Ayat (6)


Written on March 3, 2008 – 10:36 am | by ghifarie
Scumbag Pendobrak Ujungberung Rebels dan Penulis ‘Yang Tertunda’
Oleh Ibn Ghifarie

Terkuaknya,
11 orang tewas mengenaskan saat peluncuran album ‘Baside’ di Asia
Africa Culture Center (AACC), sabtu (9/2) membuat komunitas underground
jadi bulan-bulanan.
Betapak tidak, angka kematian itu cukup pantastis.

Apalagi
menginat keberadaan musik bawahtanah sarat akan Stigma negative.
Alih-alih musik cadas yang diusung, dan lantas dikaitkan dengan
narkoba, alkohol, serta kekerasan. Benarkah begitu?

"Underground"
adalah GOR Saparua. GOR Saparua adalah underground. Seberapa banyak
dari Anda sulit membedakan kedua kata di atas. Mana yang diterangkan,
mana yang menerangkan.

Ya, underground tentunya tak lepas dari
peran GOR Saparua yang menjadi saksi bisu masa keemasan scene (baca:
pergerakan) musik itu di Bandung. Kita tentu mengingat betapa ingar
bingar musik cadas bergenre punk, hardcore, dan grindcore begitu masif
di Bandung sekitar 14 tahun silam. (Pikiran Rakyat, 12/02)

Ujungberung Rebels
Namun,
rasanya tak berlebihan jika membicarakan aliran bawahtanah tak
menyebut-nyebut ujungberung. Pasalnya, daerah Bandung Timur itu
merupakan gudangnya musisi aliran metal.
Tengoklah, dari 10 band
independen di Indonesia yang tercatat majalah Hai tahun 1995, tiga di
antaranya berasal dari Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad,
dan Sacrilegious. Label dan perusahaan rekaman yang mereka kibarkan
adalah Palapa Records.

Kendati tak jelas, kata Kimung, kapan
rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming heavy metal di
Indonesia pertengahan tahun 1980-an, Ujungberung tak ketinggalan tren
ini. Dalam kondisi yang sangat terbatas, beberapa gelintir kaum muda
Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu band rock favorit
mereka.

Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang
Bey (kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal.
Pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, mereka memainkan lagu rock
semacam Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden selain
menciptakan lagu sendiri. (PR, 13/02)

Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan
Pun
menyoal Ujungberung Labels tak pas bila tidak menyebut-nyebut Ivan
Firmansyah. Walau sudah dulu meninggalkan kita, 27 Juli 2007 silam
akibat penyakit akut yang dideritanya bebarapa tahun silam. Pemakan
Dangder jadi tempat peristiarahatan terakhirnya.

Ivan
Firmansyah, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-Ugalan adalah pionir
pendobrak Ujungberung Rabels. Bersama bandnya, Burgerkill, ia membuat
terobosan-terobosan besar yang lalu semakin mengangkat dinamika musik
independent ke tataran yang lebih tiinggi dan fenomenal. Yang kemudian
menjadi sangat personal, dengan segala pencapaianya, ivan tak lantas
berubah menjadi sosok yang lain. Ia tetep dengan segala kerendahan
hatinya, membumi bersama rereka yang mengusungnya.

Ia terlahir
dari pasangan Aam Rusyana Suhandi-Dedeh Herawati di Klinik Bersalin
Bidan Emma Fatimah, Jl Gegerkalong Hilir ke kediamnya di Jl Sarijadi
59/177 D. Pada tanggal 17 April 1978.

Masa kecil Ivan di besar
dalam pola asuh permisif, yang membesarkanya dan melakukan apa saja
tanpa kontrol yang jelas. Kurangnya perhatian itu dibarengi dengan
jarangnya mendapatkan ‘kasih-sayang lebih’ dari keluarganya.

Meninjak
remaja, ia acap kali berpindah asuhan. Sejatinya, figur keluarga
sebagai kontol dirinya cenderung semakin pudar. Pola pikirnya selalu
berubah. Tentu, sesuai dengan pola pembinaan yang didapat dari sang
empunya. Dalam urusan nilai dan norma sangat berat.

Perkenalanya
dengan Beby, penabuh drum Beside kala itu memikat hatinya untuk bermain
musik. Kendati darah seninya telah mengalir dari Ayahnya, karena memang
seorang seniman handal.

Semenjak itulah Ia kerap menghabiskan
waktunya bermain musik ria. Aliran Bawahtanah menjadi gendre yang
diusungnya kelak. Burgerkil jadi pelabuhan sekaligus muara dalam
mengekpresikan kegelisahan, kecambuk hatinya saat mengeja persoalan
yang dihadapinya.

Namun, ada yang unik dari Scumbag ini. Meski
seorang pentolan kelompok Metal yang sarat pengguna dzat adiktif, tapi
dalam urusan ibadah tak mau ketinggalan. Misalnya saat puasa di bulan
ramadhan Ia selalu menasihati kawan-kawanya untuk teta[ shaum dan
shalat. Lantunan adzan dari kejauhan terdengar agak sayup-sayup
mengisaratkan pertemuan Abid dengan Sang Kholik

Aing kan geus mabok van! Sengit Bebi protes
Eh..!! mabok mah mabok. Tapi nu lima waktu kudu jalan terus, ivan menjawab tak kalah sengit.

Inilah
percakapan yang mengasikan. Diakui atau tidak masa kecilnya yang
dipenuhi dengan bimbingan keagamaan yang kuat membuat Ia tetap
mempertahankan rutinitas ibadah. Keaktif di Ikatan Remaja Mesjid
Membangun Daerah (Remamuda) Al-Hidayah; Ikatan Remaja Nurul Islam
(IRNI); Ketua Ikatan Remaja Mesjid Sekolah Menengah Pertama (SMP) 12
Bandung. Melengkapi keimananya.

