Suhuf (19)


Written on August 6, 2007 – 12:22 pm | by ghifarie
Yang Penting Pelayanan dan Seleranya Bos…!!
Oleh Ibn Ghifarie

`Aduh jang ayeuna mah icalan the geuning tiiseun pisan. Komo deui saprek aya kantin Kopma (Koperasi Mahasiswa-red), ungkap salah seorang pedagang Baso Tahu saat dimintai pendapat soal kehadiran kantin baru beberapa pekan.

`Pokona mah eta teh geus dipolitisir ku para pejabat. Sebab sahamna milih maranehna,` tambahnya.

Kehadiran
Café Taria ala mahasiswa di sekira gedung Studen Center (SC) menuai
protes pelbagai kalangan. Pasalnya, lingkungan Fakultas Sains dan
Teknologi (Sintek) harus bersih dari para penjaja makanan

Walhasil, keberadaan pedagang yang baisa mangkal di depan Mesjid Iqomah pun harus rela di relokasi ke daerah Ma’had Aly (15/01)

Selang
enam bulan di penghujung semester genap saat para pedagang asyik menata
ruang sekaligus memperindah tempat menghidangkan makana dengan kondisi
alakadarnya. Mereka dikejutkan dengan kehadiran kantin tersebut (19/07).

Tak ayal, pelbagai mahasiswa pun angkat bicara. Salah satunya, Ahmad aktivis UKM menuturkan ‘Bisa wae ari pajabat mah. `Baheula pedagang anu aya di dieu (sekitar Fakultas saintek-red) di pindahkeu heula. Geus kitu ayeun di ayakeun kantin,` cetusnya.

`Pan pikaseubeuleun. Cing atuh karunya ka warga anu letik. Lain maraneh namah pan geus ngenah hirupna ge,` jelasnya.

`Ada-ada
saja. Kebijakan para penguasa itu. Mestinya mereka membantu ekonomi
orang lemah. Bukan malah sebaliknya, kata aktivis pergerakan mahasiswa
yang tak mau disebutkan namanya.

`Ini tak boleh dibiarkan. Kalau perlu kita demo. Sepakat kan,` tambahnya.

`Bagi saya ini menindas kaum lemah dan tak mencerminkan sifat kaum pelajar, ungkap aktivis lainya

Coba
bayangkan saja. Bila di undang untuk menghadiri seminar atau bedah buku
para pejabat kampus tak pernah menghadirinya. `Ini waktu louncing
kantin Rektor, Nanat Fatah Natsir beserta jajaranya ikut meresmikan.
Kan ironis sekali,` tegasnya.

Menyinggung pudarnya langganan pedagang di daerah Takhosus ke Kopma tak membuat miris bagi para penjual. Karena pelayanan dan selera tak bias dibohongi.

‘Ya ga apa-apa biarkan saja. Yang penting seleranya Bos..!!, kata pedagang Mie Ayam.

`Ah
teu nanaonlah. Da geus kajadian. Anu penting mah kumaha cara urang
ngabageakun langgan. Eta wae anu kudu ku urang dijadikeun cara keur
milikeun langgan,
` tutur sang penjual Kupat.

Hal senada
pula di lontakan oleh Ani, menjelaskan `Memang di sana rame menunya,
sampai-sampai ada special nasi goreng lengkap dengan ati ampelanya. Ya
cuminan itu pelayanannya sangat lambat, paparnya.

Selain itu, harganya sangat mahal. Tidak sama dengan pedagang di sini (Kompleks Dosen Asing-red), tuturnya.      

Sejatinya,
keberadaan Kantin mahasiswa dapat membantu penderitaan masyarakat
kecil, bukan memperburuk kondisi pendapatan mereka. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Baso Tahu, 18/07;12.24 wib



Post a Comment