Kitab (8)


Written on February 23, 2007 – 4:14 am | by ghifarie
Lagi, Somanto `Gentayangan`
Oleh Ibn Ghifarie

Lagi,
Sumanto bergentayangan di Bumi Nusantara. Kali ketiga peristiwa sadis
sekaligus mengerikan itu terjadi di Pulau Borneo. Tetapnya, di Desa
Anjir Mambulau Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas
Kalimantan Timur. Pelakunya bernama Solehan. Manyit bayi yang baru
sehari dikubur, dia bongkar. Lantas, dimakan pahanya.

Masih
ingatkah kasus Sumanto dari Probolinggo (2003), sang pemakan daging
mayat manusia, yang kini sudah bebas dari Hotel Predeo dan menetap
tinggal di Yayasan Annur. Pasalnya, Ia ditolak mentah-mentah oleh warga
kampung halamanya. Walhasil, Ia harus rela berpisah dengan sanak familinya tercinta.

Atau
Sumanti, seorang Ibu di Depok melakukan hal yang sama terhadap buah
hatinya (2006). Bahkan lebih sadis, sebab Ia menyantapnya setelah
dibakar terlebih dahulu.

Kini, hadir pula `Sumanto` dari Kabupaten Kapuas, yang memakan daging mayat bayi dan tulangnya dijadikan sebagai pipa rokok.

Kasus
ini terbongkar Sabtu (17/02), saat warga Desa Anjir Mambulau Barat,
Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas Kalimantan Timur geger begitu
mengetahui makam Arifin (22 hari), yang dikubur Jumat (16/02) ada yang
membongkar.

Adalah Sahit, warga setempat yang mengetahui pertama
kali pembongkaran kuburan tersebut. Sahit yang kendak ke sawah, melihat
peti manyat di semak-semak. Walau sebelumnya kurang yakin tumpukan itu
peti mayit. Namun, setelah dicek di lokasi pemakaman yang ta jauh dari
lokasi, diketahui kalau kuburan bayi Arifin Sudah terbongkar. (Jawa Pos, 18/02)

Mereka
beramai-ramai mendatangi pemakaman itu dan menemukan mayat bocah tanpa
paha kanan. Setelah ditemukan baru mereka melapor ke Polsek Kapuas
Timur.

Berkat kepiawaian petugas dan keukut sertaan masyarakat
pelaku bejat itu dapat di temukan. Kepada Polisi Solehan mengatakan
Paha kanan bayi dipotong dengan pisau pemotong daging. Di rumah, daging
bayi itu dimakan, sedangkan tulangnya dijadikan roko. `Telapak kaki
dibuang di semak-semak` ujar Kaporles.

Konon, niat mengambil
pahanya terbesit dalam pikiranya, manakala Ia mendapat bisikan yang
mengatakan kalau ingin menang sabung ayam, supaya mencari tulang orang
mati.

Terbongkarnya, perilaku Sumantonian dibelahan daerah manapaun, menunjukan perilaku yang sama sekaligus melanggengkan budaya kalibal
bak fenomena gunung es. Terlebih lagi, di tengah-tengah himpitan
ekonomi yang tak kunjung membaik dan meroketnya harga beras yang tak
menurun serta di hantam banjir yang tak berkesudahan. Seakan-akan
negeri Indonesia sedang mengalami sakit parah dan berwatak barbar.
Inilah wajah bumi pertiwi.

Alih-alih ingin mendapatkan Ilmu gaib
dan memperkaya harta benda dengan cara mudah. Akhirnya, cara lalim pun
mereka lakukan. Ironis memang. Haruskah, beribu-ribu Sumanto atau
Sumanti `gentayangan` di Nusantara ini supaya kita terlepas dari multi
bencana? [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/02;09.16 wib 



Post a Comment