kitab (4)
Written on February 13, 2007 – 8:56 pm | by ghifarie
Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah
Oleh Ibn Ghifarie
Apa yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day
(14 Februari) itu tiba? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail
meneriakan yel-yel, mengerumuni sekaligus merusak pusat peretaran seks,
mengucapkan ‘Selamat Hari Valentine’, ataukah diam seribu bahasa.
Bila
pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya.
Terlebih lagi, melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentne.
Namun, akan sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur
lara di tengah-tengah kepenatan rutinitas pasca bencana. Pasalnya momen
ini merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu. Mereka berusah
ingin membagai kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa) dalam
bingkai cinta kasih.
Meski
terkadang di salah artikan. Hingga nyaris menuai protes dari golongan
tertentu. Alih-alih mengikuti tradisi barat dan tak sesuai dengan
budaya timur pun menjadi alasan mereka untuk berbuat semaunya.
Konon,
memasuki awal abad keempat sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa
mengadakan pesta bagi Dewa Lupercalia (Lupercus). Perhelatan akbar itu,
dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin burung.
Perayaan hajatan Lupercalia
itu, dianggap belum berhasil manakala setiap laki-laki atau perempuan
mendapatkan pasangan masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi
digelar dengan cara setiap gadis harus menuliskan
namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya.
Para
pemuda yang hadir diwajibkan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak.
Walhasil, wanoja yang terpilih akan menjadi pasangan jajaka tersebut, hingga berujung pada kegiatan Lupercalia tahun depan.
Namun,
seiring waktu sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma.
Kehadiran acara perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau
telah berlangsung cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat
sekaligus menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala
itu. Pasalnya, pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen,
bahkan termasuk golongan kafir.
Lagi-lagi
setiap keadaan selalu hadir juru penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih
lagi, pada saat Kaisar Roma berada dalam genggaman Claudius II. Ia
memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah.
Tiba-tiba, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine (270 SM) berani memulai kembali kebiasaan tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi Lupercalian
sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan
kaum muda-mudi yang saling ‘silang rasa’ supaya dapat dinikahkan secara
masal.
Di lain sisi, aktivitas Valentine itu sudah tercium oleh Kaisar.
Sampai-sampai
Ia
murka terhadap sang Uskup.
Alhasil,
hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang tak bisa
ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula harus
beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggal melaksanakan perintah
penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya.
Kematian pun menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia, 1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem, lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.
Namun, berkat keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil bertajuk ‘From Your Valentine’.
Semenjak Orleans dipenjara di Tower of
London , pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine
itulah, ungkapan-ungkapan Valentine menjadi simbol hari kasih sayang.
Hal ini terlihat dari Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada
kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of
Secara
bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti : `Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada
Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi. (www.korrnet.org)
Maraknya aksi prostitusi
berkedok panti pijat dan menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat
hubungan di luar nikah serta tak diterima kembali di kelurganya membuat
sebagian muda-mudi lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamuran pesta
tersebut.
Nyatanya,
kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab
bisa berakibat patal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak
diinginkan. Ambail contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS.
Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari
Surabaya
.
“Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,”
tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang
mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas
Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr
Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang
bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.
Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day
(hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan
masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS
lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week
(pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan
kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus
HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh
dr. Andik. (www.dudung.net)
Padahal, bangsa
Indonesia
sedang dirundung
malang
pelbagai musibah dengan silih berganti dan saling susul menyusul
bencana. Gundukan sampah pun pasca musibah kembali meminta perhatian
kita. Karena pengekspersian kasih sayang tak selamanya harus berpesta
pora. Atau sekedar tukar menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan,
kaset/CD dan hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.
Disadari atau tidak, perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang
Indonesia
. Sudah banyak orang
Indonesia
yang merayakannya dengan kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang
sampah pada tempatnya dan membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk
dalam bingkai kasih sayang pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn
Ghifarie]
Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;13.44 wib