Catatan Mushaf (6)
Written on December 22, 2006 – 8:45 am | by ghifarie
Sentralisasi Beras
Oleh Ibn Ghifarie
Naiknya
harga beras membuat sebagian masyarakat kecil [i]pontang-panting[/i].
Pasalnya, harus kerja ekstra guna mendapatkan bahan pokok tersebut. Tak
berakhir sampai disini, rebutan supaya mendapatakn padi pun tak
terelakan lagi. Hingga, nasi aking pula menjadi obat mujarab kelaparan
tersebut.
Tengok saja, di daerah Klaten kenaikan harga beras
melonjak dratis mulai awal bulan ini. Kemarin, di Pasar Klaten beras
Cisadane telah mencapai Rp5.000 per kilogram, Rojolele Rp5.500,
Mamberamo Rp5.200, IR-64 Rp5.100, Umbuk Rp5.100, Menthik Wangi Rp5.300,
dan beras ketan Rp7.000. (Media Indonesia, 16/12)
Konon, di
Papua kenaikan harga beras tak terkendali, hingga mencapai
13.000,00-/kg (Metro,16/12). Sudah tentu, [i]nerekalna[/i] harga beras
juga berdampak pada harga bahan kebutuhan pokok (sembako) lainya.
Mencermati
persoalan pelik itu, pemerintah hanya bisa mengelar pasar murah dan
kualitasnya pun di pertanyakan. Benarkah permasalahan kemiskinan itu
berawal dari kenaikan harga beras? atau Jangan-jangan ada sistem
kearifan lokal yang tak terpikirkan sekaligus di tinggalkan oleh
masyarakat akibat globalisasi dan kecangihan ilmu pengetahuan.
Yakni
penduduk melupakan tatanan kehidupan pokok suatu daerah tertentu
sebagai sumber makanan. Kini, sebagian besar masyarakat Mimika tak lagi
akrab dengan makan khasnya (ubi-ubian), tapi semuanya makan beras,
sebagai contoh. Padahal, daerah pingiran Irian itu penghasil terbesar
biji-bijian. Nyatanya, mereka harus rela tak makan selama beberapa
hari, hingga menelan banyak korban.
Ironis, sungguh ironis.
Nusantara yang terkenal dengan subur makmur alamnya, malah menghasilkan
kematian tingkat tinggi. Bak ayat mati di lumbung padi.
Dengan
demikian, sentralisasi beras di Bumi Pertiwi ini, hanya dapat menghasil
kesengsaraan dan kemiskinan yang akut dan tak kunjung selesai. [Ibn
Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/12;14.17 wib