Catatan Mushaf (14)
Written on January 5, 2007 – 2:08 pm | by ghifarie
Haji Tersandung Katering
Oleh Ibn Ghifarie
Lagi,
penyelenggaraan haji menuai kontroversi. Bila tempo dulu, sebagian umat
islam mempertaruhkan nyawa guna melaksanakan pelbagai rukun dan syarat
haji. Meski harus rela saling berdesakan dengan semua umat dari penjuru
dunia. Hingga menyandang gelar haji mabrur.
Terlebih lagi,
kuatnya pemahaman sebagian masyarakat bila meninggal di Tanah Suci
dalam mencari ridha Allah sekaligus di makamkan disana. Hal itu lebih
baik daripada mati di tanah kelahirannya.
Kini,kontroversi
pelaksanaan Rukun Islam kelima itu terulang kembali. Pasalnya, ratusan
ribu jemaah Indonesia tidak mendapatkan pasokan makan saat melakukan
wukuf di Padang Arafah hingga keberangkatan mereka ke Mina untuk
melempar jumrah. Selama lebih dari 30 jam, sebanyak 189 ribu jemaah
sejak Kamis sampai Sabtu (28-30/12) terpaksa menahan lapar karena
ransum makanan tidak datang.
Ironis. Peristiwa itu sungguh
sebuah tragedi. Meski kejadian yang memilukan ini, kali pertama dalam
sepanjang sejarah penyelenggaraan haji, ratusan ribu jemaah Indonesia
kelaparan karena tiadanya pasokan makanan.
Konon, musibah itu
berawal ketika Panitia Ibadah Haji Indonesia di Arab Saudi menunjuk
katering Ana for Development Est sebagai perusahaan yang memasok
makanan bagi jemaah asal Indonesia. Sebelumnya, panitia selalu
menggunakan Muasasah (lembaga pelayanan haji) Asia Tenggara yang sudah
puluhan tahun melayani haji Indonesia.
Pengalihan itu dilakukan
karena katering Ana menawarkan harga lebih murah daripada muasasah
sebelumnya, dengan selisih harga 50 riyal atau sekitar Rp115 ribu per
jemaah. Untuk 15 kali makan di Arafah dan Mina, katering Ana mematok
harga SR250 per jemaah, sedangkan harga dari muasasah mencapai SR300.
Namun,
ternyata katering Ana tidak mampu menyediakan makanan saat jemaah haji
Indonesia berbondong-bondong ke Padang Arafah untuk melakukan wukuf.
Padahal, wukuf termasuk prosesi ibadah yang membutuhkan keandalan fisik
karena jemaah harus berjalan di Padang Arafah yang luas. Akibatnya,
sejumlah jemaah jatuh pingsan karena kelaparan saat melakukan prosesi
itu. (Media Indonesia,04/04)
Dengan demikian, terjadinya
malapetaka itu dapat memalukan martabat bangsa Indonesia dalam
mengelola rukun islam kelima tersebut.
Padahal, tak sedikit uang
yang harus dikekuarkan oleh setiap jemaah haji. Sampai-sampai orang
lain beranggapan ongkos naik Bumi Pertiwi lebih mahal bila dibandingkan
dengan negara tetangga.
Sudah tentu, melambungnya harga haji
harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai, bukan malah
prosesi ibadah itu dijadikan sebagai ajang bisnis tahunan pemerintah.
Demi merauk keuntungan sesaat.
Terlebih lagi, berkenaan dengan
isi perut. Sebab kekosongan makanan selain berakibat tak afdhlnya
menjalankan perintah Tuhan guna meraih kebahagian hakiki kelak.
Nyatanya, kelaparan dapat mendekatkan diri kita kepada kekafiran.
Pertikain antar saurada seiman apalagi.
Pendek kata, terjadinya
kelaparan itu menandakan pemerintah tak bisa mengelola ibadah haji
dengan baik. Tawaran katering terrendah pun menjadi tumpuan pejabat
lalim tersebut. Meski menuai kontroversi sekaligus menjadi objek bagi
pemodal gunamemperlakukan semena-mena. Haruskah, kelahir menejemen haji
dibayar mahal dengan kelaparan? [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere,04/01;06.39 wib
One Response to “Catatan Mushaf (14)”
By Money Reviews on Nov 20, 2008 | Reply
Hey! Nice template your using for your blog.
What plugin is that btw??