Suhuf (6)


Written on January 24, 2007 – 5:13 am | by ghifarie
Yang Penting Untung…!!
Oleh Ibn Ghifarie

Kala
itu, tak ada yang aku perbuat selain duduk-duduk sambil menyantap
idangan Baso Tahu di depan Fakultas Sains dan Teknologi (Ruang UKM ;
Unit Kegiatan Mahasiswa d/h), samping Pasca Sarjana, belakang Mesjid
Iqomah. Posisi duduk tepatnya berada di bawah pohon buah, dan pembatas
parit di antara pedagang Mie Ayam dan Batagor. Tiba-tiba aku di
kejutkan dengan kedatangan salah seorang perempuan berbadan tinggi dan
aga gemuk bererta beberapa mahasiswa yang aktif dipelbagai UKM
beladiri. Tak lain guna memindahkan peralatan jualan makan nasi ke
daerah sekitar Ma’had Aly (13/010).

Kontan saja, perbuatan
ganjil tersebut menyulutku supaya bertanya pada sang empu jualan,
hingga obrolan dengan Asep pun dimulai, tanpa salam, prolog apalagi, Ia
menjelaskan, ‘Mulai hari Senin (15/01) tak ada pedagang lagi yang
mangkal di depan Fakultas Saintek,’ tegasnya.

Alih-alih
menertibkan para pedagang guna mewujudkan kampus UIN SGD Bandung ilmiah
dan religius. Para pengais rezekipun harus rela direlokasi ke Takhosus.
Tepatnya, samping mesjid Iqomah, belakang Senat Fakultas Syariah,
samping Kopma (Koperasi Mahasiswa), dekat Kompleks Dosen Luar Negeri
(Arab), samping kanan Lapangan Sepak Bola UIN (Sekretasiat Mahapeka
d/h).

Meski mengisahkan pelbagai cerita, para penjaja makanan itu, tetap ngungsi ke daerah Komplek Dosen Asing. Sebut saja, penjual makan ‘Nya teu nanaon ari rek dipindahkeun mah. Da eta hak Rektorat. Ngan meureun kuhu aya tempatna. Lain kudu ngabeubeunah heula, ungkapnya.

‘Pokonamah kudu aya tempat heula. Lain nguruskeun pindah. Kusabab goreng katinggalina jualan didieu mah. Etage ceunah, tambah pedagang yang datang-datang ikut nimbrung.

‘Ah,
salain kudu parebut tempat heula. Pan ayeuna mah kudu ngawawarkeun
heula ka sakumna mahasiswa. Yen anu jualan es kalapa teh, misalna
beulah dieu,
cetus laki-laki berbadan kurus.

‘Da anu penting mah jualan laku bari jeung untung.  Rek  didieu  pek, rek diditu heug bae, papar pedagang lainnya.

Ngobrol ngaler-ngidul
pun tak terelakan lagi, mulai dari membincang banyaknya mahasiswa yang
berdemo, kuliahnya lama, kebijakan Rektor, sampai pemaknaan kehidupan.

Menyingung
K3 (Kebersihan, Keindahan dan Keamanan) yang setiap hari dipungut Rp
1.000-/pedagang oleh Satpam. Salah satu penjual angkat bicara ‘Tah perkawis artos eta mah duka kamana leubeutna. Anu jelasmah kami sok remen ditaging,’ ujarnya.

‘Tapi naha beut kedah dipindahkeun sagala. Tempatna teu puguh deui,’ tambahnya.

Tentu,
tak ada jawaban yang kulontarkan pada mereka kecuali diam seribu bahasa
dan hanya gelengan kepala serta terus melahap Baso Tahu.

Walau
pun hijrah pengaso perut dari sekitar Iqomah dan Tempat Regisrasi
(kini, Fakultas Psikologi) ke Mahad Aly. Namun, mereka berharap semoga
kebesaran UIN ini tak dapat menindas kaum lemah seperti kami. Salah
satunya, dengan adanya ‘relokasi pedagang’. Mesti dalam mengais rezeki
harus dimana lagi, kalau bukan disini, cetusnya. Meskipun mereka yakin
rizki ada di tangan Tuhan dan setiap orang punya bagian masing-masing.

Sungguh,
sepenggal kisah itu, membuatku merenung sejenak guna memaknai hidup.
Tanpa disadari pelbagai pertayaan pun datang silih berganti, mulai dari
bagaimana kalau yang dipindahkan itu aku. Lantas apa yang harus ku
perbuat?, Apakah harus berteriak menuntut pasilitas memadai bila ingin
di relokasi kepada Petinggi kampus? atau harus mengingkari nikmat Tuhan
yang telah diberikan kepadaku, karena aku tak percaya bila berjualan di
tempat Takhosus tak akan mendapatkan ke ungtungan banyak? Apalagi
menyalahkan satu sama lain. Entahlah !!

Yang jelas, tak terasa, sepiring Baso Tahu pun habis kulahap. Obrolan Senja bareng pejual berakhir pula[Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Buah, 13/01;17.02 wib



Post a Comment