kitab (3)
Written on February 13, 2007 – 8:55 pm | by ghifarie
Yang Penting Murah…!!
Oleh Ibn Ghifarie
naha ari pas waktuna neangan anak leungit ka Dukun,`
`Leudz, ari buku paririmbona diduruk. Tapi
`Nyageurkeunana ge angger ka Dukun,` tambahnya.
Lontaran
kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang
terbuai dalam untayan kata-kata Kejamnya Dunia (Trans, 08/02). Semula
tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda
membenarkan anggapan masyarakat. Sejurus kemudian, ngobrol maraknya dimensi mistis di layar kaca mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke hakikat pemaknaan hidup.
Bayangkan, semula kita enggan dikategorikan sebagai kelompok pinggiran. Tentunya akrab dengan nuansa mistik, elmu-elmu
hitam dan tak rasional. Namun, pada kenyatanya kita malah akrab
sekaligus melanggengkan warisan Nenek Moyang. Salah satunya, bila kita
terkena musibah bukan di bawa ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit, tapi
malah di angkut ke embah Dukun. Seperti yang dialami oleh Pria paruh baya dalam penggelan kisah tragis manusia.
Alkisah,
di satu daerah terpencil terdapat keluarga bahagia dengan jumlah anak 3
orang. Sebut saja, Eko semula Ia hidup normal dan menjalakan
aktivitasnya. Tentunya, ramah akrab, riang dan tak pernah membantah
perintah kedua orang tuanya.Namun, tiba-tiba ia berubah total menjadi
pemurung, malas, tidur pekerjaanya. Sekedar makan saja rasanya susah
dan sulit memang.
Perilaku
tak bersahabat itu berjalan sampai tiga bulan. Hingga satu hari Ia
berani memukul Ibunya. Sampai mengeluarkan darah segar dari sekujur
kepalanya. Ketidakjelasan asal muasal berani melakukan perbuatan lalim.
Akhirnya, terjawab sudah mankala sang Bunda membersihkan tempat
tidurnya dan menemukan kitab kuat ilmu hitam. Tanpa basa-basi dan
berkomunikasi terlebig dahulu kepada
Suaminya
Ia
membakar jangjawokan tersebut. Karena dalam pikiranya kibat inilah yang membuat buah hatinya menjadi waras.
Walhasil,
pergi ke Embah pula menjadi harapan terakhir keluarganya. Sebab Eko tak
pernah pulang ke rumah dan bisa mencapai beberapa bulan.
Ironis memang. Namun, inilah wajah muram masyarakat tak berpendidikan. Alih-alih murah dan tak punya biaya pun menjadi jurus pamungkas dalam menyehatkan segala penyakit ke Para Normal. Tentu saja, membuat miris sebagian kelompok.
Obrolan menjelang siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang Diskusi LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)
Bandung
. Terlebih lagi, saat kawan yang lain memangilnya ‘Dahar, dahar, dahar euy. Sangu geus asak yeuh!’. Semuanya, sirna dihadapan tumpukan nasi putih dengan seonggok bala-bala Alakadarna. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 08/02;10.56 wib