Kitab (6)


Written on April 23, 2007 – 3:56 am | by ghifarie
Rektor UIN di Pilih Senat; Kemunduran Besar Bagi Universitas
Oleh Ibn Ghifarie

Perubahan
status IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunana Gunung Djati (SGD)
Bandung menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) berdampak pada pemilihan
Rektor baru yang diserahkan kepada 47 Anggota Senat.
Bahkan sebagian civitas akademik menilai mekanisme ini sebagai satu
kemunduran dari UIN. Pasalnya, ditengah-tengah derasnya arus demokrasi
dan otonomi daerah. Maka dalam pemilihan pemimpin pula mestinya memakai
sistem langsung dengan jargon dari, oleh dan untuk rakyat.

Tengok saja, saat pemilihan Pilpres (pemilihan Presiden dan Wakil Presiden), Gubernur, Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).

Kini,
UIN malah melanggengkan budaya perwakilan. Hingga membandingkan dengan
Unpad dan ITB dalam pemilihan Rektor yang kadung memakain sistem
senator. Tentunya, menjadi hal yang biasa.

“Kalau di perguruan
tinggi lain seperti Unpad dan ITB, pemilihan rektor oleh senat sudah
hal biasa. Bahkan, di Malaysia dan negara-negara Eropa pemilihan rektor
oleh lima guru besar senior,” papar Prof. Drs. H. Pupuh Fathurrahman,
Sekretaris Senat UIN SGD.

Bila waktu pemilihan rektor tahun 2004
lalu mekanismenya diserahkan kepada dosen dan mahasiswa, sehingga
mereka ikut memilih rektor. “Kalau bicara demokratis, maka pemilihan
rektor yang melibatkan dosen dan mahasiswa adalah demokratis. Tapi,
sering terjadi konflik di antara dosen maupun mahasiswa karena
masing-masing memiliki jago yang didukungnya,” jelasnya

Padahal,
mahasiswa bersifat sementara karena setiap tahun berubah jumlah baik
mahasiswa baru maupun lama. “Mahasiswa bersifat temporer sehingga wajar
Menag menetapkan pemilihan rektor UIN oleh senat universitas,”
tambahnya.

Menurutnya, agenda pemilihan, tahun 2007 ini sudah
harus terpilih rektor baru UIN SGD. Bisa saja pemilihan rektor pada
bulan Juni atau maksimal Desember.

Menyoal pemilihan rektor via
senator. Salah satu mahasiswa angkat bicara, `Waduh ini sudah
ketinggalan zaman. Orang lain pada memakai sisitem pemilihan langsung.
Ini malah memakai perwakilan. Kan satu kemunduran besar bagi UIN, kata
aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya.

`Ini sudah
terjadi pemberangusan besar-besaran sekaligus mencoreng ruang
demokrasi. Sudah jelas-jelas DPR (Dibawah pohon Rindang-red) tak boleh
dipakai kegiatan mahasiswa, Pelataran Rektorat juga beralih fungsi
menjadi taman dan samping Auditorium berubah menjadi arena parkin.
Eh..malah dalam hal pemilihan Rektor pun mahasiswa, dosen tak
dilibatkan. Sunggung keterlalauan dan sangat mundur sekali,` jelasnya.

`Apa
yang dibanggakan dengan UIN, fasilitas masih kaya dulu dan tetap tak
berubah. Paling Cuma ganti chesing saja. Bahkan ada beberapa Fakultas
(Psikologi dan Saintekh-red) yang tidak mempunyai ruang belajar
mengajar tetap. Ini sunguh memalukan. Katanya, sudah Universitas.
Sekali lagi, ini satu kemunduran, tambahnya.

Lain hanya dengan
Dani, mahasiswa Fakultas Tarbiyyah dan Pendidikan `Ah tak begitu peduli
dengan pemilihan Rektor mau langsung atau melalui senat tak peduli
amat, yang penting bagi saya kuliah beres dan dapat kerja sesudah
keluar dari kampus,` cetusnya.

`Dan mereka biasnya tak mau
membantu saya. Coba jika nilai jelek, tetap saja saya harus mengulang
mata kuliah. Bahkan terkadang mereka tak mau tau dengan persoalanku
kalau sudah menjadi pemimpin, tetap saja masyarakat kecil yang
tertindas,` paparnya.

`Yang jelas tak berefek apapaun. Malah bikin pertengkaran di tingkatan mahasiswa karena mendukung satu calon,` tegasnya.

`Wah.
Mamaenya teu adil atu kitumah. Keurmah mahasiswa teh kaluper tak tau
informasi tentang UIN di tambah dengan ketidak tauan pemilihan rektor,
bakal muncul presepsi prsepsi buruk. Maka dari itu disebut tak adil `
kata Dzarin mahasiswa jurnalistik.

Menurutnya, `Keur mah UIN
banyak dilanda masalah. Baru aja kemaren masalah anak uang praktek
(sebesar Rp. 3000-9000,00-red) belum selesai. Bade nambih masalah deui.`

Selain
itu, `saya yakin 100% mahasiswanya juga tak tau menahu tentang
perkembangan UIN. Salah satunya, saat Dies Natalis tiba (09/04)
mahasiswa tak mau tau.`

Meski begitu, kita tetap harus
memberikan informasi itu ke mahasiswa lain. `Makana urang ngabangun FS
(friendster-red) UIN, Link dan web jurusan teh ngarah arapal informasi,`

Hingga
hari ini terdapat dua nama calon Rektor periode 2007-2011 yakni Prof.
Dr. H. Nanat Fatah Natsir (Rektor sekarang) dan Prof. Dr. H. Rahmat
Syafei (Pembantu Rektor I).

Namun, ketika Nanat Fatah Natsir
ditanya masalah pemilihan rektor tak mau memberikan komentar panjang
termasuk rencana maju kembali sebagai calon rektor.

`Pemilihan
rektor masih lama kurang lebih bulan Juni nanti, sehingga belum perlu
dibesar-besarkan. Saya belum memutuskan mau maju dalam bursa pemilihan
atau tidak,` tegasnya.

Nyatanya peralihan IAIN menjadi UIN di
akhir kepengurusan pemimpin Nanat Fatah Natsir sekaligus mencari Rektor
baru, tak selamanya dibarengi dengan tradisi baru dan semangat baru.
Malah terkesan meninggalkan sistem lama yang telah dibiman. Akhirnya
asfirasi mahasiswa pun harus rela ditanggalkan melalui Senat. [Ibn
Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/04;12.34 wib



Post a Comment