Suhuf (18)
Written on August 6, 2007 – 12:21 pm | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Hari
pertama sekolah bukan kebahagian yang didapat, tapi malah kebingungan
yang menyertainya. Pasalnya, bagunan sekolah kebanggaan milik para
siswanya ambruk pasca bencana. Tentunya, tak ada seragam baru, tas
baru, sepatu baru dan tek-tek bengeknya.
Pelangi I; Ambruk Bangunan
Tengoklah,
di daerah Banten, siswa harus rela belajar di puing-puing reruntuhan
akibat bencana; Klaten, anak didik harus memulai hari bahagianya dengan
belajar di tempat darurat sekaligus mengerikan. Karena ruangan kelasnya
bekas kandang domba; Bekasi pun para pelajar harus rela belajar di
tempat darurat akibat tersapu banjir; Tuban, puluhan orang malah putus
sekolah. Bahkan ada yang berprosesi asyik ngamen dan membantu kedua
orang tuanya akibat meroketnya biaya pendidikan. (Metro TV,16/07)
Alih-alih
minimnya ekomoni dan lemangnya kesadaran orang tua akan pentingnya
pendidikan kelak menjadi penunjang keterpurukan pendidikan Indonesia.
Di
lain sisi, tahun ajaran baru pertama acapkali diwarnai aksi oleh siswa,
hingga warga sekitar akibat tak mengutamakan masyarakat sekiranya.
Pelangi II; Aksi Warga
Adalah
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Padang, Sumatra Barat, diwarnai
unjuk rasa warga sekitar sekolah. Warga menuntut pihak sekolah menerima
anak-anak mereka bersekolah di SMAN 6.
Puluhan warga sekitar
SMAN 6 Padang mendatangi sekolah dengan membawa berbagai poster berisi
tuntutan. Warga menilai pihak SMAN 6 Padang telah mengingkari
kesepakatan bersama, yakni 20 persen siswa SMAN 6 Padang diutamakan
untuk warga di sekitar sekolah. Menurut warga, kebijakan tersebut
merupakan kompensasi dari penggunaan tanah ulayat warga untuk SMAN 6
Padang.
Pihak sekolah membenarkan adanya perjanjian tersebut.
Hanya, standard penerimaan siswa berdasarkan nilai evaluasi murni (NEM)
mengakibatkan kesepakatan tersebut tidak berjalan. Akibatnya, hanya
beberapa anak warga sekitar yang diterima.
Setelah berdialog,
pihak sekolah berjanji akan memprioritaskan siswa dari sekitar sekolah
tersebut. Warga yang berunjuk rasa kemudian membubarkan diri setelah
mendengar komitmen dari pihak SMAN 6 Padang tersebut.(Metro,16/07)
Pelangi III; Ditemani Ibunya
Tak
ayal, proses belajar mengajar pula harus terhambat. Kendati begitu di
Bogor orang tua harus rela mendampingi bocahnya karena belum mengenal
satu sama lain sekaligus mempunyai teman.
Pemandangan ini
terlihat jelas di Di SDN Pajeleran, Cibinong, Bogor. Hari pertama
pengenalan orientasi sekolah bagi siswa Kelas I SD di Bogor masih
didampingi orang tuanya terutama ibu. Sementara sejumkah wali murid
mengeluhkan tingginya dana sumbangan pembangunan (DSP) bagi tingkat SD
yang mencapai Rp 2 juta.
Puluhan ibu-ibu tak sungkan-sungkan
menemani ankanya masuk ke ruang kelas. Mereka mendengarkan penjelasana
dari guru mulai masuk jam berapa, di mana kelasnya hingga di mana harus
membeli buku materi pelajaran.
“Ingat waktu masih kecil dulu,”
ujar Ny. Sari sata menemani putra sulungnya. Dikatakan ibu muda ini,
pada hari pertama si anak belum dapat mengerti apa yang dikatakan guru
dengan suasansa dan lingkungan yang baru. Begitupula di SD Muaraberes,
Keradenanan Cibinong, sejumlah ibu-ibu tetap tekum mendengarkan
penjelasan guru. (Jawa Pos, 16/07)
Pelangi IV; Cuma Beres-Beres.
Berbeda
dengan di SD YPPK Santo Stevanus, Woma, Wamen Papuan, awal sekolah
hanya diisi dengan membersihkan lingkungan dan pengenalan sekolah.
