Archive for February, 2007

kitab (9)

Friday, February 23rd, 2007

Hidup Karl MarkOleh Ibn Ghifarie `Leudzh, ayeu namah euweuh idealisme anu sok di gembor-gemborkeun ku urang keur kuliah teh. Angger we lamun geus balik ka lembur mah anu meunang teh logika Karl Mar (dialektika materialisme-red). Kumaha carana meunang duit keur hirup sapopoe,` demikian ungkap salah satu Alumnus Aqidah Filsafat Fakultas Filsafat dan Teologi. `Pokona mah kumaha cara ...

Kitab (8)

Friday, February 23rd, 2007

Lagi, Somanto `Gentayangan`Oleh Ibn Ghifarie Lagi, Sumanto bergentayangan di Bumi Nusantara. Kali ketiga peristiwa sadis sekaligus mengerikan itu terjadi di Pulau Borneo. Tetapnya, di Desa Anjir Mambulau Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas Kalimantan Timur. Pelakunya bernama Solehan. Manyit bayi yang baru sehari dikubur, dia bongkar. Lantas, dimakan pahanya. Masih ingatkah kasus Sumanto dari Probolinggo (2003), sang pemakan ...

kitab (7)

Monday, February 19th, 2007

Tak Ada Dodol. Angpao Apalagioleh Ibn Ghifarie`Ledz, tumben teu miluan acara Imlekan. Biasana pan barudak PA (Perbandingan Agama. Kini, Studi Agama-Agama-red) tara pernah absen tina peringatan hari raya agama-agama, demikian ungkap salah satu kawanku.`Berarti teu menunang dodol China jeung Angpao atuh,` jelasnya. Tak ayal, lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku ...

Kitab (6)

Monday, February 19th, 2007

Wilujeng Tahun Baru ImlekKu BoelldzhSampurasun...!!Dulur Salembur, Baraya Sablog...!!Gong Xi Fa Cai ....!!Simkuring saparakanca neda jembar pidu'a: Wilujeng Tahun Baru Imlek `Cia Gwee Che It` 1 Imlek 2558 Mugia urang aya dina tanggayungan Gusti Agung Anu Mangeranan Sadaya Alam. Atuh ku rubahna tahun mugia nambihan oge ka percayaan jeung kasih sayang. Tug dugikeun luyu antara ...

Kitab (5)

Monday, February 19th, 2007

Mahasiswa Ushuluddien Sedikit Legaoleh Ibn Ghifarie `Alah ayeuna mah bayar regisrasi teh bisa bari ulin heula. heunteu kawah baheula kudu ditunguan jeung fakultas batur miluan sagala,` demikian ungkap salah satu mahasiswa Studi Agama-Agam Fakultas Filsafat dan Teologi saat membayar uang regisrasi (12/02).Lagi, perubahan IAIN menjadi UIN tak berbanding lurus dengan kebesaran namanya. Bila dulu pada ...

kitab (4)

Tuesday, February 13th, 2007

Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah  Oleh Ibn Ghifarie     Apa yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel, mengerumuni sekaligus merusak pusat peretaran seks, mengucapkan ‘Selamat Hari Valentine’, ataukah diam seribu bahasa.     Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku ...

kitab (3)

Tuesday, February 13th, 2007

Yang Penting Murah...!!  Oleh Ibn Ghifarie     `Leudz, ari buku paririmbona diduruk. Tapi naha ari pas waktuna neangan anak leungit ka Dukun,` ungkap Pradewi Chatami, aktivis perempuan Bandung.  `Nyageurkeunana ge angger ka Dukun,` tambahnya.    Lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam untayan kata-kata Kejamnya Dunia (Trans, ...

Kitab (2)

Tuesday, February 13th, 2007

Menara Gading Pasca BencanaOleh Ibn Ghifarie Musibah selalu datang menerpa, silih berganti tiada henti. Sehingga, mati menurut mereka lebih baik dariapada hidup. Karena itu, seandainya orang bisa memilih, tentunya lebih suka tidak pernah ada dan terlahir ke dunia fana ini. Terlebih pasca bencana lima tahunan. Jalan pintas mengakhiri hidup pun terkadang menjadi alternatif. Terutama, bagi mereka ...

Kitab (1)

Tuesday, February 13th, 2007

Sekali lagi, Rahmat Bukan LaknatOleh Ibn GhifarieSekali lagi, Kehadiran musim penghujan pasca bencana tak selamanya berubah menjadi laknat, malah terkadang membawa rahmat bagi kelompok tertentu. Tengok saja, komunitas pemulung. Mereka bisa mengais rezeki dari pelbagai gunungan sampah berupa kertas, dus, barang-barang bekas sampai tumpukan kayu yang mangkal di pinggiran pintu air. Mereka mendapat dua kali lipat ...

Suhuf (20)

Monday, February 12th, 2007

Menulis, Menulis dan MenulisOleh Boelldzh Setiap kali mendengar, melihat, merasakan pelbagai bencana yang terus menerpa bangsa Indonesia. Seolah-olah Bumi Pertiwi ini enggan terlepas dari sederetan peristiwa yang tak berkesudahan tersebut. Kian hari kian akrab dan menyatu dengan malapetakan tersebut. Setiap itu pula aku terkadang miris, kawatir, hingga nyaris tak ada rasa iba lagi. Pasalnya, kehadiran musibah telah mengikis ...