Suhuf (9)
Written on January 24, 2007 – 5:22 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Di
tengah-tengah maraknya pelbagai gempa, tanah longsor, bajir bandang,
kekeringan, kebakaran hutan dan kelaparan. Kini, wilayah transportasi
pun ikut menegaskan bahwa Indonesia memang bangsa amburadul.
Tengok
saja, pasca tenggelamnya KM Senopati (29/12) dan tergelincirnya pesawat
Adam Air (01/01). Hingga sekarang belum diketahui bangkai pesawat naas
tersebut. Kini, giliran KA Bengawan jurusan Solo-Jakarta pula ikut
terguling. Seperti yang dilansir Editorial Media Indonesia (17/01) Lima orang menemui ajal dan ratusan orang luka-luka dalam kecelakaan di Banyumas, Jawa Tengah, Senin (15/1) malam itu.
Bencana
transportasi di negeri seperti susul-menyusul. Perkabungan yang satu
belum usai muncul perkabungan yang lain. Kecelakaan seolah menjadi
karib dan sahabat dekat bangsa ini.
Nyatanya, tragedi
kemanusiaan itu tak begitu membuat pemerintah tanggap darurat sedini
mungkin terhadap pelbagai kejadian, malah asyik sibuk mengurus ‘Kritik
berbalas kritik’. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dikritik
bertubi-tubi membalas kritik dengan kritik. Kepada para pengkritiknya
SBY bertanya, "Apa yang sudah mereka perbuat untuk kepentingan
rakyat?"; Rapat Kordinasi Penanggulangan Bencana; Menaikan gaji anggota
Dewan; minta bantuan ke negara Amerika dan singapura.
Sudah
jelas-jelas, menjamurnya kecelakaan baik di Darat, Laut, maupun Udara.
Semuanya, akibat lemahnya menegemen sekaligus transparansi
transportasi. Bukan malah sibuk mencari kambing hitam guna mengurai penyebab olengnya KA Begawan. Mulai dari faktor kesalahan teknis, kesalahan manusia, atau sekalipun faktor alam.
Dengan
demikian, haruskan kelahiran sistem penggulangan bencana di era
transportasi menumbalkan berjuta manusia yang tak berdosa.
Thus, kemunculan Menegemen Bencana pula hanya sebatas wacana semata. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/01;06.57 wib