Suhuf (11)


Written on January 24, 2007 – 5:27 am | by ghifarie

Badru Yang Saya Kenal

 

Oleh Ibn Ghifarie

 

 

 

Di
tengah-tengah kebingungan sekaligus ketidak jelasan keputusan LPIK
secara kelembagaan. Tak terelakan lagi, Saya selaku mantan pengurus
LPIK periode 2003/200. Kini, Koordinator Post LPIK, sebutan bagi Alumni
LPIK. Merasa kehilangan atas pengunduran diri Badru.

Pasalnya

Ia

merupakan tonggak LPIK. Terutama dalam khazanah sastra.

 

 

 

Meski di masa kepemimpinannya (2005-2006) Ia sempat hengkang
hampir 4 bulan lamanya dari masa baktinya. Tepatnya di semester genap.
Terhitung dari bulan Mei-Agustus 2006. Tentunya, menuai pelbagai
kritik, cacian, makian hingga hujatan sekalipun dari anggota, pengrus
sampai Alumni.

 

 

 

Namun
begitu, Ia tetap berdikari di Saung Kajian. Hingga ajal kepengurusanya
berakhir di Gerbang Musyag X. Yakni 14 Oktober 2006. Saat ngabuburit Ramadhan ala LPIK. Terpilihlah Tedi Taufik Rahman sebagai Pentolan LPIK masa bakti 2006-2007.

 

 

 

Tak cukup berhenti sampai di sini saja, Mifka pun ikut larut menjadi pengurus sekarang.

Sampai-sampai

Ia

menghantarkan terselanggaranya acara; Geliat LPIK (11-12/12/06), Talk
Show (18/12/06), TGB (Ta`aruf Generasi Baru; 20-22/1206 ), Menebus
Kelahiran dan Kematian (30/12/06). Sudah tentu, keberhasilan kegiatan
spektakuler itu berkat berbagai pihak. Khususnya, pengurus LPIK dengan
Anggota Muda.

 

Seiring
waktu. Sepenggal asa. Kuatnya arus modernitas dan peliknya kehidupan.
Akhirnya Ia mendeklarasikan diri dengan cara melayangkan surat
pernyataan ‘
Mengundurkan Diri Sebagai Pengurus LPIK Periode 2006-2007 Sekaligus Melepas Identitas Keanggotaan LPIK. Entah karena alasan apa? Yang jelas Ia menulis lima alasan diantaranya; Pertama, Rapuhnya Komunikasi Yang Sehat Sesama Anggota. Kedua, Lemahnya Temali Kekeluargaan di Tubuh Organisasi. Ketiga, Lunturnya Tradisi-tradisi LPIK Dalam Keseharian. Keempat, Sekaratnya Kerja Kepengurusan. Kelima, MatinyaTradisi Penalaran Anggota. 

Tak
ayal, kehadiran Surat Sakti itu, membuat sebagin besar kawan-kawan
pengurus dan anggota bertanya kepadaku. Dengan pelbagai pertanyaan; Apa
sebenarnya yang terjadi, Pernahkan Ia bercerita sebelumnya kepada kamu
(Aku-red), Eta sugan pernah ngobrol heula jeung Boelldzh teu?

 
 

 

 

Lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Seolah-olah aku yang bersalah dan tidak pernah peduli pada kawan.

 

 

 

Semula
tak ada jawaban dariku. Kecuali geleng-geleng kepala sebagai pertanda
ketidak tahuan persoalan tersebut sambil terus membaca Surat
Pengunduran Diri. Yang dipajang di Sekretariat. Tanpa kusadari
pikiranku melayang jauh menembus ruang dan waktu, hingga tergambarlah
sosok Ahmad Wahib (Pergulatan Pemikiran Islam). Saat Ia mengundurkan
diri secara forman
dari  HMI  (Himpunan  Mahasiswa  Islam) dengan
membuat satu tulisan. Ia beranggapan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)
sudah tak nyaman lagi baginya, tak bisa berekspresi, bahkan
disebut-sebut sebagai pembawa aliran lalim. Mungkinkah Badru meniru
sekaligus mengikuti jejal Neo-Wahib? Entahlah

 

 

 

Sejurus kemudian, ngahuntu pun kumulai sambil mengingat-ngingat beberapa hari yang lalu. Memang dulu pernah ngobrol antara aku dengan Badru di samping Mesjid Iqomah antara pohon Jambe dengan ruko Jualan Rokok, Kopi ala Sifi (detik-dertik terakhir direlokasi ke M’ahad Aly d/h) (13/01).

