Suhuf (9)
Written on July 4, 2007 – 12:56 pm | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
`Hadirkanlah
peti mati buat senator, bila kebijakan senator tidak berpihak pada
mahasiswa,` ungkap salah satu orator saat pemilihan Rektor UIN SGD
Bandung periode 2007-2011, jum’at (15/06) di depan Al-Jamiah.
Puluhan
aksi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus
(AMPK); Forum Mahasiswa Merdeka, Partai Kampus Merdeka, PMII
(Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia) UIN SGD Bandung, Keluarga
Mahasiswa Angkatan 2006-2007. Mereka menuntut kepada senator dan calon
pemimpin kampus UIN SGD Bandung untuk; (1) Benahi supra dan infra
struktur UIN yang carut marut. (2) Hapuskan dana praktikum. (3)
Lengkapi isi perpustakaan UIN. (4) Benahi fasilitas kampus. (5)
Selesaikan kasus di Fakultas Psikologi. (6) Tinjau kembali Dosen dan
Asdos UIN.
(7) Libatkan mahasiswa dalam
pengambilan kebijakan-kebijakan. (8) Fasilitasi gedung pementasan. (9)
Benahi tempat parkir. (10) Transparansi dan fungsikan dana Ikomah dan
yayasan. (11) Hantam skandal nilai, skripsi dan munaqosah yang
merugikan mahasiswa. (12) Berikan kebebasan kreativitas intelektual
mahasiswa. (13) Berikan beasiswa kepada mahasiswa yang tepat. (14)
Berikan kebebasan Pers mahasiswa, tegasnya.
Pernyataan sikap itu terus di sampaikan sebelum penandatangan MoU (Nota
Kesepakatan Kerjasama-red) antara calon Rektor dan pendemo tercapai.
Sesekali terdengar yel-yel dan teriakan sumpah atas nama mahasiswa.
Di
dekat tempat parkir sekelompok mahasiswa yang mengatas namkan Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UIN SGD Bandung pun melakukan
hal yang sama. Mereka mengajukan kriteria bakal calon dan calon Rektor
sebagai berikut; (1) Tidak terindikasi telah, sedang dan atau akan
melakukan korupsi. (2) Tidak terlibat skandal gelar. (3) Siap menghapus
praktek KKN di Kampus. (4) Siap menghapus paham Sepilis (Sekulerisme,
Pluralisme dan Liberalisme-red). (5) Siapa melibatkan mahasiswa dalam
mengambil kebijakan yang berdampak terhadap mahasiswa. (6) Bersedia
melakukan transparansi terhadap setiap pemungutan yang telah dilakukan
kepada mahasiswa seperti poliklinik, Ikomah, praktikum dengan
sejelas-jelasnya. (7) Siap melakukan kontrak politik dengan mahasiswa,
paparnya.
`Setiap pemimpin pasti diminta pertanggung jawaban
atas kepemimpinaya itu. Demi terciptanya stabilitas kampus besar
harapan kami seluruh anggota senat dapat memperhatikannya,`jelasnya.
Meski
ada dua golongan, aksi turun kejalan pula tetap mendapatkan perhatian
lebih dari sejumlah civitas akademik UIN SGD Bandung. Hingga taman
Rektorat itu di penuhi lautan manusia. Mulai dari depan Wartel, Papan
Panjat Tebing Mahapeka (Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam) anak-anak
Pecinta Alam, samping Warnet (distrik Viking UIN), sampai pos Satpam
masih penggila bobohoh Persib, karena sedang bertanding.
Salah
satu mahasiswa angkat bicara, Ahmad mahasiswa Tarbiyyah dan Keguruan
berkata `Ngapain pake demo-demo segala. Toh tetap saja kita tidak akan
dilibatkan dalam pemilihan tersebut`.
`Coba mau apalagi.
Mendingan kuliah dan belajar yang benar supaya hasil belajarnya baik
dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya`, tegasnya.
Menanggapi
tuntutan mahasiswa itu, salah satu sumber yang dapat kami percaya
menjelaskan, pemilihan Rektor tetap di laksanakan hari ini dan aksi
mahasiswa tidak menghalangi pemilihan orang nomer satu di UIN SGD
Bandung.
Dalam bursa pemilihan Rektor yang dipilih oleh senator
(39 orang yang memiliki hak suara) itu terdapat tiga calon; Prof. Dr.
H. Nanat Fatah Natsir, M.S. (Rektor saat ini), Prof. Dr. Rahmat
Syafi’ie (Pembantu Rektor I) dan Dr. Oyo Sunaryo, M.Ag. (Dosen Fakultas
Syariah dan Hukum).
Dari ketiga calon itu, Nanat masih menduduki
kursi Rektor dengan mengantongi suara 28 orang. Rahmat, 11 orang dan
Oyo tak mendapatkan suara sama sekali.
Setelah sekian lama
mahasiswa berteriak sambil terus membacakan tuntutan, berorasi dan
menyuarakan yel-yel; bangkit, lawan hancurkan tirani dan revolusi.
Akhirnya pihak Rektorat bersedia mengabulkan permintaan mahasiswa untuk
melakukan audiensi di pelataran Rektorat.
Dengan tidak
mengurangi rasa hormat mahasiswa. Penuntutan mahasiswa akan kita
bicarakan hari senin depan (18/06-red) di Ruang Sidang Rektorat, kata
Nanat. Soalnya tidak akan mungkin terjadi pembicaraan tentang perbaikan
kampus bila kondisi kita sudah lelah dan cape, tuturnya. Selain itu,
calon lain tidak hadir disini (Rahmat Syafie dan Oyo-red). Maka
penandatanganan MoU pun kita tunda di pertemuan selanjutnya, tambahnya.
Senada
dengan Rektor. Pembantu III, Prof. I Nurul Aen menambahkan untuk
penandatangan MoU kita laksanakan hari senin saja di Ruang Sidang
Rektorat atau Auditorium UIN. Ya, sama halnya dengan pertemuan kemarin
(silaturahmi HMJ dan UKM atas pemilihan Rektor yang tidak melibatkan
mahasiswa-red), katanya.
Kendati pendemo menginginkan adanya penandatangan MuO sekarang. Nyatanya harus di tunda di lain waktu. `Ah pokoknya MoU ini harus tetap di tandatangani oleh pemimpin masa depan, ungkap salah satu pengunjuk rasa. [Ibn Ghifarie PusInfokomp]
Cag Rampes, Pojok Al-Jamiah, 15/06;18.26 wib
One Response to “Suhuf (9)”
By Tedi Setiadi on Dec 18, 2008 | Reply
emang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, yang seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan indah saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.
Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.
Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk masuk kedalamnya.
Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.
Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.
Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat berbuat sedeng.
Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.
Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.
By: Tedi Setiadi (Permata Intan Garut UIN SGD)