Ayat (1)


Written on February 10, 2008 – 9:32 am | by ghifarie
Ayo Ngeblog, Ayo Ngoment Juga!!!
Oleh Ibn Ghifarie

Konon,
keberhasilan satu komunitas blogger atau blog pribadi terlihat dari
seberapa banyak komentar yang digondol sang pemilih rumah. Apapun
postinganya.

Bila kesepakan ini yang menjadi tolak ukur, maka
tulisan berbau porno atau situs blue akan kebanjiran tulisan dari
pembaca budiman. Sungguh mengerikan.

Namun,
dimata sebagian kelompok ngeblog tidak demikian. Pasalnya, komentar
menjadi persyaratan yang tak bisa di tawar-tawar lagi saat menjadi
anggota perkumpulan. Asyik bukan?

Mencoba mengikuti kebiasaan itu, Ayo ngeBlog! masih jauh tertinggalan jika dibandingkan dengan blog para selebritis. Kendati ada larangan ‘Jangan Komen di Blog Selebritis.!!’

Lihat saja, blog Dian Sastro,
aktor kawakan ‘Ada Apa Dengan Cinta’ komentarnya sungguh pantastis.
Betap tidak, dari 5 postingan teratas; Dian Iseng Maen Kuku (10);
Banyak di Rumah, Dian Sering Bolong (34); Demo Mahkamah Agung (Dian
Sastro) (10); Dian jadi Pembicara Seminar (23); Mahasiswa Abadi Noway!
(29). Memang menarik untuk melontarkan kata-kata kepadanya.

Satu lagi, tengoklah blog Angelina Sondakh,
mantan Putri Indonesia lebih mengejutkan lagi dari 5 urutan pertama;
Batik In Netherlands (28); True Friendship, What Money Cant Buy (24);
Eliminating Violance Agaits Childrent (17); My Best Frinds Wedding
(11); Vacuumnya Hubungan Percintaan (56). Rasanya bersyukur bisa ikut
nimbrung sekaligus terkenal di blognya.

Hingga tulisan ini diturunkan, di Ayo ngeBlog!
masih belum seberapa. Coba cermati 5 judul awal; Blog Juga Hasil Karya
Cipta; Menurut Anda Gimana? (2); Desain Baru, Semangat Baru! (9); Turut
Berduka Cita Atas Wafatnya Pa Harto (9); Kala Soeharto Ngeblog,
Mungkinkah (19); Ekstrovert-Instrovert, Semuanya Cocok Dengan Blog (8)

Di
akui atau tidak popularitas seorang pemilik blog dan ketenaran komandan
komunitas blogger menjadi penentu kemunculan seberapa jumlah
komentarnya.

Sejatinya kita mengkampanyekan Ayo ngeBlog! Ayo Ngomentar Juga. [Ibn Ghifarie]

Ayongeblog!!!

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 1/02/08;23.15 wib

Mushaf (20)


Written on February 10, 2008 – 9:31 am | by ghifarie

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Chin [Cina]. (peribahasa)

RASANYA
tak berlebihan bila petuah di atas mengingatkan kita untuk tetap
berusaha mencari ilmu pengetahuan, sekalipun jauhnya ke negara Cina.
Menuntut ilmu merupakan satu kewajiban bagi umat Islam (hadis).

Kehadiran
Hari Raya Imlek layak pula kita jadikan momentum evaluasi secara
bersama, mulai dari nilai dinamika keberagamaan (antar, intra) kita,
sampai sistem pemerintah. Membicarakan perayaan masyarakat Tionghoa,
khususnya di Indonesia, sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari sosok
pejuang-gigih risalah Tuhan—yang mulai kita lupakan.

Adalah
Laksamana Cheng Ho atau lebih dikenal dengan sederetan nama Cheng Ho,
Hanyu Pinyin, Zhèng Hé (Wade-Giles), atau Haji Mahmud Sam Po Kong (1371
- 1435). Cheng Ho merupakan seorang kasim Muslim, pelaut sekaligus
penjelajah Cina terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara
1405-1433, saat kaisar Tiongkok Yongle (berkuasa tahun 1403-1424)
sebagai kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Ia berasal dari
Provinsi Yunnan, bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip
dengan suku Han, tapi beragama Islam. Kala pasukan Ming menaklukkan
Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan dijadikan orang kasim. Kali pertama
Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri
Tiongkok, Hang Li Po (Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk
menikah dengan Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).

Cheng Ho
melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande pada
1426-1435) ke beberapa daerah dan negara di Asia dan Afrika, di
antaranya Vietnam, Taiwan, Malaka/bagian dari Malaysia, Sumatra/bagian
dari Indonesia, Jawa/bagian dari Indonesia, Sri Lanka, India bagian
Selatan, Persia, Teluk Persia, Arab, Laut Merah, ke utara hingga Mesir,
Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik (www.wirahma.com).

Dalam
khazanah keislaman, kehadiran Cheng Ho di Indonesia telah memunculkan
wacana baru studi keislaman Indonesia. Cheng Ho berperan besar dalam
pergolakan politik kerajaan-kerajaan di Jawa. Setidaknya, Cheng Ho
berperan dalam membangun kerajaan Islam Demak pada tahun 1475, serta
memiliki andil besar dalam keruntuhan Majapahit.

Selama ini yang
kita kenal kehadiran Islam di Indonesia biasanya dikaitkan dengan dua
teori besar yakni teori Arab dan India. Literatur "padang sahara"
mengatakan Islam masuk Indonesia langsung dari tanah Arab, tepatnya
Hadramaut. Kali pertama teori ini dipopulerkan oleh Crawford–diikuti
oleh sejarawan Indonesia seperti Mukti Ali dan Buya Hamka. Sementara
teori India (Gujarat) dipopulerkan oleh Snouck Hurgronje (atau Abdul
Ghofur).

