Kitab (7)
Written on April 23, 2007 – 3:58 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
APA
YANG ANDA LAKUKAN MANAKALA HARI KARTINI ITU TIBA? Aksikah, demokah,
turun kejalan sambail meneriakan yel-yel ataukah diam seribu bahasa.
Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tidak akan
menjawabnya. Tapi akan bercerita perempuan. Pasalnya momen ini
merupakan hari bersejarah bagi kaum hawa. Mereka berusah ingin hidup
lebih baik dalam bingkai kesetaran dan keadilan. Meskipun dalam
mewujudkan cita-cita itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan,
tapi memrlukan keuletan, ketabahan dan kesabaran.
Tengok saja,
tindakan kriminalitas tentang kekerasan semakin marak di negeri beradab
ini. Seperti pelecehan dirumah tangga, baik kekerasan anak terhadap
orang tuanya, maupun sebaliknya. Bahkan yang lebih ironis lagi
perbuatan keji itu di lakuakan oleh ibu terhadap anaknya.
Kedengaranya
aneh memang, seorang ummi yang notabene mempunyai hasrat naluri
keibuan–lemah lembut, gemulai, sopan dan penyayang, tega-teganya
melakukan tindakan kekerasan fisik ataupun fisikis terhadap buah
hatinya.
Ambil contoh, Januari yang lalu di daerah Gunung Kidul
Jogjakarta di kejutkan oleh seorang Ibu bernama Ruhiem dan ketiga
anaknya melakukan pembunuhan dengan cara mencapur racun tikus pada
nasinya.. Usut punya usut ternya mereka sudah beberapa hari tidak
makan. Menemukan lauk pauk apalagi. Tiba-tiba perempun setenga baya itu
hilap dan pada akhirnya melakukan bunuh diri masal. Walaupun, keluarga
tersebut tidak mati, karena dapat di tolong oleh tetangganya (Pikiran
Rakyat, 31/01).
Peristiwa serupa pun terajdi di Cirebon dan
Tanggerang. Pembakaran anak oleh Ibunya sendiri. Pasalnya perempuan
kepala tiga itu, tidak tahan lagi dengan kebiasaan suaminya selalu
mabuk-mabukan dan tak jarang memberikan nafkah hampir satu tahun.
Sekoyong-koyong, entah kerasukan setan apa wanita itu, nekad melakukan
perbuat ngeri tersebut (Radar, 19/01).
Ironisnya, di
tengah-tengah arus informasi mudah di dapat dan menjamurnya gerakan
feminis. Perbuatan senada pun terjadi, bahkan lebih perih lagi. Seperti
yang di alami oleh Siti Nur Azilah di Surabya belakangan ini. Lisa,
sapaan akrabnya mendapatkan perilaku tidak wajar dari suaminya. Ia di
siram air raksa ke wajahnya. Sampai-sampai Lisa harus melakukan operasi
face off di Rumah Sakit (RS) DR Soetomo Surabaya. Lagi-lagi kemiskinan
lebih akrab dengan perempuan akibat marzinalisasi.
Dominasi Tafsir Patriarkhi.
Menilik
persoalan tersebut, membuat kita mengerutkan kepala bila mencari
jawaban. Apa yang melatar belakanginya modus tersebut? Tentu saja,
perlakuan ganjil itu di akibatkan penafsiran ayat-ayat Tuhan yang kaku
dan rigid. Seperti yang di utarakan oleh Rifat Hasan, bias tafsir itu
terjadi mana kala; pertama, Penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam.
Kedua, Perempuan bertanggung jawab atas turunnya Adam dari surga.
Ketiga, Tujuan di ciptakanya Mojang untuk Jajaka.
Selain itu,
kuatnya pengaruh ulama dalam menafsirkan ayat-ayat yang berpihak pada
laik-laki. Semisal, Arijalu Qowwamuna Ala annisa (Anissa:34); laki-laki
menjadi pemimpin di antara perempuan. Bermula dari pemaknaan itu, pada
akhirnya kaum Hawa di nilai sebagai pelengkap bagi kaum Adam semata. Di
tambah lagi, posisi pemuka agama lebih tinggi dari kedudukan presiden.
Pendek kata, ulama sebagai pewaris utama para nabi.
Mengapi
kemalut yang akaut dan pelik itu, Fazlu Rahman mengartikan surat
Anissa:34 itu mesti dimaknai berkisar pada fungsional, bukan pada
perbedan hakiki. Artinya bila perempun memiliki kemampuan dan kemaun
dalam mengemban amanah itu, maka berikanlah, tegasnya.
Senada
dengan Rahman, Aminah Wadud mengomentari permasalahan tersebut. Bagi
Wanita kontroversi itu, selama yang bersangkutan tidak bertentangan
dengan al-qur’an sah-sah saja. Apalagi bila kita melihatnya secara
fungsional, tutur pakar studi agama-agama itu.
Lebih lanjut,
Guru Besar asal Maroko itu, menegaskan penafsiran itu tidak dimaksudkan
superioritas hanya melekat pada kaum Adam secara otomatis, sebab itu
terjadi secara fungsinal semata. Selama perempuan mempunyai kemampuan
dan kualitas, berilah kesempatan, katanya.
Akibat dari pemahaman
dan mendara daging di masyarakat. Kaum Nisa tidak boleh menjadi
pemimpin dan hakim. Karena di anggap irasional, emosional dan tidak
bisa menentukan keputusan. Hingga terdapat satu stereoty; kaum Adam
membuat keputusan. Sementara kaum Hawa membuat kopi. Ujung ujungnya
kaum Banat mesti berkutat pada ranah kasur, sumur dan dapur.