Para
guru di sekolah tersebut masih mempersiapkan ruang kelas bagi siswa
baru. Hari pertama bagi siswa kelas satu, masih banyak orangtua yang
mengantarkan anaknya, sekalian mendaftar ulang. Sedangkan siswa kelas
dua hingga kelas enam, diperintahkan membersihkan dan mengatur ruang
kelas serta membersihkan halaman. (Metro, 16/07)
Pelangi V; Hanya Perkenalan Semata
Lain
halnya di SMK/SMIP Paramitha, Jakarta Pusat, misalnya, sebanyak 105
siswa melakukan MOS dengan penampilan pakaian aneh, sehingga menarik
perhatian warga yang lalu-lalang di kawasan sekolah tersebut.
Di
SMAN 70 Bulungan, MOS diisi dengan sejumlah kegiatan mulai dari
perkenalan dari pihak sekolah yang disampaikan Kepsek Asyikin,
dilanjutkan dengan ceramah mengenai Cara belajar Efektif yang bertujuan
memberi motivasi bagi siswa baru. Hanya saja ketua panitia MOS Lulu
melarang dengan alasan harus seizin Kepsek dan malah pendidik ini
sempat menarik tangan wartawan Pos Kota agar tidak masuk apalagi
melihat kegiatan MOS yang sedang berlangsung di lantai dua. Kepsek SMAN
70 Asyikin berjanji akan menegur yang bersangkutan.
Kepala SMAN
95 Pegadungan Kalideres, M. Siagian menyatakan pihaknya sudah
menekankan kepada siswa senior bahwa pelaksanaan MOS tidak ada unsur
kekerasan dan penganiayaan. (Pos Kota, 17/07)
Hal
serupa pula terjadi di SMP Negeri 2 Wamena, hari pertama masuk sekolah
diisi dengan orientasi siswa. Di sekolah ini, sebanyak 200 siswa kelas
satu akan mengikuti masa orientasi dengan materi pengenalan sekolah dan
kegiatan ekstrakurikuler serta metode belajar yang baik. (Metro,16/07)
Pelangi VI; Berburu Peralatan
Meski
telah memasuki hari pertama tahun ajaran baru 2007/2008, toko-toko yang
menjual peralatan sekolah masih ramai dikunjungi pembeli. Misalnya di
Pasar Jatinegara dan Pasar Ciplak Jakarta Timur, sekitar puluhan
ibu-ibu masih terlihat berbondong-bondong berbelanja membeli sejumlah
peralatan sekolah seperti buku, pensil, tas sekolah, seragam sekolah,
dan sepatu.
Tuti, 29, seorang pengunjung mengaku telah membeli
sejumlah peralatan sekolah buat anaknya yang telah duduk di bangku
sekolah dasar kelas IV pada tahun ajaran ini. Namun, berhubung masih
ada yang kurang, ia kembali berbelanja pada hari ini.
"Kalau
buku-buku, pulpen saya sudah beli Sabtu kemarin. Tapi, sepatunya kan
belum, lagian duitnya baru ada sekarang, jadi saya ke sini lagi,"
tuturnya.
Menurut Tuti, barang-barang yang dijual di Pasar
Jatinegara ini retif lebih murah di banding di pasar-pasar atau
toko-toko lain di luar Pasar Jatinegara. Oleh karena itu, ia kembali ke
Pasar Jatinegara untuk berbelanja.
"Di pasar Jatinegara ini lebih murah dari pada kita belanja di mal atau Gramedia. Lagipula, kualitasnya sama kok,” cetusnya. (beritajakarta.com,16/07)
Pelangi VII; Tes Ujian
Namun,
hari pertama sekolah di pelbagai Perguruan Tinggi (PT) tak berlaku
karena masih libur. Kalapun ada aktivitas itu hanya SP (Semester
Pendek) saja.
Berbeda dengan Universitas Islam Negeri (UIN)
Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung siang itu kampus dibanjiri manusia.
Pasalnya, tengah ujian tes local Penerimaan Calon Mahasiswa Baru (PCMB)
yang diikuti hamper 2500 orang peserta tes.
Meski tahun ajaran 2007-2008 UIN Bandung ikut andil dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) beberapa minggu yang lalu.
Kehadiran
hari pertama sekolah tak semuanya berbanding lurus dengan semangat baru
siswa, guru beserta civitas akademika. Terkadang malah memperihatinkan.
Inilah
pernak-pernik pendidikan kita saat tiba sekolah. Semoga dengan adanya
pengalokasian dana sebesar 20% dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja
Negara) tak hanya selogan semata, tapi nyata dan dapat dirasakan oleh
kaum lemah.
Sejatinya pendidikan harus menjadi prioritas utama
dalam mencerdaskan bangsa atas keterpurukan pelbagai krisis yang terus
melanda bumi pertiwi ini. Seakan-akan bencana demi bencana akrab dalam
keseharian sekaligus rutinitas yang harus kita lewati bersama. [Ibn
Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/07;22.17 wib