Kitab (4)


Written on April 23, 2007 – 3:51 am | by ghifarie
Jika Tetap Pertahankan Budaya Kekerasan, Bubarkan IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

`Waduh
mendingan dibubarin aja. Apa jadinya nanti bangsa Indonesia, kalau
dipimpin oleh calon-calon pejabat berwatak preman dan biadab tersebut,
tutur Ahmad saat menanggapi kematian Cliff Muntu, Praja Madya Institus
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor Sumedang (02/04).

Kematian
praja itu, telah membuat deretan panjang kekerasan terselubung di
kampus STPDN tersebut. Seolah-olah IPDN belum jera dan sangat
disayangkan oleh sejumlah kalangan mahasiswa. Bahkan, sebagian aktivis
pergerakan meminta IPDN ditutup saja, jika sistem pembinaan di sekolah
calon pemimpin negara itu tidak bisa juga diperbaiki. Salah satunya
Abdul Bari, aktivis LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) menuturkan
` Wah mendingan dibubarkeun wae.
Solana anger wae geus diganti ngaran geu (dari STPDN menadji IPDN-red).
Ari tradisina samodel kitu mah.`

`Da
pang-pangnamah geus turun-temurun. Siga di Pesantren lamun LDK (Latihan
Dasar Kepemimpinan-red) pan junior the kudu nurut ka senior. Rek
dikukumahakeun bae paribahasana,`
kilahnya.

Hal senada
pun terlontar dari Apuy mahasiswa Aqidah Filsafat `Geus waktuna kudud
dibubarkeun. Masalahna mah geus teu manusiawi wae. Lain pan cita-cita
diajar teh keur nyieun jalma anu bisa ngamanusiawikeun manusia. Lain
samidel kitu,` tegasnya.

`Ini mesti dibubarkan. Masalahnya
sistem yang ada beserta kebiasaan jelek itu sudah mengakar,` kata Oval
aktivis Jarik (Jaringan Islam Antar Kampus) Bandung.

`Kalapun
tidak apakah menjamin dengan dipecatnya keempat praja itu, kejahatan
tak akan terulang kembali. Belum tentu tidak. Karena lagi-lagi budaya
kekerasan itu telah mendarah daging,` tambahnya.

`Ah..pokona mah kudu dibubarkeun wae. Naha urang rela jaga dipimpin ku model-model pajabat kitu. Embung pan!,` demikian kata salah satu aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya.

Lain
halnya, dengan aktivis mesjid angkat bicara `Wah tidak mesti
dibubarkan, karena tidak semua pendidik sekaligus senior Praja itu
berprilaku lalim. Coba pikirkan. Kan bisa dihitung dengan jari dan
hanya beberapa gelintir orang saja.`

Nah, baru bila tetap
mempertahankan tradisi kekerasan dan menjadi sisitem aturan main dalam
menghukum yang melanggar. Baru dibubarkan,` jelasnya [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 06/04;11.38 wib



Post a Comment