Kitab (2)


Written on August 6, 2007 – 12:25 pm | by ghifarie
Sekelumit Kisah Kompre
Oleh Ibn Ghifarie

Kala
menanti datangnya waktu Ujian Komprehensif (26/07). Dalam rutinitas
keseharianku tak ada yang berubah kecuali, nonton TV, ngobrol seputar
persoalan kekinian yang sedang ramai dibicarakan. Ya sesekali bikin
coretan sebagai obat pelipur lara atas kepenatas sekaligus keresahan
permasalahan pelik tersebut.

Pasalnya, tak ada cara lain yang
bisa ku perbuat berkenaan dengan maraknya aksi penertiban fisik
dikalangan pendidikan. Selain angkat pena. Inilah kawan dekatku.
Tentunya, sederetan kertas menjadi pelangkap gagasan tersebut.

Detik-Detik Hari Penantian
Saat
termenung di tengah-tengah pencarian solusi atas kekerasan di IPDN.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara `Cis kacang buncis nyengcle` dari
HP (Hand Pone)ku. Tanpa panjang leber ku buka alat komunikasi tersebut.

`A
buledz Dian bieu ameung ka Websaite A. he..lucu!! Ya pastina si Ujang
meuni nyeredet liat suasana kampus.Asa haying ka Bandung..E h cioste
salametan the.! Kompre kumaha hasilna?Munaqosah Agustus kan? Wishuda
September yach.!!,
tulis Dian Herdiani Aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah) [24/07,15;41.24]

Tak
ayal pesan singkat tadi menghentakan perasanaku. Pasalnya, aku belum
ujian. Hasil komprenya apalagi. Namun, begitu inilah salah satu bentuk
kepedulian kawan-kawanku atas tes tersebut. Mudah-mudahan hari
bersejarah itu dapat ku lalui dengan sejuta makna. Nilai yang memuaksan
pula menjadi dambaanku sekaligus keluarga kami.

Semenjak kiriman
sms itu, aku mulai mencoba memberanikan diri untuk memohon doa dan
restu kepada kedua orang tuaku atas ujian tersebut. Meski, perbuatan
ini baru pertama aku lakukan. Jujur saja, sedari awal SD (Sekolah
Dasar) aku berpisah dengan keluarga demi menuntut ilmu di kampung orang
lain. Sedari itu pula aku jauh dengan sanak keluarga hingga sekarang.
Permohonan doa secara khusus pun jarang, bahkan tak pernah rasanya aku
ucapkan.

Mudah-mudahan diberikan kekuatan dan kemampuan dalam
menghadari Kopre tersebut. Tentunya, berdoa dan beribadah harus lebih
ditingkatkan lagi. Bukan malah sebaliknya.

Ku tulis pesan singkat `Ade wartoskeun ka Apa sareng Mamah rehna dina dinteun enjing A bade ujian Komprehensif. Mugia lancer sareng sukses. Amien. [24/07.18;20.25]

Singkat benar smsku. Tanpa harus menunggu lama jawaban pun dating `Muhun di duakeun. Sing lancer sareng sukses. Di antos wisudana wae!! wasiat Ibuku. [24/07.18;31.24]

Tak hanya Ortu di kampong sana yang memberikan dorongan. Temen-temen seorganisasiku mengucarkan doa dan harapan. Semoga lulus.

Kendati
aku bingung harus berkata apa. Karena aku tak pernah memberitakukan
ikhwan ujian tersebut. Namun yang jelas sahabat-sahabatku mengetahuinya
aku akan kompre. Ini terlihat dari pesan singkat yang masuk ke HPku

`Weleh
hiji deui anu rek ngarunghal the. Pokonamah Kompre teu leuwih rieut
batan duriat. Nu penting mah rajin Shalat jeung Sholat Hajat. Udud wae`
, kirim Paw mahasiswa Aqidah Filsafat (AF). [25/07.20;03.35]

`Waduh ceritanya ada yang mau Kompre neech.Good luck dech`, tulis Tia Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). [25/07.20;30.34]

Hal senada pun aku kalukan guna memohon doa dan nasihat kepada rekan sepropesiku. Bunda Iva Fahmiawati namanya. Jawabnya `Widich
Kompre nich Pasti dong Bunda doain. Iya nih Bunda belum bias tidur.
Jadi kepikiran beneran sih? Vie dah punya samone baru? Tapi yang mau
Kompre ga usah ikut mikirin yah. Sukses, pesannya.
[25/07.22.45.34]

