Suhuf (7)
Written on July 4, 2007 – 12:54 pm | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Lakaknya
di negeri ironi. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan banyak
hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah tidak
membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap dalam wajahnya yang lama;
miskin dan tak berdaya.
Hamparan hutan luas tak membuat binatang
ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat huntanya gundul.
Tentunya, banjir tak terelakan lagi.
Belum
lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena
ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi
malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari
lagi.
Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak
tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar.
Dan kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan
kehabisan daya mencari energi ini.
Sebutan Negeri agraris pula
tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras
dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti
Thailand dan Vietnam.
Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?
Tak
hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak
kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja
menghilang dari pasar.
Kalaupun ada, harganya meroket tajam hingga selangit. Tentunya, rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.
Asal
tahu saja, pada 2006 produksi CPO Indonesia mencapai 16 juta ton.
Malaysia yang bertahun-tahun dikenal sebagai raja CPO, hanya 15 juta
ton. Dengan potensi lahan kita yang amat luas, masih terbuka lebar
produksi CPO Indonesia melaju terus. (Editorial, 11/06)
Beberapa hari, atau minggu lagi entah apa lagi yang akan sirna dari lintasan zamrud katulistiwa ini.
Bila
dulu kita mengenal nyanyian `Tongkat dan tanam jadi impian`. Kini,
rasanya tak ada lagi segala keindahan panorama Nusantara ini. Terlebih
lagi saat penguasan dan masyarakatnya tal lagi memintingkan kelestarian
alam sekitar.
Jika perilaku itu yang terus tertanam pada anak
cucu kita, niscaya kehancuran negara bernama Indonesia ini sudah di
ambang pintu. Lalu apa yang harus kita perbuat sebagai generasi penerus
bangsa?
Belajarlah dengan sungguh-sungguh bagi pencari ilmu dan rawatlah alam raya ini layaknya memelihara diri sendiri.
Dengan demikian, sebutan negeri ironi tak akan melekat lagi di bangsa Indonesai ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/06;06. 37 wib