kitab (8)


Written on May 5, 2007 – 12:32 am | by ghifarie
Menguak Tabir ‘Kelam’ IPDN
Oleh Ibn Ghifarie

Di
tengah-tengah gencarnya pengusutan tuntas kematian Praja IPDN bernama
Cliff Muntu. Belum membuah hasil menggembirakan. Terlebih lagi bagi
keluarga korban.

Kendati masih di selimuti kabut tebal siapa
pelaku mesteri pembunuhan Cliff Muntu sekaligus dalang intelektualnya.
Namun, perilaku penyimpangan makian marak terjadi di Institut Jagal
Jatinangor tersebut. Mulai dari menjamurnya tradisi fee sex, akrab dengan obat-obatan haram sampai disinyalir menjadi sarang  narkoba bagi daerah Sumedang.

’Ada
wartawan yang tanya ke saya soal kebenaran adanya praja yang melakukan
hubungan seks bebas, dan narkoba. Saya langsung minta mereka cek
sendiri, dan ternyata itu memang benar,` kata Inu Kencana Syafiie

Dikatakan,
indikasi seks bebas dan narkoba itu, bisa dilihat di kos-kosan praja
IPDN yang berada di luar kampus. ‘’Praja kan tidak diizinkan punya kos
di luar kampus. Banyak di antara mereka punya kos di luar kampus. Media
sendiri yang membuktikan,’’ jelasnya. (Riau Pos, 25/04)

Sejak
2000-2004, kasus seks bebas yang melibatkan praja IPDN mencapai 660
kasus. `Ini gila sekali, karena dari 660 kasus ini tidak satu pun
mahasiswa yang dikeluarkan. Karena bisa memberikan alasan,` ungkapnya
saat di depan kamar mayat RS Hasan Sadikin, Jalan Pasteur, Bandung,
Selasa (3/4/2007).

Data itu diperoleh Inu dari hasil riset
terkait disertasi doktornya — yang belum disidangkan — di Universitas
Padjajaran. Disertasi itu berjudul Pengawasan Kinerja STPDN Terhadap
Sikap Masyarakat Kabupaten Sumedang.

Selain kasus seks bebas,
Inu juga mencatat selama kurun waktu 2000-2004 terjadi 35 kasus
penganiayaan berat. 8 Praja yang terkait kasus ini kemudian
dikeluarkan. Tercatat 125 kasus narkoba dan 5 praja dikeluarkan, 9.000
kasus penganiayaan ringan, dan tidak ada satu praja pun yang
dikeluarkan.

"Bayangkan penganiayaan ringan yang ada di bawah kendali pembinaan, siswanya tidak dikeluarkan," tambahnya. (Detikcom, 03/04).

Tak hanya itu, upaya membongkar jaring-jaring kelam di IPDN kian gencar, bahkan Inu sendiri mengeluarkan buku berjudul IPDN Undercover; Sebuah Kesaksian Bernurani

Bila dulu media masa pernah di gegerkan oleh Muamar Emka dengan Jakarta Undercover dan Surabaya Undercover.  Tentunya, berdasarkan hasil penelitian seks party dan mendarah dagingnya kebiasaan minum-minuman dan mengkonsumsi obat adiktif di kalangan tertentu.

Kini, kebobrokan di sekolah jebolan pejabat mulai terbongkar dalam bingkai IPDN Undercover.

Dalam hidup yang akan sampai seratus
Tahun kenapa tidak kau terjang saja segalanya ini
Telan kepahitan tanpa peduli,
demikian salah satu petikan puisinya.

Kendati terkesan ikut-ikutan Emka, pemilihan judul IPDN Undercover
sendiri tidak terlepas dari tujuan pemasaran. ”Secara teori, mengambil
salah satu bagian sebagai judul buku sah-sah saja,” diakui Asep Syamsu
Romli, Manajer Syaamil Pustaka.

Namun bagi Inu, ”Saya dan IPDN
tidak terpisahkan. IPDN-lah awal kepopuleran saya. Setelah itu, tidak
sedikit yang mempertanyakan latar belakang saya, termasuk dari mana
saya mendapat keberanian. Buku ini merupakan jawaban saya atas
pertanyaan-pertanyaan itu,” paparnya.

`Hanya sepertiga isi buku
itu saja yang mengulas tentang almamaternya tersebut`. Sisanya, Inu
berkisah tentang biografi dan asal-mula munculnya keberanian dalam diri
”sang burung kenari” (Pikiran Rakyat, 28/04)

Tentunya,
kehadiran buku diharapkan dapat mempercepat proses pembongkaran prilaku
gajil dan mengusut tuntas aksi kekerasan terselubung yang terjadi di
IPDN.

Pasalnya, setiap kelaliman lambat laun pasti akan terkuak
juga. Terlebih lagi bila seluruh elemen masyarakat yang mengangani
kasus tak bernurani itu memegang prinsip ’Suara rakyat adalah suara
Tuhan. Kezaliman harus dilawan, kebenaran harus ditegakkan. Itu prinsip
saya` layaknya seorang Inu Kencana Syafiie dalam menegakan keadilan dan
kebenaran di tanah IPDN. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfokom 28/04; 07.35 wib



Post a Comment