‘Penulis Yang Tertunda’
Satu
hal lagi yang tak kalah menarik darinya, keinginya untuk menulis
terpatri dalam coretan dinding kamar WC Rony salah satu kawan karibnya
dan buku harianya.

Ikhtiar sekaligus mengikuti orang beradab
dalam menulis terus mengebu-gebu bak api, manakala Ia mendapatkan
tawaran membuat ilustrasi untuk buku ‘Tiga Angka Enam’ karya Addy
Gembel (Forgoten) dari Minor Books yang dikomandoi oleh Kimung.

Mung urang oge loba tutulisan euy, bisa teu diterbitkeun kumaneh, cetusnya
Sarua
jeung si Addy sih. Carita-carita tentang lirik si be-Ka lolobanamah,
tapi siganamah teu siga si Addy. Urang teu bisa nyiuen siga kieu mah,
kata ivan sambil menggenggam naskah

Wah lamun carita-carita
tentang lirik si Be-Ka jigana bisa jadi biografi si Be-Ka nyet sok loba
geningan dina buku lirik-lirik the beatles, lagu taxman misalna, iraha
ditulisna, nunulisna saha, nyaritakeun naon, kritik dibalik lagu naon,
kondisi band pas nyiun lagu eta jiga kumaha, kondisi masyarakat, naha
lagu ditulis, jeung sajabana. Menarik sih nyet. Mung jiga kitu,
antusian Kimung panjang lebar.

Heueuh nya eta ku urang oge sarua
kapikiran kitu. Malah biogapi si Be-Ka mah urang haying nulsi misah
deui, ivan menangapi tak kalah antusias.

Enya sok atuh kari tuliskeun!
Bisa aing nulis. Hehehe! Enya eta, urang the teu bisa nuliskeuna, euy. Kumaha mun urang anu ngomong, maneh anu nulis.

Wah
hese atuh euy. Tuliskeun mah tuliskeun wae. Kajeun ku urang diedit.
Manehmah nulis hajar-hajar weh tong sieun salah tinggal si Gembel oge
rea pisan salahna, salah ketik, salah struktur kalimat, cuek weh! Kan
aya editor, kilahnya

Heueuhlah ku urang dicobaan heula dituliskeun. Ngke lamu urang butuh bantuan omat bantuan urang, harapanya.

Keterlibatanya
dalam dunia tarik suara tak bisa diragukan lagi. Band Burgerkill tak
bisa dipisahkan darinya lasmana dua sisi mata uang. Kegigihanya dalam
berdendang menorehkan beberapa karya monumental. Hingga kini terkenang
dalam ingatan pecinta musik underground, diantaranya; “DUA SISI” MC
Album, Riotic Records, (2000), “BERKARAT” MC & CD Album, Sony Music
Ent. Indonesia, (2003), “DUA SISI REPACKED” MC & CD Album, Sony
Music Ent. Indonesia, (2005), “BEYOND COMA AND DESPAIR” MC & CD
Album, Revolt! Records, (2006)

Beberapa penghargaan pun telah diraihnya; Nominator “Band Independent Terbaik” versi majalah NEWSMUSIK Indonesia, (2000),

Exclusive
1 year Endorsement “PUMA Sports Apparel” USA, (2001), Exclusive 2 year
Endorsement “INSIGHT Clothing” Australia, (2002),

Award “Best
Metal Production” (“Berkarat”, Sony Music Ent.), AMI AWARDS, (2004),
Salah satu Album Terbaik (“Beyond Coma…”, Revolt! Records) versi
majalah RIPPLE Indonesia, (2006), 20 Album Indonesia Terbaik (“Beyond
Coma…”, Revolt! Records) versi majalah ROLLING STONE Indonesia, (2006),
Original Soundtrack “Hantu Jeruk Purut” Movie, Indika Film, (2006),
Original Soundtrack “Malam Jum'at Kliwon” Movie, Indika Film, (2007).

Di
tengah-tengat derasnya arus pelabelan dan mudahnya menjadi seleb
mendadak. Scumbag bareng Burgerkill saat teken kontrak selama 6 album
dengan Sony Music, malah rela meninggalkan produksi recor ternama itu
dan kembali ke Indi.

Keputusan inilah yang menjadi decak kagum,
Gustaff H Iskandar, Seniman bekerja untuk Bandung Center For New Media
Arts Common Room Networks Foundation di prolog buku Based On True Story
My Self Scumbag (Beyond Life And Death) (2007;365)
 
Namun
keterbatasan inilah yang justru malah membina mereka menjadi
musisi-musisi yang konsisten diranah idealisme yang tinggi.
Terkondisikan oleh gesekan-gesekan dari lingkungan sekitar, membuat
mental musisi-musisi Ujungberung menjadi kuat. Ini terbukti hingga
sekarang mereka tetap konsisten memainkan musik yang mereka sukai,
tidak terpancing oleh arus trend yang global. Justru merekalah yang
kemudian menciptakan trend di kalangan musisi underground Bandung,
Bahkan Indonesia.

Dengan demikian, kiranya kita menghargai
sekaligus mendukung tumbuh berkembangya pelbagai aliran musik di
Indonesia sebagai khazanah kebudayaan yang tak ternilai harganya. Sebab
peradaban suatu bangsa terlihat dari seberapa jauh kita menghargai
karya budaya anak negeri. Semoga. [Ibn Ghifarie, Mahasiswa
Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan Pemerhati musik
bawahtanah
]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 12/02/08;22.39 wib dan 13/02/08;16.57 wib



Post a Comment