Kitab (11)
Written on March 17, 2007 – 12:51 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Sekali
lagi, musibah kapal laut kembali terjadi. Kali ini, KM Levina I yang
bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pangkalan Balam,
Bangka Belitung, mengalami kebakaran sekitar pukul 05.30 WIB, Kamis
(22/2) di wilayah Kepulauan Seribu.
Sebanyak
16 penumpang kapal jenis roro itu meninggal, salah satu di antaranya
adalah seorang bayi. Sementara 211 orang dari total 307 penumpang kapal
buatan Jepang 27 tahun lalu itu selamat. Ratusan penumpang yang
berhasil dievakuasi ke Tanjung Priok itu terkena luka bakar.
Sedangkan
korban selamat yang dievakuasi ke Pulau Kelapa berjumlah 63 orang, dan
tujuh penumpang meninggal. ”Total penumpang selamat sebanyak 274 orang
dan hilang 17 orang,” kata Direktur Pelayaran dan Perhubungan Laut
Dephub, Bobby R Mamahit, kemarin. (Republika, 23/02).
Tak
hanya berhenti sampai disana, peristiwa naas pun terjadi di
tengah-tengah pencarian korban dan mengusut tuntas asal-muasan
terjadinya kebakaran kapal tersebut. Lagi, kapal berusia 27 thn itu,
kembali menelan korban. Kali ini, menimpa beberapa jurnalis yang sedang
olah TKP. Salah satunya, Suherman (kameramen Lativi) dan M Guntur
(kameramen SCTV). Hingga hari ini M Guntur belum ditemukan.
Inilah bentuk korban ke konyolan transportasi kita. Seakan-akan, bencana
transportasi air di negeri Indonesia seperti susul-menyusul.
Perkabungan yang satu belum usai muncul perkabungan yang lain.
Kecelakaan seolah menjadi sahabat karib sekaligus siklus yang harus
kita lalui pula.
Masih
ingat dalam benak kita, di penghujung tahun 2006. Bagaimana kebakaran
kapal terjadi di Batam saat bersandar ke tepi. Atau peristiwa memilukan
sekaligus menyuluh hati kita saat kapal Tampolmas terbakar di
tengah-tengah lautan lepas.
Maraknya, kecelakaan transportasi
baik udara, darat, maupun laut secara beruntun membuat masyarakat
khawatir. Kondisi itu sebagai buntut tidak mampunya pemerintah
menyediakan sarana transportasi yang aman bagi rakyat. Dipertanyakan,
mengapa audit komprehensif angkutan belum diselesaikan.
Demikian dikemukakan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Bambang Susantono, kepada Pembaruan
di Jakarta, Jumat (23/2), menanggapi terjadinya kecelakaan pesawat Adam
Air di Juanda, Surabaya dan terbakarnya KM Levina I di perairan
Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Rabu (21/2) dan Kamis (22/2).
"Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi hanyalah sebuah gejala, tetapi akar
permasalahannya sama sekali belum ditemukan. Audit komprehensif moda
angkutan darat, laut, dan udara, seharusnya sudah diselesaikan
pemerintah. Mengapa sampai saat ini hasilnya belum juga keluar?" tanya
Bambang.
Sudah
tentu, pelbagai kecaman bernada menyudutkan dan menuntut Hatarajasa,
Mentri Perhubungan untuk segera undur diri jabatannya. Pasalnya, Ia tak
becus lagi mengurus transportasi. Seperti yang dikemukakan oleh
Nusyirwan Soedjono, anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan,
meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengevaluasi kinerja Menteri
Perhubungan Hatta Rajasa. Kecelakaan bertubi-tubi itu dinilai akibat
tidak adanya langkah signifikan dari Menhub.
"Program yang disampaikan Menhub tidak ada realisasinya. Kami sudah
kehabisan bicara, kecelakaan terus terjadi. Sebagai rasa tanggung jawab
kepada masyarakat sebaiknya dia mundur," kata Nusyirwan.
Dia juga mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)
segera menyelesaikan penyelidikan terkait dengan kecelakaan pesawat
Adam Air di Bandara Juanda dan terbakarnya KM Levina I di perairan
Kepulauan Seribu.
"Rekomendasi
itu bisa digunakan bagi korban dan keluarganya untuk melayangkan
gugatan hukum baik kepada pemilik armada, petugas, dan pejabat terkait.
Mereka perlu dibawa ke pengadilan," katanya. (Suara Pembaruan, 24/02)
Memang,
tak adil rasanya bila kita menyerahkan segala urusan bencana
transportasi sepenuhnya kepada Menhub semata. Terlebih lagi, bila tidak
ada keterlibatan ektra serius dan hati-hati dari masyarakat saat
menumpang kendaraan serta keterlibatan penuh dari pemangku kekuasaan.
Hingga kejadiaan tak berkesudahan itu dapat diminilalisir dan tak
begitu banyak menelan kobran yang tak berdosa. Uintuk itu, maka wajar
bila masyarakat menginginkan pemimpin yang tanggap secara dini terhadap
persoalan pelik tersebut.
Meski,
selain perlu kepengurusan yang punya kecakapan mengatasi bencana
transportasi, juga betapa mendesaknya konsep menegemen bencana untuk
segera direalisasikan. Ini agar wong cilik
dapat mendeteksi gejala-gejala bencana dan pertolongan pertama dalam
kecelakaan supaya tak panik, hingga nyaris tak melakukan tindakan yang
bersifat konyol.
Thus,
rakyat sungguh menunggu pemimpin yang mampu melakukan dua tindakan
berani dalam dua perkara itu. Siapakah sosok pemberani itu? Entahlah
[Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/02; 23.26 wib