Kitab (1)
Written on August 6, 2007 – 12:25 pm | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Tradisi
Barbar yang terjadi di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
ibarat wabah yang menular. Kini virus mematikan itu acap kali terjadi
dn terus menerus menjalar ke luar Kampus. Warga sekira pun harus
menjadi korban keganasa virus mematikan tersebut.
Adalah Wendi
Budiman, warga Jatinangor, tewas dikeroyok praja IPDN hanya karena
merokok di dalam lift di Jatinangor Town Square(22/07). Konon, seorang
praja tersulut rokok Wendi, lantas tanpa di komandoi para calon praja
itu beramai-ramai menggebuk Wendi. Ironis bukan.
Betapa tidak
sebagian besar kedelapan praja ini tengah menunggu wisuda. Tentunya
gelar sarjana pun harus rela ditanggalkan oleh mereka.
Maraknya aksi brutal ini menambah panjang deretan korban akibat kekejaman para pamong tersebut.
Masih
ingat dalam benak kita kematian Wahyu Hidayat atau Cliff Muntu begitu
mengisahkan luka yang mendalam bagi keluarga korban sekaligus mnguak
tabir kelam atas penertiban fisik tersebut.
Sangatlah wajar bila
masyarakat mendemo kampus prodak Rudini itu. Pasalnya, terlalu banyak
praja dan warga lain yang ketiban budaya kekerasan tersebut.
Tak
ayal, lambanya pengambilan keputusan pemerintah dalam hal ini Presiden
SBY secara tegas atas ketiga opsi yang di rekomendasikan oleh team
evaluasi Penyelenggara Pendidikan IPDN dibawah pimpinan Ryaas Rasyid
diantaranya; penutupan IPDN, perombakan kurikulum dan system
pengelonaan praja dan penutupan sementara untuk tahun ajaran 2007/2008.
Ryaas
Rasyid optimistis timnya akan berhasil mengemban tugas dari Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono untuk membenahi IPDN yang citranya jatuh
karena banyak terjadi kekerasan di dalam kampus . "Kita memiliki
orang-orang yang berkompeten, punya kemampuan mengevaluasi, dan adanya
backup otoritas yang cukup dari Presiden," jetasnya.
Kini,
terjawab sudah kinerja team evaluasi. Dan kian hari kekerasan sudah
menjadi bagian keseharian mereka yang tak bisa dipisahkan lagi.
Inilah
wajah muram pencetak para pemimpin. Mestinya mereka dapat menganyomi
sekaligus melindungi warganya atas perlakuan lalim. Kini, malah
sebaliknya. Mereka dengan gagah berani dan sombong sambil bertepuk dada
inilah kami, yang selalu menyelesaikan persoalan apa pun dengan adu
jotos, bukan adu otot.
Sejatinya pemerintah segera mengamini
keinginan wong cilik untuk segera menutup rapat-rapat segala aktivitas
yang berkenaan dengan kampus praja tersebut.
Bila tidak, sudikah
kirana kita menyaksikan saudara kita satu-persatu meninggal atas
kepongkahan pamong itu. Jika tidak, maka segeralah menutup kampus IPDN
sekarang juga. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 24/07;23.27 wib