Catatan Mushaf (12)


Written on January 3, 2007 – 5:50 am | by ghifarie

Pemutihan Beras Kian Menjadi
Oleh Ibn Ghifarie

Di
tengah-tengah meroketnya harga beras dan derasnya impor padi, maka
pemerintah harus tega banting setir guna melakukan pembagian raskin
(beras miskin) ke seluruh pelosok negeri. Tak lain, guna mencegah
semakin meingkatnya kelaparan di kalangan masyarakat, hingga berujung
pada kematian.

Mulai Sabtu (23/12) pemerintah dalam hal ini
Perum Bulog serentak menyalurkan beras untuk rakyat miskin di seluruh
Indonesia. Tidak kurang dari 160 ribu ton beras setiap bulannya akan
disalurkan oleh Perum Bulog, dengan harga jual Rp 1.000,00/kg. Menurut
Dirut Perum Bulog Widjanarko Poespoyo, penyaluran ini dimajukan
waktunya atas instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dari rencana
sebelumnya yang baru akan direalisasikan Januari 2007 mendatang.

Sungguh
sesuatu yang tepat, pemajuan jadwal penyaluran raskin tersebut erat
kaitannya dengan masih bertenggernya tingkat harga beras di pasaran
yang tetap tinggi. Sehingga dengan mulai disalurkannya raskin, selain
bisa membantu masyarakat miskin mendapatkan jatah beras berharga murah,
sekaligus menekan lajunya kenaikan harga beras umumnya di pasaran.
(Pikiran Rakyat, 27/12)

Namun, upaya penanggulangan krisis
kemanusian jangka panjang tersebut, tak berbanding lurus dengan ulah
segelintir manusia. Pasalnya, mereka tega melakukan perbuatan dzalim
dengan cara ‘pemutihan beras’. Kedengaranya agak aneh, tapi perilaku
yang dapat merugikan konsumen sekaligus masyarakat itu memang acapkali
terjadi, bahkan kian hari semakin menjadi.

Alih-alih supaya
beras berkualitas, putih, awet dan harganya terjangkau oleh wong cilik,
dengan tanpa rasa iba mereka melakukan proses pencucian beras tersebut.
Demikian penuturan hasil investigasi Good Morning (27/12) Proses
pemutihan beras hampir terjadi di sekira Jawa Barat. Untuk memutihkan
beas itu cukup menggunakan metabolposin 1/2 kg. Bahan pemutihnya pula
tak secuil yang kita kira, bahkan mudah didapat di pasar-pasar
tradisional.

Alhasil, caranya pun sangat muhad tinggal diaduk
dengan air. Lalu dimasukan ke dalam tengki. Sudah tentu ditambah pula
air satu jerigen. Namun, semua beras itu sudah digiling dan didiamkan
selama 1 minggu.

Ironis. Sunguh ironis. Nyatanya kelangkaan
beras malah dijadikan komoditi oleh sebagian pembisnis, hingga merauk
keuntungan dari proses pemutihan tersebut. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 27/12;8.56 wib



  1. One Response to “Catatan Mushaf (12)”

  2.   By Cheap Ipods on Nov 21, 2008 | Reply

    Hey, nice blog.

    I’ve been meaning to start a wp blog similar to this one but I decided to make an ecommerce site instead =o

    Anyways, hi lol

Post a Comment