Tak
berhenti sampai di sini saja, kaum Hawa pun tidak boleh mendapatkan
pendidikan yang tinggi. Seperti yang dilansir oleh Jurnal Perempuan (JP
No 23, 2003) terhitung dari tahun 1980-1990 angka perempuan masuk ke
lembaga pendidikan lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki. Di
tingkat SMA; 41,45%:58,57% dan diperguruan tinggi 33,60%:66,40%.
Padahal mengeyam bangku sekolah investasi jangka panjang bagi masa
depan nasib mojang kelak. Menjadi pentolan di panggung politik apalagi.
Proses subordinat acap kali menimpa kaum banat. Seolah-olah perempuan
tidak boleh berdikarir di ruang publik, tapi domestik.
Maka Ambilah Pena.
Mencermati
kemiskinan wanoja buah dari domestifikasi dan pembagian peran menurut
jenis kelamin adalah pemandangan akrab bagi kita. Tidak ada cara lain
selain bangkit dan angkat pena. Pasalnya, kuatnya ideologi patriarki
dalam bingkai penafsiran. Mesti ada penafsiran berbasis feminis, yang
ramah dan menyapa perbedaan. Coba tengok, adakah mufasir sekaligus
pemikir perempuan? Kalaupun ada itu masih bisa dihitung dengan jari.
untuk bangsa Indonesia masih kecil bila di bandingkan dengan laki-laki.
Paling tidak terdapat sederetan tokoh; Musdah Mulya, Ratna Mega Wangi,
Gadis Arivia, Zakiyyah Darajat, Hopipah Indah Pawangsa, Dee dan Ayu
Utami dll. Apalagi pada tataran Kampus UIN SGD Bandung. Seberapa banyak
organisasi perempuan? Seberapa banyak pergelaran lomba karya tulis di
gelar? Berapa banyak penulis dari kalangan kaum hawa?
Dengan
demikian, mengangkat pena menjadi penting, bahkan sangat erat kaitanya
dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mina
Bean, Hanna, Aminah Wadud, Rifat Hasan sangat percya dan meyakini
penemuan tulisan benar-benar telah membentuk pearadaban.
Sangatlah
wajar bila Fatima Mernisi dengan lantang menyuarakan kaum Nisa untuk
menulis. Karena penafsir jumplang harus di lawan dengan penafsir lagi.
Bahkan bagi penulis Teras Terlarang itu, goresan pena merupakan obat
mujarab awet muda. Apalagi kebiasaan itu di lakukan setiap hari.
Terutama setelah Sholat Subuh, tuturnya Lantas mesti mulai dari mana?
Tulislah
apa yang di lihat, di alami, di raskan dan di pikirkan dalam bentuk
coretan. Seperti yang di ungkapkan oleh JK Rowling “mulailah dengan
menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan
perasasmu sendiri. Itulah yang saya rasakan,” ungkap penulis Hery
Pother itu.
Tentu saja, hampir semua orang agaknya pernah
melakukan curat-coret. Entah menarikan pena di atas tumpukan; pesan,
memo, dan buku harian. Jadi ada pelbagai ragam cara menuangka ide atau
gagasan. Jika kita mesih kesulitan memulai membikin apa tulisan yang
bersifat luas dan dalam, maka kita bisa memulai latihan dengan cara
membuat coretan yang ringan dan sederhana. Misalnya dimulai dengan
membikin surat pembca dan diary. Semisal yang pernah dilakukan oleh Soe
Ho Gie lewat Catatan Seorang Demonstran dan Ahmad Wahib melalui Catatan
Harian (Pergolakan Pemikir Islam).
Pendek kata, mengangkat pena
menjadi satu keharusan bagi kaum pelajar. Sebab tanpa itu semua harkat
martabat kita akan dianggap rendah, bahkan lebih buruk dari binatang.
Untuk
itu, sangatlah wajar apabila dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22)
dan (Taringan, 1983;11) dikenal satu pameo; sebagaimana bahasa
membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan
manusia beradab dari manusia biadab (as languange distinguish hes man
from animal, so wraiting dis tinguister civilizen ma from barbarian).
Thus, lengkingan pena hanya terdapat dalam peradaban.
Dalam ungkapan
lain, buku adalah pengusung peradaban, tanpa buku sejarah menajdi
sunyi, sastr bisu, ilmu pengetahuan lumpuh serta pikiran dan spekulasi
mandek, begitulah Barbara Tuchmat berujar.
Lagi-lagi upaya
merangkai kata dalam bingkai tulis. Terlebih dahulu simpan rasa
ketakutan-ketakutan. Namun, “tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer
“Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima
penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti
berguna,” tutur Pria mantan Lekra itu.
Dengan demikian,
mudah-mudahan dengan di peringatinya Hari Kartini ini, kita dapat
melanjutkan perjuangannya. Sampai-sampai RA Kartini menggoreskan pena
kepada karibnya “bila perempuan bisa membeli kebebasannya, merak harus
membayar mahal sangat mahal. Mereka akan menghadapi kenestapaan.”;
“Pergilah., bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu”; Suatu hari
perempuan asal Jepara itu, menulis surat buat Ny RM Abendono-Mandiri
(12 Oktober 1902) “orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya,
tapi jangan pena saya! Ini tetap milik saya dan saya akan berlatih
dengan rajin mengunakan senjat itu. Janganlah kami terlalu di usik,
sebab kesabaran yang sesabar-sabarnya. Akhirnya juga akan habis juga.
Oleh karena itu, kami akan menggunakan senjata itu. Walaupun kami
sendiri akan terluka kerenanya. Aduhai! Tuhan, berilah kami kekuatan,
kekuatan dan bantulah kami! Mafkan saya, cintalah anak-anakmu yang
berkulit coklat ini.” Sudah siapkah kaum Banat merdeka? Pojok Sekre
Kering.[Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 15/04;23.21 wib