Mushaf (13)


Written on February 10, 2008 – 9:08 am | by ghifarie
Mohon Penjelasan Rektor UIN SGD Bandung; Alokasi Dana Praktikum
Oleh Ibn Ghifarie

Kendati
tidak terjadi gelombang aksi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Gunung Djati (SGD) Bandung saat pembayaran regisrasi SPP dan biaya
praktikum, kamis (24/01). Berdeda dengan mahasiswa Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat kenaikan SPP dan praktikum
diwarnai kericuhan (22-23/01).

Namun, sejumlah mahasiswa UIN SGD
Bandung mengelukan telah terjadilnya pembayaran dana praktikum, hingga
memohon penjelasan pikah Rektor.

Pasalnya,
pihak Universitas menetapkan SPP sebesar Rp 600 ribu serta biaya
praktikum Rp 500 ribu untuk jurusan MIPA dan Rp 200-300 ribu untuk
jurusan non-MIPA sangat memberatkan mahasiswa, terutama angkatan
2007-2008.

Salah satu mahasiswa D3 Menegemen Keuangan Syariah
(MKS) Fakultas Syariah dan Hukum, M Iqbal menuturkan ‘Meski sudah
menjadi ketetep pihak Rektor, tolong dong dalam pemberitahuan adanya
uang praktikum itu jauh sebelum jadwal regisrasi. Bukan saat pembayaran
SPP baru dikasih tau’

‘Ya masih mendingan orang yang berada.
Gimana kalau seperti saya. Masa harus pulang dulu ke Pangandaran, hanya
untuk meminta uang bayaran tambahan itu’, jelasnya.

Hal senada
juga diamini oleh Iim Mustofa, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA)
Fakultas Adab dan Humaniora ‘Iya nih kalau bisa, pengumumanya itu
sebelum adanya jadwal regisrasi. Bukan hanya jadwal SPP dong’.

‘Jadinya kan bisa memberitahuakan dulu kepada orang tua, bahwa pembayaran SPP itu harus dengan dana praktikum’, cetusnya.

Menanggapi
perbedaan iuran SPP dan dana praktikum yang berbeda-beda itu; 500 ribu,
300 ribu dan 200 ribu, Rifki mahasiswa Komunikasi Penyiran Islam (KPI)
Fakultas Dakwah dan Komunikasi berkata ‘Kenapa harus dibeda-bedakan.
Bukankah dana praktikum itu digunakan buat praktek Ibadah dan Tilawan
saja. Masa harus bayar mahal’

‘Jika begini yang terjadi. Memang Orang Miskin Dilarang Sekolah, sambil mengutif jargon mas Eko Prasetiyo,’ ujarnya.

Di mata Yogi, mahasiswa Matematika Fakultas Sains dan Teknologi. ‘Maeunya ku duit 500 rebu. Ngan bisa praktek tilawah da ibadah wungkul [Masa dengan uang 500 ribu hanya digunakan untuk praktek ibadah dan tilawan saja]’

Geus kitu nilai praktek ibadah urang oge teu kaluar. Pan lieur! [Sudah begitu nilai praktikum ibadah saya juga tidak keluar. Kan pusing!], ungkapnya.

Lain lagi bagi Dian mahasiswa Sosiologi Fakultas Ushuluddien ikut nimbrung
‘Bener pisan karunya atuh keur barudak nu lain jurusan MIPA.
Laboratorium euweuh, praktekum teupuguh. Siga keur jurusan Aqidah
Filsafat
IBenar , kasian pada anak-anak yang bukan jurusan
MIPA. Laboratorium tak ada, praktikum juga tak jelas. Kaya jurusan
Aqidah Filsafat]

Ketidakjelasan aturan main saat regisrasi tiba,
bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa baru, tapi mahasiswa lama juga
menyesalkan buruknya pelayanan administrasi.

‘Selain kasihan
kepada mahasiswa baru harus membayar SPP dan dana praktikum dari 200
ribu sampai 500 ribu. Pembayaranya masih manual, harus panas-panasan
ngantrinya, kata Ahmad mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas
Tarbiyah dan Pendidikan.

‘Pokoknya, boro-boro lewat
komputerisasi. Yang ada hanya antrian begini. Kan ngeri. Padahal sudah
berubah menjadi Universitas, tapi masih tetap manual’, keluhnya.

‘Bagi
saya, ya ga apa-apa ada dana praktikum yang besar itu bila dibarengi
dengan sarana dan prasarana yang memadai. Inikah tidak’, ungkap salah
satu mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi.

‘Besar harapan saya
jika pihak Rektorat bisa memberikan penjelasan soal alokasi dana
praktikum itu dipakai kemana-mananya. Bukan apa-apa supaya tidak
terjadi hal-hal yang tak diingikan. Demo misalnya’, tegasnya. [Ibn
Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 24/01/08;20.35 wib



Post a Comment