Ayat (11)
Written on March 3, 2008 – 10:42 am | by ghifarie
Oleh Ibn Ghifarie
Saat
ngimpul bareng kawan-kawan Sunan Gunung Djati beberapa pekan lalu. Kala
senja mulai tertutupi oleh awan dan munculnya warna merah di ufuk barat
petanda Sang Raja Siang ingin ‘berpamitan sejenak’ kepada kita dalam
rutinitas kesehariannya.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu
pertanyaan yang dilontaskan oleh temenku ‘Kenapa benyak penulis brilian
dari Sumatra atau paling tidak ada keturunan Minangnya daripada Jawa,
termasuk Sunda?’
‘Seperti Buya Hamka, A Nafis, itu yang sudah meninggal atau Buya Syafie dan Azra yang masih hidup!!
Kata Pamali;Sumber Ketidak Bebasan Berekspresi
Aku
hanya bisa menjawab ‘Sejak awal mereka tidak pernah mendapatkan
larangan saat mengelurkan pendapat sekalipun berbeda dengan orang
tuanya’
Coba liat dalam obrolan Nenek kepada Cucunya saat
bertamasya ke Kampung halamannya ‘Saat ada yang bertanya Ari ujang
kadieu sareng saha? [Bareng siapa kesini]
Naek pasawat terbang [Naik pesawat terbang], jawabnya
Aduh
teu kenging nyarios kitu pamali. Pan ujang teh kadieu sareng Bapak naek
mobil pan!! [Jangan biang begitu. Kan cucu datang ke sini sama Bapak
itu naik mobil bukan!] Tegur Nenek.
Disadari atau pun tidak,
kata-kata pamali inilah yang membuat daya fakir masyarakat Sunda (maaf)
sedikit tidak bebas. Imajinasi untuk menuliskan satu gagasan menjadi
terganjal.
Berwatak Bebas, dan Tak Peodal
Deretan
pertanyaan sahabatku, terus muncul sekaligus menuntut jawaban.
Sampai-sampai saat mengikuti acara Seminar di Universitas Kristen
Maranatha (UKM), Bandung Jum’at (29/02) dengan tajuk bertema
"Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media".
Nah, saat
penjamuan makan siang pula akhirnya pertanyaan serupa ku lontarkan juga
pada kedua Narasumber; Wilson Lalengke, Pimred HOKI dan Andreas Hirata,
penulis Tetralogi Laskar Pelangi.
Menyoal kebanyakan
penulis berasal dari masyarakat sekaligus keturunan Minangkabau,
Sumatra daripada Jawa atau Sunda Wilson Lalengke, Pimred HOKI
menjelaskan ‘Mungkin saja karena budaya Jawa itu terlalu peodal dan
mangut-mangut terhadap orang tua atau yang kita tuakan, jelasnya
Berbeda
dengan kami setiap anak saat saya masih kecil bebas untuk mengepresikan
apa yang kita rasakan, alami dan liat untuk ditulis, tambahnya.
Selain
itu, kebiasaan merantau ke daerah lain untuk laki-laki dan jangan harap
kembali bila sebelum berhasil, baik dalam urusan materi maupun imateri,
ujarnya.
Faktor-faktor inilah yang memicu terlahirnya ribuan
penulis. Kendati besarnya para penulis tidak di daerah aslnya. Melaikan
setelah merantau ke Ibu Kota, tegasnya.
Hal senada juga
diamini oleh Andreas Hirata, penulis ‘Tertalogi Laskar Pelangi’
menuturkan liarnya imajinasi saat anak-anak menumbuh kembangkan gagasan
yang brilian ‘Berbeda dengan kebiasaan masyarakat luar Sumarta, maaf
terlalu dikungkung oleh atauran-aturan yang kaku.’
Tradisi inilah yang terus memicu anak muda untuk terus berkarya sekeil apa pun, ungkapnya.
Baca, Diskusi dan Merenung Modal Menulis
Kebiasaan
tulis-menulis tak selamanya hadir tanpa sebab. Melainakn harus dibina
secara terus menerus supaya terlatiih. Banyaknya bacaan, seringnya
berdiskusi dan membiasakan diri untuk tetap menulis apa yang kita
rasakan, alami, lihat, tentu akan membuahkan tulisan yang renyah
dibaca. Adakah waktu tepat untuk menuliskan sesuatu?
Menanggapi
kehadiran ide-ide untuk membuat tulisan di malam hari saat orang lain
tertidur lelap. Sukron Abdillah, tukang Bewara Sunan Gunung Djati
menjelaskan ‘Kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa
ini seakan terus-menerus mengidap penyakit "insomnia" di malam hari.’
Bahkan
ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa
siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari
kegundahan. Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco–menulis
adalah sebuah kewajiban moral, kilahnya.
Lebih berapiapi lagi Ia
menuturkan ‘Tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak
akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya
sesuatu yang “absurd”.’
Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku
katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah
tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan.
Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak
menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.
Memang menulis tidak muncul dalam kesendirian, tapi selalu terkait dengan budaya membaca, diskusi dan merenung.
Sejatinya
kebiasaan menulis tak perlu diembel-embeli dengan perasaan takut tak
dibaca atau di terbitkan. Pramoedya Ananta Toer mempunyai strategi jitu
dalam menepis anggapan ini “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut
tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis
dan tulis. Suatu saat pasti berguna,”
Tentunya, menulis
merupakan pertanda orang-orang beradab. Lihat saja jargon dalam dunia
Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) ‘Sebagaimana
bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan
membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange
distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen
ma from barbarian).
Mencoba mengikuti orang-orang berakhlak mulia, maka tak ada car alain selain menulis, menulis dan menulis. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi, 1/03/08;00.34 wib
4 Responses to “Ayat (11)”
By Yudha on May 22, 2008 | Reply
Kita coba ya!
By Tina Thompson on Nov 6, 2008 | Reply
I just wanted to say good work on your site, I like the look and the information was useful.
By Allison Sellers on Nov 24, 2008 | Reply
I am not sure I totally agree with you, but it is well stated. Keep up the good work.
By Tim on Dec 7, 2008 | Reply
Nice website, I love the look and the information.