Ayat (3)


Written on March 3, 2008 – 10:33 am | by ghifarie
Aku, Valentine`s Day dan Seonggok Tumpukan Sampah
Oleh  Ibn Ghifarie

Apa
yang anda lakukan manakala hari Valentine`s Day (14 Februari) itu tiba?
Aksikah, demokah, turun kejalan sambil meneriakan yel-yel, mengerumuni
sekaligus merusak pusat pelataran seks, mengucapkan ‘Selamat Hari
Valentine’, ataukah diam seribu bahasa.

Bila pertanyan itu
dialamatkan padaku, maka aku tak akan menjawabnya. Terlebih lagi,
melarang mereka untuk tidak melaksanakan acara Valentne. Namun, akan
sedikit bercerita tentang kasih sayang. Sekedar pelipur lara di
tengah-tengah kepenatan rutinitas pasca bencana. Pasalnya momen ini
merupakan hari bersejarah bagi kelompok tertentu.

Mereka
berusaha ingin membagi kebahagiaan satu sama lain (kaum adam dan hawa)
dalam bingkai cinta kasih. Meski terkadang disalah-artikan. Hingga
nyaris menuai protes dari golongan tertentu. Alih-alih mengikuti
tradisi barat dan tak sesuai dengan budaya timur pun menjadi alasan
mereka untuk berbuat semaunya. Konon, memasuki awal abad keempat
sebelum masehi, bangsa Romawi terbiasa mengadakan pesta bagi Dewa
Lupercalia (Lupercus).

Perhelatan akbar itu, dilaksanakan pada
pertengahan bulan Februari. Tentunya, bersamaan dengan musim kawin
burung. Perayaan hajatan Lupercalia itu, dianggap belum berhasil
manakala setiap laki-laki atau perempuan belum mendapatkan pasangan
masing-masing. Uniknya lagi, perjodohan tadi digelar dengan cara setiap
gadis harus menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan
ke dalam kotak. Begitupun sebaliknya. Para pemuda yang hadir diwajibkan
mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Walhasil, wanoja
yang terpilih akan menjadi pasangan jajaka tersebut, hingga berujung
pada kegiatan Lupercalia tahun depan.

Namun, seiring waktu
sepenggal zaman dan kuatnya pengaruh Gereja Roma. Kehadiran acara
perjodohan pun harus berujung di tiang gantung. Walau telah berlangsung
cukup lama sekira 800 tahun tradisi luhur itu melekat sekaligus menjadi
bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kala itu. Pasalnya,
pesta pora itu dinilai bertentangan dengan iman Kristen, bahkan
termasuk golongan kafir. Lagi-lagi setiap keadaan selalu hadir juru
penyelamat bagi kaum lemah. Terlebih lagi, pada saat Kaisar Roma berada
dalam genggaman Claudius II.

Ia memberlakukan peraturan yang
melarang orang-orang untuk menikah. Tiba-tiba, seorang uskup dari
Interamma bernama Valentine (270 M) berani memulai kembali kebiasaan
tersebut. Meski dalam prosesi kegiatanya jauh berbeda dengan tradisi
Lupercalian sebelumnya. Sudah tentu, secara diam-diam uskup Valentine
mengumpukan kaum muda-mudi yang saling ‘silang rasa’ supaya dapat
dinikahkan secara masal.

Di lain sisi, aktivitas Valentine itu
sudah tercium oleh Kaisar. Sampai-sampai Ia murka terhadap sang Uskup.
Alhasil, hotel predeo pun harus menjadi pilihan sekaligus rumah yang
tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya itu, ia bersama pengikutnya pula
harus beribadah pada Dewa Romawi. Bila mereka enggan melaksanakan
perintah penguasa, maka ia harus rela menangung akibatnya. Kematian pun
menjadi buah kegigihanya (14/02/269 M). (The World Book Encyclopedia,
1998) Walau sebelumnya Ia harus mendapatkan cacian, makian, bogem,
lemparan batu di tiang penyanggah dan dipenggal secara sadis. Hingga
nyawanya pun mesti lepas dari jiwa raganya.

Namun, berkat
keimanan yang kuat dan tebaran kasih sayang di penghujung titik nadir
Ia masih sempat berpesan kepada kaum hawa saat menyembuhkan mata
seorang gadis dari kebutaanya. Sang Mesias menulis catatan kecil
bertajuk ‘From Your Valentine’. Semenjak itulah, ungkapan-ungkapan
Valentine menjadi simbol hari kasih sayang. Hal ini terlihat dari
Kebiasaan mengirim kartu Valentine. Meski tak ada kaitan langsung
dengan St. Valentine.

Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang
St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di
Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya
dengan musim kawin burung dalam puisinya (The Encyclopedia Britannica,
Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998, Sinar Harapan
10/02/2003). Secara bahasa ‘Valentine’ berasal dari Latin yang berarti
: `Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”.

Kata
ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi.
(www.korrnet.org) Maraknya aksi prostitusi berkedok panti pijat dan
menjamurnya kematian bocah tak berdosa akibat hubungan di luar nikah
serta tak diterima kembali di keluarganya membuat sebagian muda-mudi
lupa diri, bahkan terlelap dalam kegelamouran pesta tersebut.

Nyatanya,
kehadiran hari kasih sayang malah melanggengkan budaya lalim. Sebab
bisa berakibat fatal bagi kaum hawa manakala terjadi perbuatan yang tak
diinginkan. Ambil contoh hamil diluar nikah, penularan HIV/AIDS.
Demikian penuturan dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari
Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan
erotis,” tutur dr Andik.

Ini bukan omong kosong lho. Salah satu
faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah
makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat?
Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine
atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho.

Bukti
lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14
Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari
impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih
parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week
(pekan kondom nasional).

“Maksudnya, kampanye nasional
penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti
peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai
33,3 persen,” imbuh dr. Andik. (www.dudung.net) Padahal, bangsa
Indonesia sedang dirundung malang pelbagai musibah dengan silih
berganti dan saling susul menyusul bencana.

Gundukan sampah pun
pasca musibah kembali meminta perhatian kita. Karena pengekspersian
kasih sayang tak selamanya harus berpesta pora. Atau sekedar
tukar-menukar kado berupa cokelat, bunga, perhiasan, kaset/CD dan
hadiah spesial lainya kepada pujaan hati.

Disadari atau tidak,
perayaan dari budaya Barat ini pun telah diserap oleh orang-orang
Indonesia. Sudah banyak orang Indonesia yang merayakannya dengan
kebiasaan masing-masing. Bukankah membuang sampah pada tempatnya dan
membersihkan tumpukan lumpur tidak termasuk dalam bingkai kasih sayang
pada lingkungan sekitar? Entahlah [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, pojok sekre Kere, 12/02;13.44 wib



Post a Comment