyawa
manusia tak berdosa?
Meskipun manusia tak dapat mencegah
datangnya peristiwa tersebut. Namun, paling tidak, memiliki kemampuan
untuk mengurangi dampak dari bencana.
Sudah tentu, semua
kemurkaan alam itu berawal dari ulah tanagn lamim manusia dan
kesombongannya. Hingga merusak sekaligus merauk keuntungan dari tatanan
jagat raya ini.
Thus, buanglah sampah pada tempatnya dan mari
melestarikan lingkungasn sekiranya. Tak lagi guna mencegah peristiwa
yang tak di inginkan. Apalagi dengan tibanya musim hujan di penghujung
tahun. Pasalnya, haruskah datangnya musih hujan berubah menjadi
bencana? [Ibn Ghifarie]
*Penulis
adalah Ulis (Juru Tulis) Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia
(PK-PII) Bandung Raya dan sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Studi
Agama-Agama (PA) Fakultas Filsafat dan Teologi UIN (Universitas Islam
Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12;08.25 wib