Kitab (12)


Written on March 17, 2007 – 12:53 am | by ghifarie
Selamat Jalan Kawan
Oleh Ibn Ghifarie


`Leudz, naha bet ceurik sagala. Biasanage lamun nonton teh tara ceurik kitu. Paling-paling ge buru-buru nulis,`
ungkap salah satu kawanku.

`Wah,
pantesan we da ningali eta (liputan tenggelam kapal Velina yang menelan
Suherman, kameramen Lativi-red). Mentang-mentang sapropesi nya,`
tambahnya.

Tak
ayal, lontaran kata-kata bernada keheranan itu, tentu saja menghentakan
perasaanku. Pasalnya, aku sedang mengikuti perkembangan tenggelamnya
kapal Levina yang menelan berpuluh penumpang tak berdosa. Termasuk,
Suherman, kameramen Lativi meninggal dunia dan tiga orang yang hilang, yaitu satu juru kamera SCTV Muhammad Guntur dan dua anggota Laboratorium Forensik Mabes Polri, Lugeng Widodo dan Widiantorotiga (Liputan 6 petang, 25/02).

Semula
tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda
membenarkan ikhwal kesedihan yang begitu mendalam atas terjadiya
peristiwa naas tersebut. Walau dalam diriku bergulat seribu pertanyaan
sekaligus menuntut jawaban segera. `Eh
naha beut kudu ceurik sagala. Padahal mah pan urang jeung maranehna teh
lain deungeun-deungeun acan, iwalti sadulur ti anak adam,`
gumamku.

Meski aku bukan tukang kuli tinta
sepropfesional Suherman dan M Guntur. Namun, paling tidak aku merasakan
perjuangan sekaligus keluh kesah jurnalis saat magang dibeberapa media.
Pasalnya, data bagi wartawan merupakan ruh dan pembaca menuntut karya
bermutu.

Bila sejumlah Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) dan
PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) menakukan aksi doa bersama dan
sholat saat meninggal Suherman. Berbeda denganku. Tak ada aksi
solidaritas dan berdoa secara berjamaah. Selain menulis dan menulis
saat musibah mengerikan itu terjadi. Hanya itulah yang bisa ku perbuat
dan seraya berucap `Selamat jalan kawan. Semoga berada dalam lindungan
Tuhan. Amien`. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/02; 18.56 wib



Post a Comment