 

 

 

`Leudzh, kadie sakeudeng urang hayang ngobrol jeung ente`, ungkap Mifka mengawali pembicaraan.

 

 

 

`Aya naon Dru`, sahutku.

 

`Ari cara nyieun

Surat

Pengunduran diri the kumaha`, kata Mantan Ketum tersebut.

 

`Secara organisatoris atau luar organisatoris`, jawabku.

 

`Secara organisatorsi dong’` ungkapnya sambil ketawa-ketiwi.

 

 

 

Tanpa basa-basi. Semua unsur-unsur

surat

pengunduran diri ku jelaskan sampai tek-tek bengeknya. Di penghujung penjelasan baru aku sadar dan balik bertanya `Jang aya naon bet nanyakeun

surat

pengunduran sagala’` tegasku.

 

 

 

‘Ah biasa pan entege geus nyaho, lamun urang nanyakeun data jeung sajabana pastilah eta keur nyieun tulisan`, kilah Koor Divisi Jurnalistik tersebut.

 

 

 

‘Siga baheula urang nanyakeun data BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) KBM UIN SGD

Bandung

pan keur nyien tulisan`, tambahnya.

 

 

 

Tanpa
memperpanjang masalah buat apa dan kebetulan dua kawan Ia dan aku
menghampiri kami. Lebih tepatnya salah seorang senior kami di
organisasi ekstra kampus. Akhirnya, ngawadul

surat

pun berakhir. Tanpa salam apalagi.

 

 

 

Selang beberapa hari dari obrolan
senja itu, di tengah malam dan gemercik hujan sekitar 22-an di depan
Wartel UIN. Saat aku membeli bubur guna menyantap obat karena memang
aku aga tak enak badan (17/01).

 

 

 

Kala itu, Ia berdiri di antara temen-temen pengurus LPIK (Sutisna, Fani, Zarien) sambil berkata `Leudzh kadieu sakeudeung urang hayang ngobrol`, paparnya dalam mengawali ngahuntu.

 

 

 

`Aya naon Jang` jawabku.

 

 

 

`Sabenerna
mah lain keur nyieun tulisan batur atawa insfirasi tulisa keur di
publikasikeun, tapi baheula nanyakeun surat pengunduran teh keur
urang’`
jelasnya.

 

 

 

Kontan saja, aku pun balik berkata ‘Emang aya naoan jeung alasana naon bet rek ngundurkeun diri sagala’, cetusku.

 

 

 

Sebelum menjawab pertanyaanku. Ia malah balik bertanya, ‘Tapi aya masalah yeuh ngenaan No

surat

kesediaan Jadi Pengurus baheula euweuh teu manggihan, geus neangan kasasaha’, tambahnya.

 

 

 

‘Ah pokonamah kudu aya. Lamun euweuh urang pertama anu rek ngagugat

surat

eta’, jelasku sambil bercanda.

 

 

 

Tanpa ada jawaban lebih. Memuaskan penasaranku apalagi. Mantan Pimred Al-Kitobah itu, berpamitan kepada kami. ‘Urang balik heula yeuh,’ menutup obrolan malam.

 

 

 

‘Moal ka Sekre LPIk heula’, tanya salah satu rekan sepengurusnya.

 

 

 

Lagi, tak ada jawaban kecuali meninggalkan kami. Akhirnya, kami pun berpisah satu sama lain.

 

 

 

Walhasil, terjawab sudah kepenasaranku tentang pembuatan

surat

pengunduran diri. Yakni terpajangnya Surat Pernyataan di sekretariat
LPIK. Tepatnya di bawah papan pengumuman No kontak LPIK. Saat mentari
mulai menggeliat ke titik zenit (18/01). 

 

 

 

Hingga
hari ini, tak ada keputusan jelas dan tegas secara lembaga. Namun,
secara pribadi saya sangat menyayangkan langkah yang ditempuh kawanku.
Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Kareha hal itu telah terjadi. Cuman
terkadang aku sangat menyesalkan peristiwa itu terjadi. Pasalnya, kali
ini terjadi pengunduran diri yang dilakukan oleh mantan Ketum.

