Mushaf (20)


Written on February 10, 2008 – 9:31 am | by ghifarie

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Chin [Cina]. (peribahasa)

RASANYA
tak berlebihan bila petuah di atas mengingatkan kita untuk tetap
berusaha mencari ilmu pengetahuan, sekalipun jauhnya ke negara Cina.
Menuntut ilmu merupakan satu kewajiban bagi umat Islam (hadis).

Kehadiran
Hari Raya Imlek layak pula kita jadikan momentum evaluasi secara
bersama, mulai dari nilai dinamika keberagamaan (antar, intra) kita,
sampai sistem pemerintah. Membicarakan perayaan masyarakat Tionghoa,
khususnya di Indonesia, sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari sosok
pejuang-gigih risalah Tuhan—yang mulai kita lupakan.

Adalah
Laksamana Cheng Ho atau lebih dikenal dengan sederetan nama Cheng Ho,
Hanyu Pinyin, Zhèng Hé (Wade-Giles), atau Haji Mahmud Sam Po Kong (1371
- 1435). Cheng Ho merupakan seorang kasim Muslim, pelaut sekaligus
penjelajah Cina terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara
1405-1433, saat kaisar Tiongkok Yongle (berkuasa tahun 1403-1424)
sebagai kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Ia berasal dari
Provinsi Yunnan, bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip
dengan suku Han, tapi beragama Islam. Kala pasukan Ming menaklukkan
Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan dijadikan orang kasim. Kali pertama
Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri
Tiongkok, Hang Li Po (Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk
menikah dengan Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).

Cheng Ho
melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande pada
1426-1435) ke beberapa daerah dan negara di Asia dan Afrika, di
antaranya Vietnam, Taiwan, Malaka/bagian dari Malaysia, Sumatra/bagian
dari Indonesia, Jawa/bagian dari Indonesia, Sri Lanka, India bagian
Selatan, Persia, Teluk Persia, Arab, Laut Merah, ke utara hingga Mesir,
Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik (www.wirahma.com).

Dalam
khazanah keislaman, kehadiran Cheng Ho di Indonesia telah memunculkan
wacana baru studi keislaman Indonesia. Cheng Ho berperan besar dalam
pergolakan politik kerajaan-kerajaan di Jawa. Setidaknya, Cheng Ho
berperan dalam membangun kerajaan Islam Demak pada tahun 1475, serta
memiliki andil besar dalam keruntuhan Majapahit.

Selama ini yang
kita kenal kehadiran Islam di Indonesia biasanya dikaitkan dengan dua
teori besar yakni teori Arab dan India. Literatur "padang sahara"
mengatakan Islam masuk Indonesia langsung dari tanah Arab, tepatnya
Hadramaut. Kali pertama teori ini dipopulerkan oleh Crawford–diikuti
oleh sejarawan Indonesia seperti Mukti Ali dan Buya Hamka. Sementara
teori India (Gujarat) dipopulerkan oleh Snouck Hurgronje (atau Abdul
Ghofur).

Prof. Dr. Abdul Jamil, Rektor IAIN Walisongo Semarang
dalam Perayaan Festival Cheng Ho (2005) menuturkan, Cheng Ho berperan
dalam proses panjang islamisasi di Nusantara, sekaligus persahabatan
antarbangsa dan kerukunan masyarakat. Menariknya lagi, misi misi utama
pelayaran Cheng Ho adalah menjalin persahabatan. Jika ada aspek dakwah,
hal itu harus dilihat dalam perspektif makro, tidak seperti model
dakwahnya para Wali Songo yang menghasilkan banyak konversi agama. Oleh
karena itu, jika ada nuansa Islam dalam melaksanakan misi kenegaraan
itu, pada hakikatnya merupakan hasil samping karena tanggung jawab
seorang Muslim untuk berdakwah meski hanya satu ayat.

Pendeknya,
kalau memakai istilah sekarang, dakwah yang dijalankan oleh Cheng Ho
adalah model dakwah bil hal, dakwah dengan contoh perilaku, karena yang
dikembangkan merupakan inti untuk memperkuat kerukunan seperti juga
yang menjadiinti ajaran agama Islam. (Republika, 5/8/2005)

Laksamana
Cheng Ho meninggal pada 1435 dalam perjalanan pulang dari Afrika Timur
ke Cina. Ia dimakamkan di Niushou, Nanking (Nanjing). Ia kemudian
menjadi peletak dasar orang-orang Cina ikut "bermain" dalam
pemerintahan di kerajaan-kerajaan Jawa. Cheng Ho dipercaya mengunjungi
Majapahit pada 1406, setahun setelah pelayarannya dari Cina.

Di
tengah keterpurukan bangsa dan maraknya konflik antarumat beragama,
sebuah keharusan membumikan pesan-pesan luhur Sam Po Kong, saat tiba
Hari Raya Imlek Cia Gwee Che It 1 Imlek 2259. Gong Xi Fa Cai ….!! (Ibn Ghifarie, mahasiswa
Studi Agama-agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan pegiat Khazanah Tionghoa
)***
Penulis:[PR Kampus, 31/01/08]



Post a Comment