Catatan Mushaf (5)


Written on December 22, 2006 – 8:41 am | by ghifarie

Lagi, Iman Minoritas Tertindas
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi,
tuduhan ’sesat’ terhadap kelompok minor pun terulang kembali. Entah,
kesekian kali Pembunuhan kepada Alih terjadi di Bobojong, Bogor.
Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan masyarakat luas
sekaligus menafikan Tuhan.

Ada beberapa kegiatan yang
menyebabkan tuduhan sesat itu dialamatkan kepada Alih. Antara lain,
kalau tengah malam ada ritual dzikir yang disebut “laporan ke Tuhan”
demikian penuturan Muhammad Iqbal Iskandar, pengasuh pesantren Hidayah
al-Bayan yang berada di desa Bobojong.

Pendek kata, Alih juga dituduh mengajarkan ritual shalat yang cukup dengan niat semata.

Peristiwa
naais itu terjadi, sepulang dari acara tahlilan (26/10) pukul 19.30
WIB, pria berusia 40 tahun itu shalat Isya di masjid Uswatun Hasanah,
masjid tak jauh dari rumahnya. Jaraknya sekitar 45 meter. Usai shalat
Alih berniat pulang ke rumah. Begitu keluar, Alih langsung dihadiahi
pukulan dan tendangan oleh beberapa orang, kopiahnya jatuh ke tanah dan
ia tersungkur.

Alih sempat melarikan diri, tapi langsung
ditangkap oleh massa yang sudah menunggunya. Berdasarkan penyelidikan
Kepolisian Sektor Darmaga, Bogor, waktu itu ada sekitar 250 massa yang
berasal dari tiga kampung: Bobojong, Sempur, dan Ijul.

Kemudian,
Alih diseret kurang lebih 200 meter dari masjid menuju villa kosong. Di
villa yang terletak di perbatasan kampung Bobojong dan desa Petir
itulah Alih dipukul ramai-ramai. Golok, kayu, batu, secara tak
beraturan bersarang ke tubuh dan wajah bapak dua orang anak ini.
(Syir’ah edisi 60/Desember 2006.)

Maraknya aksi ‘penertiban’
keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas terhadap minoritas. Sudah
tentu ‘mengamini’ adagium homo homoni lupus . Siapa yang kuat dia pasti
berkuasa. Pertanyaanya, benarkah peristiwa tragis yang menimpa Alih itu
di latar belakangi oleh penyebaran aliran ganjil atau jangan-jangan
sebegian kelompok tertentu, malah kalah persainganya dalam mengambil
hari masyarakat sekitarnya.

Dengan demikian, wajah Islam
ramah, toleran, menyapa perbedaan rahmatan lil alamian dan islam li
kulli makan wa zaman pun tak menjadi pameo umat islam, malah beralh
menjadi bengis, beringas dan menyeramkan. Yang jelas, kejadian
memilukan itu menyimpan sederetan luka yang membekas terhadap keluarga
korban. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kering, 28/10;23.34 wib



Post a Comment