Mushaf (16)


Written on February 10, 2008 – 9:28 am | by ghifarie
Haruskan Tahlilan Kematian Soeharo Digani; Membagikan Harta Kekayaanya?
Oleh Ibn Ghifarie

Rasanya
angkuh bila kita tak memberikan ucapan belasungkawa terhadap keluarga
Cendana. Pasalnya, Bapak Pembanguan telah meninggalkan kita semua untuk
menghadap Sang Kholik, Minggu (27/01) pukul 13.19 wib.

Semoga
amal baik mantan Penguasa Rezim Orbe baru itu di teriman oleh Tuhan dan
masyarakat Indonesia memaafkan segala kehilafannya.

Tak pelak, tradisi tahlilan
pun menjadi bagian yang tak bisa di ganggu gugat. Masih ingat dalam
benak kita, saat Ibu Tien (1996) meninggal kebiasaan membaca yasinan
itu menjadi sebuah keharusan. Seakan-akan rasanya tak afdhal bila kita
meninggalkan warisan para leluhur tersebut.

Kini, saat The Smiling General berpulang ke pangkuan rahmatullah. Adakah acara melayat mendingan Soeharto diwarnai tahlilan?

Hayu atuh. Kabeh sa UIN jeung Rektor kudu mimpina
[Ayo segera. Kalu perlu seluruh Civitas Akademika UIN SGD Bandung dan
Rektor, Prof Nanat Fatah Natsi, M.Si harus menjadi pemimpinya], kata
Sulthonie, Desen Fakultas Filsafat dan Teologi.

Meninggung kebiasaan Tahlilan yang dianggap oleh kelompok tertentu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Ia menjawabnya ‘Bid’ah teh lamun PERSIS (Persatuan Islam). Da urang mah UIN [Bid’ah itu kalau menurut pemahaman ajaran PERSIS. Kan saya bukan UIN (keislaman non sectarian-red)]

Lain lagi Sulthonie. Lain pula Akhmad Mikail, mahasiswa Sains dan Teknologi menuturkan ‘Ah pami abi mah hente, da tara. Tapi pami di bumina mah sigana nuju rame [Ah bagi saya tidak, soalnya tak pernah. Tapi kalau dirumah (mendiang-red) pasti rame].

Anu jelas mah teu aya contona ti Rasul [Yang jelas tradisi tahlilan itu tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw], jelasnya.

Alangkah
baiknya jika biaya tahlilan pak Harto dikasihkan kepada rakyat. Cukup
barangkali memberikan makan bagi ratusan juta warga miskin, yang
sekarang jarang tersenyum. Atau selama 7 hari keluarga cendana harus
mengembalikan aset negara untuk kemaslahatan rakyat, kata Sukron
Abdilah, pegiat Studi Budaya dan Pemerhati Budaya Lokal Sunda.

Nah,
tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya, alangkah baiknya jika 7 hari
masa berkabung atas wafatnya Suharto dijadikan waktu untuk menggenjot
program ketahanan pangan. Karena ketika kebutuhan pangan untuk bangsa
ini murah-meriah, boleh jadi senyum manis Suharto akan kembali
dirasakan rakyatnya. Bukan ketegangan, ketimpangan, kemelaratan, dan
kemiskinan yang dirasakan bangsa ini, harapnya.

Menilik
kebolehan penggantian tahlilan dengan cara membagikan kekaraan terhadap
rakyat atau sekedar membagikan makanan alakadarnya bagi anak-anak
jalanan.

Akhmad berkata ‘Satuju..!! Mudah-mudahan abdi kabagean,
kumargi kaabus miskin [Sangat setuju sekali. Semoga saya dapat bagian,
karena saya masih tergolong miskin], cetusnya.

‘Kan putra putrina pengusaha. Pastina bisa muka lapangan kerja keur masyarakat anu nganggur
[kan putra-putri Soeharto itu para pengusaha. Pastinya dapat mmebuka
lapangan kerja supaya dapat mengurangi angka pengangguran], tambahnya.

‘Nya atuh sakali-kali tahlil. Ulah ka masyarakat miskin wae. Da urang oge miskin
[Ya sesekali ngadain tahlilan. Ga usah ngasih ke masyarakat (perubahan
gaya tahlilan; tidak berdoa dan membaca Al-Qur’an, tapi membuka
lapangan kerja-red) saja. Kan saya juga termasuk miskin] ungkap
Sulthonie

Kendati masih dalam suasana duka dan belom terpikirkan
untuk menggelar kebiasaan luhur tersebut. Haruskan Tahlilan kematian
Soeharo digani; membagikan harta kekayaanya? Selamat jalan Bapak
Pembangunan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Komputer Ngaheng, 29/01/01;01.36 wib



Post a Comment