Hari Bersahaja; Sejuta Warna
Waktu
demi waktu kian merayap. Detik demi detik kian berdetak. Hari penuh
ujian pun datang juga. Pagi buta sekali saat ayam jantan mulai berkokok
dan sang Raja Siang mulai memancar tiba-tiba HPku berdering `Ledz kade kasiangan, Tos rapih!! Che mah teu acan ibak he.he..Mangga sing sukses, pepatah  Pradewi Tri Chatami, mahasiswa Antropologi Unpad [26/07.05.35.24]

Saat
itu aku tengah menyiapkan segala keperluan yang aku perlukan. Walau ada
satu hal yang mengganjal pikiranku `Bisakah aku melewati hari ini.
Bukan takun tak lulus ujian. Melainkan cacian, makian dan cibiran dari
kawan-kawanku saat berpakaian rapih. Jujur saja aku tak pernah
berpenampilan kemeja, jas almamater semenjak MA (Madrasah Aliyah).
Rasanya berat hati ini untuk memakan atribut sekaligus persyaratan
Kompre tersebut.

Walhasil, 5 jam (09.00-14.00) berpakain rapi
layaknya seorang pengajar pun bias ku lalui. Kendati harus ku lepas
beberapa kali. Tak ayal, temen sekelompoku menginagtkan aku `Tolong pakai Jas itu. Ya daripada tar kena damprat. Ga bias ikut ujian gimana?, cetus Ali Mulyono.

Tanpa panjang lebar ceramah. Ku kenakan lagi segala atribut Kompre tersebut. Sidang kompre pun dimulai dengan penguji; Drs Casram, M.Si bidang Kejurusan (Studi Agama-Agama), Dr, Endah, M.Si materi  Kefakultasan (Ilmu Kalam) dan Drs, Hasan Mudrisy, M.Si garapan Keuniversitasan (Dirosah Islamiyyah)

Lulus Peringkat Ke-2
Semuanya
kulalaui dengan optimal. Saat menunggu pengumuman kelulusan beberapa
kawan dekatku tak henti-hentinya memberikan dorongan sembari menanyakan
kelulusanku.
   
`Ledz kumaha
Komprena? Tos pengumuman kelulusan teu acan? Tong tegang atuh. Di
doakeun ku Bunda cing lulus meunang nilai anu alus. Omat sanes makhluk
halus he.he.he…
`tanya Bunda Iva Fahmiawati [26/07.12;56.35]

`Bang dupi widya Iswara the naon? Kumaha lulus teu?` tanya Fardun mahasiswa Sosiologi [26/07.13;05.24]

Ba’da
dzuhur sesuai jadwal pengumuman pukul 14.00 wib. Akhirnya detik-detik
pembacaan hasil ujian sekaligus pengumuman dibacakan dengan lantang
oleh Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Filsafat dan Teologi di Ruang
Ridang Fakultas.

Ibn Ghifarie 3,50 (A). Tak ayal, kawan disampingku berujar `Selamat atas peringkat ke-2. Kan pertama anak TH (Tafsir Hadits) (Taufik 3,60-red). Semoga bermanfaat`

Semula
tak ada jawaban dariku kecuali angukan kepala petanda ikhwan kelulusan
tersebut. Dalam hatiku bergumana `Mampukah aku mempertangungjawabkan
nilan ini sambil melapalkan ucapan tahmid sebagai bentuk rasa syukur
kita pada Tuhan.`Amien.

Selamat Ya..!!
Sepulang dari kampus. Tak ada yang kulakukan selain mengabarkan hasil ujian tadi kepada keluarga. Pesan singkat pun berbalas `Nya nuhun upami tos beres mah kalayan sae hasilna. Muhun eta anu dipikahareup ku Apa sareng Mamah, wasiat Apa. [26/07.14;44.44]

`Nya teu weuleh diduakeun ku sadayana. Mugia sidangna sing lancer, nasihat Mamah tambahnya. [26/07.14;57.24]

Ucapan serupa pun dating dari Dian Herdiani `Nya
alhamdulillah upami tos rengse sareng hasilna sae mah. Selamat nya.Sok
ayeuna kantun ngemutan siding. A doakeun Dian nya besok aya panggilan
wawancara kerja di Jakarta. Mudah-mudahan lulus.Dian salah satu anu ka
pilih. Doakeun nya`
[26/07.15.04;25.34]

`Ayeuan
nuju papanasan heula, kaleuresan dipasihan nikmat sehat. Muhun yeuh teu
janteun kompre, teu acan waktosna panginteun. Upami kapayunan mah, Anis
ti pengkeur atuh. Wilujeng`
[26/07.16.07;25.25]

Alhasil, selesai
sudah satu pekerjaan. Syukuran sambil makan-makan menjadi penutup
kebahagian kami. Bisakah aku melewati Sidang Skrifsi kelak?

Cag Rampes, Pojok Ruang Fakultas 26/07;14.07.34 dan Sekre Kere, 26/07;23.48



Post a Comment