Mushaf (17)
Written on February 10, 2008 – 9:29 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan kantor pemerintahan dan
kantor perwakilan RI di luar negeri mengibarkan bendera setengah tiang
dari tanggal 28 Januari hingga 2 Februari 2008.
Pemerintah juga
menyatakan sebagai hari berkabung nasional selama 7 hari atas wafatnya
mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Demikian dikemukakan Mensesneg Hatta
Rajasa, dalam jumpa pers di Kantor Sesneg Jln. Medan Merdeka Utara,
Jakarta, Minggu (27/1).
Presiden atas
nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi menyampaikan
belasungkawa atas wafatnya H.M. Soeharto. Presiden mengajak seluruh
rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya
kepada salah satu putra terbaik bangsa. SBY juga mengajak umat Islam
membacakan surat Al-Fatihah.
"Kita semua berduka dengan wafatnya
Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, karena
sakit. Atas nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi, saya
mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak Haji
Muhammad Soeharto," kata Presiden Yudhoyono dalam keterangan pers di
Kantor Presiden, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Minggu (27/1).
Keluarnya
Pernyataan sikap Presiden selaku Kepala pemerintahan Indonesia menuai
perbagai macan komentar masyrakat. Khususnya dikalangan Civitas
Akademikan UIN SGD Bandung. Salah satunya Yogi mahasiswa Materamika
Fakultas Sain dan Teknologi menuturkan ‘Wah itu sangat perlu sekali.
Sebaba Ia telah berjasa pada bangsa ini’.
Coba kalao bukan oleh
Bapak Pembangunan niscaya deretan tinggi banguna yang menjuklang itu
merupaka hasil jerih payanya selama 32 tahun. Sekarang kita tainggal
menjutkan dan mengisi pembanguna tersebut, jelasnya.
Keberhasilan
suatu bangsa itu terlihat dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Pada saat pemerintahan Orde baru sangat jelas bila dibandingkan dengan
zaman reformasi ini. Pokoknya dimana-mana kalaparan, busung lapar,
kurang gizibencana, benerr pan [Pokoknya di daerah mana-mana terkena
kelaparan, burung lapar, kurang gizi, bencana, benerkan!!], keluhnya.
Lain
lagi dengan Jamhur aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)
Bandung, menjelaskan ‘Ini ga boleh terjadi. Karena sanget merugikan
masyarakat Indonesia, khususnya kaum terpelajar’,
Seutik-saeutik
peure. Lamun keu terus carana. Atuh iraha bangsa urang maju kawan
nagara lain [Sedikit-sedikit libur. Kalau begini keadaanya secara terus
menrus. Kapan mau majunaya bangsa kita ini seperti negaara lainya],
tambahnya.
Ceuk urang teuteup teu bisa [bagi saya tetep ga bisa] soal 7 hari berkabung atas meninggalnya Soeharto, cetusnya.
Menyinggung
upacara pemakaman orang nomer satu saat Orde Baru dan Presiden akan
bertindak sebagai inspektur upacara saat pemakaman di Astana
Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, hari ini (Senin, 29/01)
Bagi
saya sudah selayaknya bangsa kita menghargai jasa putra terbaik bangsa.
Selain itu, memang sudah ada ketentuan UUnya (Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 62 Tahun 1990. PP itu mengatur tentang ketentuan keprotokolan
mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan bagi pejabat
negara, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat-red), killah Yogi
Di
mata, Jamhur tetap tak boleh terjadi ucapara kematian Bapak Pembangunan
itu secara besar-sebaran dan adanya 7 hari berkabung nasional, seban
tetap saja dimata Tuhan yang membedakan kita hanya derajat ketaqwaanya
sambil menyentil Al-Qur’an,
Hal senada juga diungkapkan oleh
aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya ‘Yang mesti
berkabung nasional itu bukan kematian penguasa 32 tahun itu, melainkan
saudara-saudara kita yang terkena Lumpur lapindo. Sudah berapa tahun
mereka menderita dan tak mendapatkan kepastian dari pemilih
perusahanan’.
Bahkan kabra terbaru pihak Lapindo dibebaskan oelh
pengadilan karena tak terbukti salah. Padahal ini sudah jelaj-jelas
salah kaprah, paparnya.
Bila ingin tetap menggelar 7 hari
berkabung nasional dengan mengibarkan bendera setengah tiang, maka
berapa hari untuk menyuarakan berkabungnya kematian hati nurani pada
bangsa kita, harapanya. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 29/02/08;14.27 wib