kitab (7)


Written on February 19, 2007 – 5:18 am | by ghifarie
Tak Ada Dodol. Angpao Apalagi
oleh Ibn Ghifarie


`Ledz,
tumben teu miluan acara Imlekan. Biasana pan barudak PA (Perbandingan
Agama. Kini, Studi Agama-Agama-red) tara pernah absen tina peringatan
hari raya agama-agama,
demikian ungkap salah satu kawanku.

`Berarti teu menunang dodol China jeung Angpao atuh,` jelasnya.

Tak ayal, lontaran kata-kata itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam untayan kata-kata Good Morning
(Trans, 18/02). Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala
sebagai pertanda membenarkan ikwal ketidak ikut sertaanku dalam
perayaan Imlek kali ini. Sejurus kemudian, ngobrol pergantian Tahun Baru Konghucu pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga ke hakikat peryaan Tahun Baru.

Bila dulu sewaktu aktif sekaligus masih menjadi pentolan
di BEM-J PA (Badan Eksekutif Mahasiswa-Jurusan Perbandingan Agama),
Komunitas Ushuluddien. Mau tidak mau kita akrab dengan PHB (Peringatan
Hari Besar) Agama-Agama. Termasuk perayaan Imlek.

Terlebih lagi,
saat bergabung dengan FORSADA (Forum Silaturahmi Antar Beda Agama) Jawa
Barat, Jakatarub (Jaringan Antar Umat Beragama) Bandung, FKKUB (Forum
Komunikasi Kerukunan Umat Beragama) Bandung, FKMPAI (Forum Komunikasi
Mahasiswa Perbandingan Agama se-Indonesia), hingga menjabat posisi
terpenting dari pelbagai lembaga lintas iman tersebut.

Tentunya,
setiap tiba PHB selalu digelar perhelatan akbar. Sekedar ucapan
selamat, diskusi ringan, bakti sosial, aksi damai, ramah tamah dengan
anak jalanan atau refleksi keimanan selalu kami lakukan.

Kini,
rasanya tak ada kecerian lagi antar iman tersebut. Terputusnya
komunikasi membuat temali persaudaraan lintas keyakinan yang sempat
kita rajut sekaligus kita bina secara bersama, mulai terkoyak bahkan
tercabik-cabik karena dimakan waktu dan usia.

Terutama saat roda kepemimpinan di tingkatan BEM-J PA beralih ke generasi muda. Tak ada lagi,  silaturahmi ke organisasi antar keimanan di luar kampus. Alhasil, mereka hanya bergaul dengan kelompoknya semata.

Selain
itu, satu tahun setengah silam secara pribadi aku mendekrlarasikan diri
untuk tak begitu terlibat aktif dalam kajian beda iman tersebut.
Pasalnya, aku lebih tertarik dalam dunia tulis-menulis dan masih banyak
junior dengan semangat menggebu-gebu. Tak lain, guna membangun estafeta kepemimpinan yang berkelanjutan. Namun, bukan berarti komunikasi antar pengurus (senior) lembaga keimana itu, masih terjalin utuh.

Walhasil, kehadiran hari raya warga keturunan Tiong Hoa pun hanya berucapa doa ‘Selamat Tahun Baru Imlek (1 Imlek 2558) Gong Xi Fa Cai`  kepada beberapa kawanku. Semoga kita mendapat berkah dari Sang Guru Agung. Kali pertama tak mendapatkan Dodol Keranjang. Angpao apalagi saat perhelatan Imlek tiba.

Obrolan menjelang siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan ruang Diskusi LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman)

Bandung

. Terlebih lagi, saat kawan yang lain memangilnya ‘Dahar, dahar, dahar euy. Sangu geus asak yeuh!’. Semuanya, sirna dihadapan tumpukan nasi putih dengan seonggok bala-bala Alakadarna. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 18/02;11.26 wib          



Post a Comment