 

 

 

Apapaun
alasannya. Aku harus rela menerima kenyataan pahit ini. Tanpa
menyalahkan satu sama lain. Mungkin saja ini, kekhilafanku yang tak
begitu peduli pada sahabat dan terlalu percaya pada kawan. Jika mereka
menanyakan sesuatu kepadaku. Terlebih masalah organisasi.

 

 

 

Walaupun ada keganjilan dalam

Surat

tersebut; Pertama, tidak ada kop

surat

beserta kawan-kawanya. Mulai dari Nomor, Lampiran sampai Prihal. Semuanya tidak ada.

 

 

 

Kedua, Dalam No

Surat

Kesediaan Menjadi Pengurus (No 01/B/LPIK/Desember/2006). Sepengetahuanku Desember bulan-bulanya acara LPIK dan TGB. Kalau tak salah pelantikan kepengurusan masa bakti 2006-2007 itu bulan pertengahan November. Berarti

surat

kesediaan sekira awal bulan.

 

 

 

Ketiga, penempatan 5 alasan-alasan pengunduran diri. Kebiasaan penulisan selalu di akhirkan dalam bentuk terlampir.

 

 

 

Keempat, Tidak ada Matrai dan tanda tangan di penghujung

surat

.  

 

 

 

Meski
begitu, kau tetap rekan seperjuanganku. Lebih-lebih sewaktu engkau
menjabat Ketum LPIK dan Sekretaris Lembaga Pres GPMI (LPG) Gerakan
Persatuan Mahasiswa Islam. Kebetulan waktu itu, aku menjabat Koord
Alumni (LPIK), Sekjen (GPMI), Pimred sekaligus penggerak LPG (doBRak).

 

 

 

Hampir dua tahun lamanya aku mengenal dirimu. Sampai-sampai orang lain iri dengan kekompakan team doBRak (Ifa, Mifka, dan Boelldzh). Selama itu pula, aku sedikit demi sedikit mengetahui lebih dalam kepribadianmu.

 

 

 

Paling
tidak yang ku ketahui engkau sosok Sastrawan dengan sederetan sebutan
Pujangga, Cerpenis (Juara II tingkat PT STAIN, IAIN dan UIN
se-Indonesia di

Palembang

;
Desember 2005), hingga gelandangan Liberal. Begitu asyik memainkan
huruf, kata-kata, kalimat dalam menyusun sebuah tulisan. Sampai-sampai
aku ingin mengikuti jejak langkahmu. Namun, sudah ku coba
berulang-ulang kali, hingga tak terhitung, tapi tetap saja aku tak bisa
kecuali dalam memainkan data semata.

 

 

 

Selain itu, karena terlalu gandrung dengan permainan rima. Setiap kejadian, keluh kesah, letupan-letupan suara hati engkau semua tuangkan dalam Catatan Harian.

 

 

 

Bergelut dengan Dyari
bukan pertama bagi Ia. Malahan sudah hampir 5 tahun Ia akrabi.
Sampai-sampai di satu kesempatan engkau pernah menyuruhku guna
mengklasifikasi mushaf berserak tersebut. Namun, entah satu alasan apa, Ia meninggalkan ikhtiar tersebut. Padahal ingin ku menyunting semua goresan penamu. Terkadang kau lupa menyimpan agenda harian tersebut. Thus, aku pula yang menyimpan bait-bait puisimu.

 

 

 

Kuatnya tradis menulis bagimu bak nafas yang terus menghembuskan sanu

bari

. Tengok saja, hasil lengkingan penanya di WebBlog pribadinya (www.mifka.multiply.com) atau di Komunitas Mata Pena (KMP)

Bandung

(www.komunitasmatapena.multiply.com).

 

 

 

Ketidak
terlibatanmu dalam kecerian di Saung Kajian LPIK mulai hari ini dan
selanjutnya. Engkau tetap Mifka bukan yang lainya. Mudah-mudahan terus
berkarya dan akhirnya aku hanya bisa berkata ‘Selamat Jalan Dru, Teruskanlah Perjuananganmu Sampai Ajal Menjemput’. Itulah Badru yang saya kenal. [Ibn Ghifarie]

 

 

 

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/01;03.47 wib



Post a Comment