Kitab (15)


Written on March 17, 2007 – 1:06 am | by ghifarie

Lagi, Ibu Kandung Bunuh 4 Anaknya
Oleh Ibn Ghifarie

 

Lagi, seorang ibu tega membunuh 4 anaknya. Kali kedua peristiwa mengerikan itu terjadi di

Malang

.
Keempat buah hatinya tewas terbujur kalu karena diracun ibu kandungnya
sendiri. Setelah keempat anaknya meninggal, sang ibupun menyusul bunuh
diri, dengan meminum racun yang sama. Kelima jenazah tersebut adalah
Junania Mercy, 35, dan empat anaknya, yaitu Athena Latonia, 11,
Prinsessa Ladova, 9, Hendrison, 9, dan Gabriela Al Cei, 1,5. Peristiwa
menggegerkan itu baru diketahui masyarakat pada Minggu (11/3) siang.

 

Diduga
mereka telah tewas pada Sabtu malam. Sebelum bunuh diri, Mercy
menjajarkan keempat anaknya yang sudah tewas di atas tempat tidur di
rumah mereka di Jl Taman Sakura RT 1/10 No 12, Lowok Waru,

Malang

. Tak jauh dari kelima mayat itu terdapat

surat

yang ditulis Mercy, yang berisi ucapan terimakasih pada suami Mercy
yang juga ayah keempat bocah, Hendri Suwarno, 37. Mercy juga meminta
agar jenazahnya dan anak-anaknya dikremasi. (Waspada online, 13/03)

 

Masih
ingat dalam benak kita, di pertengahan tahun 2006. Bagaimana seorang
ibu membunuh 3 anaknya. Alih-alih tak mampu membahagiakan pujaan hati
pun berujung pangkal pada pengambilan nyawa ketiga anaknya.

 

Mesti
pihak berwajib tak menetapkan terdakwa sebagai pelaku pembunuhan
berencana sekaligus menjerat tersangka dalam hotel predeo.

Pasalnya

Ia

mengalami ganguan kejiwaan akut. Tentunya, setelah mendapatkan rekomendari dari rumah sakit jiwa.

 

Menjamurnya,
aksi pembunuhan berdarah dingin bak fenomena gunung es. Terlebih lagi,
dengan dalih kehidupan ekonomi keluarga yang tak kunjung membaik.
Membuat sebagian orang menyudahi segala persoalan pelik itu dengan
bunuh diri.

 

Keberadaan
Sang Kholik pula sebagai tumpuan segala pertolongan dan kemauan kita
malah ditinggalkan jauh-jauh. Semangat berusaha dan bekerja keras guna
mencukupi keperluan rumah tangga, malah kian memudar. Hingga
mengandalkan belas kasihan dari pihak berderma. Ironis memang.

 

Namun, inilah potret muram warga

Indonesia

yang tak bisa keluar dari multi krisis. Termasuk krisis kepercayaan dalam menghadapi hari esok. [Ibn Ghifarie]

 

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 13/03;17.25 wib



  1. 2 Responses to “Kitab (15)”

  2.   By Ari on Mar 29, 2007 | Reply

    Ketika manusia merasa bahwa dirinyalah yg menentukan hidup! disitulah kata Tuhan hilang dengan sendirinya… apa yg pantas disombongkan oleh mahluk yg tidak bisa menghentikan waktu sedetikpun, selain Taqwa?… sesungguhnya akal, harta, jabatan hanya bagian terkecil dari sebuah perjalanan hidup… karena bagian terbesarnya adalah kenyakinan pada kata Tuhan itu sendiri… apa artinya enaknya ayam pangga kalau hati tidak tenang?… :)

  3.   By ryan on Apr 8, 2007 | Reply

    subhanallah tulisan ini bagus ekali.dan semoga sesuai dengan orangnya.temanmu yg lama ga jumpa,mudah2an kita ketemu nanti di indo.

Post a Comment