Kitab (2)


Written on February 13, 2007 – 8:54 pm | by ghifarie
Menara Gading Pasca Bencana
Oleh Ibn Ghifarie

Musibah
selalu datang menerpa, silih berganti tiada henti. Sehingga, mati
menurut mereka lebih baik dariapada hidup. Karena itu, seandainya orang
bisa memilih, tentunya lebih suka tidak pernah ada dan terlahir ke
dunia fana ini. Terlebih pasca bencana lima tahunan.

Jalan pintas mengakhiri hidup pun terkadang menjadi alternatif. Terutama, bagi mereka yang terlanjur putus asa.

Tengok
saja, seorang lelaki di Ciledug Tangerang, Eko (35) mengalami depresi
berat, hingga terlontar kata-kata kotor berupa cacian, makian terhadap
pemerintah yang dinilainya lamban dalam menolong korban bencana dan tak
sigap dalam memeinilamisir musibah. Terlebih, satu-satunya tempat
bernaung dari sengatan matahari dan dinginya udara di sapu banjir lima
tahunan. (Headline Nesw, 09/02)

Namun,
di lain sisi kaum berduit malah berlomba-lomba menyervis kendaraan
bermotor yang rusak akibat terendam air. Hingga mereka nyaris
melayangkan surat gugatan terhadap sang punya dailer.
Pasalnya, asuransi mobil akibat banjir terkadang tak di golongkan
asuransi. Sebab perbuatan naas itu termasuk ke dalam tindakan ceroboh
ulah lalim pemilik kendaraan roda empat. (Good Morning, 12/02)

Kelihatanya
aga aneh dan tak mungkin terjadi. Terlebih lagi, saat kaum tak
berkecukupan kebingungan guna membangun kembali rumahnya yang tersapu
air limbah dan meroketnya bahan bangunan. Tentunya, melengkapi
penderitaan mereka.

Senyum, ketawa, dan pasrah pada nasib pun
menjadi tumpuan mereka sambil menunggu keajaiban dari langit. Hanya
itulah yang bisa dilakukan mereka.

Namun, pemandangan berbeda terpancar dari para pengusaha yang mempersoalkan gransi mobilnya.  Inilah menara gading pasca bencana. Ironis memang. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;09.44 wib



Post a Comment