Kitab (13)


Written on March 17, 2007 – 1:01 am | by ghifarie
Andai Saya Hatara Jasa
oleh Ibn Ghifarie

`Saya
tetap akan menjadi Menteri Perhubungan. Walau cacian terus menimpaku.
Pokoknya harus menyelesaiakan persoalan dulu. Bukan malah saling
menyalahkan dan mengundurkan diri karena masalah itu tak akan selesai
dengan cara mengundurkan diri saja,` ungkap Adam mahasiswa Sejarah
Peradaban Islam (SPI).

`Ya daripada rusak dan berakibat patal
kepada masyarakat dan tidak menyelesaiakn masalah. Mendingan tetap jadi
Menteri,` tambahnya.

Senada dengan Adam. Salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya ikut nimbrung `Pokona
mah ulah turun da lain salah-salah teuing mentri, tapi rakyat. Coba
lamun teu dipilih pamingpina (Presiden-red), sigana moal kieu,`
cetusnya.

`Matakna
tong salah pilih dina pemilu engke mah. Pan lamun geus kieu mah tarima
we ka ayaanana. Jeng omat tong disaruakeun bangsa urang jeung Jepang
dina pasoalan ieu. Lamun Jepang gagal dina mingpin nagara PMna (Perdana
Mentrina-red) pasti ngundurkeun diri. Tah lamun Indinesiamah moal.
Buktina Hatara Jasa atawa Ical (Abu Rizal Bakri-red) masih jadi
mentri,`
kilahnya. 

Berbeda dengan Pradewi Chatami
mahasiswa Psikologi angkat bicara `Saya akan mengundurkan diri. Kalau
tidak bisa, maka saya akan menggandeng Bung Yos (Sutioso, Gubernur DKI
Jakarta-red) sebab Ia pandai membuat jalan. Proyek Trans Jakarta salah
satunya,` katanya.

`Meski perbaikan jalan dan memperketat trayek
transpotrtasi yang harus diutamakan dalam menyelesaikan bencana
transportasi,` jelasnya.

Meski mendapat kritikan bertubi-tubi
dan bernada pedas. Sekalipun menuntut Menhub untuk segera menyatakan
siap mengundurkan diri, tapi Ia malah ribut mencari kambing hitam atas
terjadinya musibah tak kunjung selesai pada jalur transpotrasi darat,
laut maupun udara.

Nyatanya, naluri kemaluan dan hati nurani
pemimping pula sudah tak tentu dimana rimbanya. Yang jelas mereka
berani secara terang-terangan dan berlomba-lomba dalam perbuatan lalim
dalam menjalankan amanah rakyat. Hingga Noval Noval mahasiswa Sosiologi
menuturkan`Kalah kumaha ge bangsa
urang mah hese ngaku teu mampu dina ngabereskeun pasoalan atawa ngaku
salah terus dibarenganku ngundurkeun diri tina jabatan. Sabab lain
Jepang jeung goreng kasebutna lamun can bisa ngabereskeun masalah,
`

`Mendingan disebut awet rajet daripada turun tina mentri lain waktuna, `menutup pembicaraanya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 27/02; 19.24 wib



  1. One Response to “Kitab (13)”

  2.   By Ari on Mar 29, 2007 | Reply

    Seandainya yang maju dan berkembang di Indonesia ini akal dan hati, mungkin semua masalah akan terselesaikan oleh adanya rasa saling membantu… tapi semua kembali pada kita, kita ini golongan manusia yang mengandalkan akal dan hati atau mulut dan tangan?… renungilah lebih banyak mana kita menggunakan itu? akal dan hati atau mulut dan tangan?… :)

Post a Comment