Kitab (3)


Written on April 10, 2007 – 6:03 am | by ghifarie
Aku, Maulid Nabi dan Semangat Pembebasan
Oleh Ibn Ghifarie

`Lho…kenapa
Umat Islam juga melakukan peringatan Hari Raya Maulid Nabi (kelahiran
Muhammad-red). Bukankah itu sama halnya dengan kami. Umat Kristiani
yang memperingati hari Natal (kelahiran Yesus-red), bener ga Leudz
` kata salah satu temanku (Kristen-red) saat menjawab pertanyaan `Kenapa
setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani selalu melekukan acara
Natalan. Bukankan kebiasaan itu tak ada dalam tradisi Isa As?`

Tak
ayal, lontaran kata-kata bernada ganjil itu, tentu saja menghentakan
perasaanku sekaligus tak ada obrolan lagi antara kawanku (Kristen)
dengan temenku (Islam) yang lain.. Pasalnya, ruang dialog antar iman
sudat tertutup rapat-rapat, hingga nyaris tak menyisahkan kata-kata
lain selain diam seribu bahasa.

Semula
tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda
membenarkan ikhwal kesamaan antara Maulid Nabi dengan Natalan tersebut.
Walau dalam diriku masih bergulat seribu pertanyaan sekaligus menuntut
jawaban segera. Salah satunya, kenapa kelahiran Rasulullah tak mau
disamakan dengan kelahiran Yesus Keristus?

Konon, dipenghujung
abad ke-11 Masehi, dunia Islam kewalahan menghadapi serangan
negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman dalam Perang
Salib. Hingga pasukan Barat (1099) akhirnya dapat merebut Jerussalem
sekaligus mengubah Masjidil Aqsa menjadi gereja. Sultan Salahuddin
Yusuf Al-Ayubi yang berkuasa 1174-1193 Masehi (570-590 H) melihat
kekalahan dunia Islam disebabkan oleh daya juang kaum Muslimin yang
semakin melemah.

Maka, ditangan Salahuddinlah kelahiran Nabi
Muhammad saw menjadi momentum kebangkitan umat Islam. Pada mulanya,
maulid Nabi diperingati di wilayah Suriah Utara untuk membangkitkan
kembali semangat juang umat Islam. Ternyata, peringatan maulid ini
berhasil membangkitkan girah jihad, sehingga kemudian diperluas
pelaksanaan peringatannya di seluruh kekuasaan Islam.

Salahuddin
berasal dari Suku Kurdi. Semula Ia sempat mendapat tantangan dari para
ulama dalam rangka peringatan maulid sebagai sesuatu yang bid’ah.
Namun, ia meyakinkan pemuka agama, peringatan maulid bukanlah ritual
peribadatan semata, melainkan sfirit membangkitkan gairah dan semangat
juang umat islam. Sebagai Khadimul Haramain (Pelayan kota suci Mekah
dan Madinah), Salahuddin bahkan selalu mengingatkan jemaah haji untuk
merayakan maulid sesampainya di tanah air masing-masing. (Pikiran
Rakyat, 30/03)

Thus, strategi Salahuddin ternyata membuahkan
hasil dalam memenangkan Perang Salib (1187/583). Semenjak itulah,
penanggalan 12 Rabiul Awal setiap tahunya selalu diperingati umat islam
dibelahan dunia manapun.

Kini, semangat pembebasan `Maulid Nabi`
dari penguasa lalim itu mulai memudar, hingga nyaris berubah menjadi
kegiatan seremonial belaka. Tengok saja, peringatan kelahiran nabi di
daerah mana saja selalu dimeriahkan dengan pelbagai kegiatan yang tak
sedikit mengeluarkan biaya. Mulai dari perlombaan; menggambar,
kaligrafi, azdan, busana muslim, baca, tulis Al-Qur’an sampai Tabligh
Akbar dengan mengundang Kyai kondang.

Perhelatan akbar itu,
tentu saja membutuhkan dana banyak dan tak terlalu berdampak pada
kehidupan social masyarakat. Tak ayal, keterbelakangan dan kemiskinan
di negara muslim manapun masih menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan
lagi. Bahkan nyaris tak mengenal dunia teknologi.

Dengan demikian, ghirah Maulid Nabi hanya menjadi kemenangan semu ditengah-tengah porak porandanya bangsa kita pasca bencana.

Kelaparan,
ketertindasan, buta hurup masih menyelimuti kita. Berbeda dengan umat
Kristiani saat memperingati Hari Natal. Selama ikut terlibat aktif
dalam Forum Silaturahmi Lintas Iman, mereka acap kali menggelar bakti
sosial, pengobatan gratis, khitanan masal, pelatihan keterampilan
kepada anak-anak jalanan, masyarakat tertinggal. Meski mereka tetap
menggelar acara Natalan dalam bentuk ritual. Berdoa, memohon ampun di
depan altar. Mudah-mudahan semangat Yesus Kristus selalu menyertai
umatnya. Haruskah roh Maulid Nabi berakhir pada kegiatan ritual belaka?
Entahlah.

Walhasil,
silaturahmi anta iman pun, mulai tak ramai, hingga satu persatu
meninggalkan ruang pertemuan menuju ruang makan. Terlebih lagi, saat
salah satu kawanku non-muslim mengeluarkan pertanyaan balik `Eh…malah ikut-ikutan ngerayain kelahiran Nabi juga. Benerkan.` [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 31/03;23.08 wib



Post a Comment