kitab (9)
Written on February 23, 2007 – 4:19 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
`Leudzh,
ayeu namah euweuh idealisme anu sok di gembor-gemborkeun ku urang keur
kuliah teh. Angger we lamun geus balik ka lembur mah anu meunang teh
logika Karl Mar (dialektika materialisme-red). Kumaha carana meunang
duit keur hirup sapopoe,` demikian ungkap salah satu Alumnus Aqidah Filsafat Fakultas Filsafat dan Teologi.
`Pokona
mah kumaha cara neangan duit. Lain gawe, tapi materi. Urang sampe kudu
kukurilingan bari mawa lamaran kerja jeung konsepan konseling ka tiap
sakola SMA anu aya di Bandung.` tambahnya.
Tak ayal,
ungkapan bernada getir dan pesimis itu, tentu saja menghentakan
perasaanku. Pasalnya, aku sedang terbuai dalam santapan bala-bala Alakadar di Kedai Ushuluddien (21/02). Sambil ditemani secangkir kofi, segelas susu dan tumpukan gehu panas plus bumbu penyedap dan sambel khas Warteg.
Maklum
saja, kami tak pernah ketemu lagi pasca mereka lulus (Agustus 2006).
Sekedar tegur sapa via pesan singkat (sms), rasanya tak pernah kami
lakukan. Atau Sekedar membincang masalah kampus; pergantian
kepengurusan di tubuh KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) UIN apalagi. Saat
aku menunggu kehadiran Sekjur (Sekretaris Jurusan) guna berkonsultasi
masalah kuliahku.
Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali
anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikwal ketidakjelasan
ijazah dan prospek jurusan. Sejurus kemudian, ngobrol masa depan yang kadung harus dilewati pun mulai merambah kesana-kemari bak kentut saja. Hingga Ia berujar menutup pembicaraan `Alah
asa teu meunang nanaon kuliah teh. Soal Filsafat heun teu. Teologi
komo. Tasawuf boro-boro. Tungtungnamah kudu ngandelkeun ka bisa
sorangan. Naon we anu penting ngahasilkeun duit.`
Bila
dirunut kebelakang, dahulu aku tau betul bagaimana Ia begitu aktif di
pelbagai organisasi mulai dari BEM-J (Badan Eksekutif Mahasiswa
Jurusan), ekstra Kampus, organisasi kedaerahan (Orda) sampai menyandang
gelar aktivis mahasiswa. Kebetulan aku Ia merupakan seniorku di salah satu pergerakan mahasiswa.
Kini,
rasanya tak ada kebahagian sekaligus semangat bergebu-gebu dalam
mengarungi kehidupan yang pelik ini. Sederetan jargon sebagai penampung
asfirasi masyarakat, pengubah tatanan sosial dan kaum terpelajar pula
raib entah ditelan badai apa. Yang jelas Ia beranggapan segala sesuatu
dapat terselesaikan dengan materi. Ketika kekayaan didapat maka serta
merta kebahagiaan akan teraih pula. Haruskan, segala bentuk Idealisme
kita tergadai, manakala kita tak punya modal? Entahlah.
Thus, Obrolan menjelang
siang pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu meninggalkan Kafe
Filsafat. Terlebih lagi, saat salah satu pujaan hati kawanku datang dan
menghampiri kami. `Tuh gera kaditu bisi di carekan ku pamajikan geura`. Semuanya terpesona atas kemolekan tubuh perempuan dan sirna dihadapan tumpukan bala-bala Alakadarna yang mulai tak hadir di sebilah piring. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Kedai Ushuluddien, 21/02;11.49 wib