Prof. Dr. Abdul Jamil, Rektor IAIN Walisongo Semarang
dalam Perayaan Festival Cheng Ho (2005) menuturkan, Cheng Ho berperan
dalam proses panjang islamisasi di Nusantara, sekaligus persahabatan
antarbangsa dan kerukunan masyarakat. Menariknya lagi, misi misi utama
pelayaran Cheng Ho adalah menjalin persahabatan. Jika ada aspek dakwah,
hal itu harus dilihat dalam perspektif makro, tidak seperti model
dakwahnya para Wali Songo yang menghasilkan banyak konversi agama. Oleh
karena itu, jika ada nuansa Islam dalam melaksanakan misi kenegaraan
itu, pada hakikatnya merupakan hasil samping karena tanggung jawab
seorang Muslim untuk berdakwah meski hanya satu ayat.

Pendeknya,
kalau memakai istilah sekarang, dakwah yang dijalankan oleh Cheng Ho
adalah model dakwah bil hal, dakwah dengan contoh perilaku, karena yang
dikembangkan merupakan inti untuk memperkuat kerukunan seperti juga
yang menjadiinti ajaran agama Islam. (Republika, 5/8/2005)

Laksamana
Cheng Ho meninggal pada 1435 dalam perjalanan pulang dari Afrika Timur
ke Cina. Ia dimakamkan di Niushou, Nanking (Nanjing). Ia kemudian
menjadi peletak dasar orang-orang Cina ikut "bermain" dalam
pemerintahan di kerajaan-kerajaan Jawa. Cheng Ho dipercaya mengunjungi
Majapahit pada 1406, setahun setelah pelayarannya dari Cina.

Di
tengah keterpurukan bangsa dan maraknya konflik antarumat beragama,
sebuah keharusan membumikan pesan-pesan luhur Sam Po Kong, saat tiba
Hari Raya Imlek Cia Gwee Che It 1 Imlek 2259. Gong Xi Fa Cai ….!! (Ibn Ghifarie, mahasiswa
Studi Agama-agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan pegiat Khazanah Tionghoa
)***
Penulis:[PR Kampus, 31/01/08]

Mushaf (19)


Written on February 10, 2008 – 9:31 am | by ghifarie
Kata Mereka; Pahlawan Nasional Bagi Soeharto
Oleh Ibn Ghifarie

Pemberian gelar pahlawan bagi almarhum mantan Presiden RI Soeharto menuai ragam pendapat, diantaranya;

‘Ya
iyalah. Kan Bapak Pemabangunan. Kita bisa lihat hasil pembanguanya dari
bangunan jalan (dari kota ke pedesaan-red), gedung menjulang tinggi.
Kendati banyak menjual aset-aset negara dan hak kekayaan alam nusantara
(hutan, kebun)’, Hikmat Servis Komputer.

Setuju.
Karena telah bersaja pada bangsa. Yang terpenting lagi keberhasilan
suatu bangsa diliat dari sejauh mana kesejahtraan rakyatnya. Nah, jika
dibandingkan dengan kepemimpinan (Predsiden-red) sekarang. Soeharo jauh
lebih membahagian rakyat ketimbang Presiden sekarang. Makanya sudah
selayaknya mendapat gelar Pahlawan Nasional itu, Ogi Pelajar

Sudah
selayaknya pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional terhadap
Soeharto. Sebab telah berjasa dan termasuk putra terbaik bangsa, Dani Karyawan Markeeting

‘Bagi
saya ga usah dimasukin kapada Pahlawan Nasional. Masa orang yang telah
banyak membunuh masyarakat, seperti tragedi Tanjung Priok, G 30 SPKI,
mau dikategorikan pahlawan. Lantas dimanakah hati nuraninya? Dian Aktivis Pergerakan Mahasiswa.

Nya
kedah dileubetkeun atuh. Kumargi parantos berjasa pisan kan nagara
urang. Cing cobi emut-emut waktos zaman Bapak Ato tara aya anu demo,
kaributan jeung sajahtera [Ya mesti dimasukin. Karena telah berjasa
terhadap negara kita. Tolong kita ingat kala pemerintahan Bapak Suharto
jarang ada demo, keributan dan sejahtera], Udin Pedagang Kecil. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kelam, 30/01/08;17.23 wib

Mushaf (18)


Written on February 10, 2008 – 9:30 am | by ghifarie
Pemerintahan DEMA; Kemunduran Besar
Oleh Ibn Ghifarie

Setelah
pertemuan antara Pudek (Pembantu Dekan) III tiap Fakultas (Filsafat dan
Teologi, Tarbiyah dan Pendidikan, Adab dan Humaniora, Syariah dan
Hukum, Dakwah dan Komunikasi, Psikologi, Sains dan Teknologi) dengan
perwakilan mahasiswa (HMJ [Himpunan Mahasiswa Jurusan] dan Ketua Kosma
[Komisariat Mahasiswa] ) tentang penerapan sisitem pemerintahan
mahasiswa (Student Good Govermance) di kalangan Universitas Islam
Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, sepekan yang lalu.

Perubahan
sistem dari BEM (Badan Eksekutive Mahasiswa) ke DEMA (Dewan Mahasiswa)
dan SEMA (Senat Mahasiswa) menuai pelbagai kritik. Pasalnya, keberadaan
DEMA dianggap memberangus kebebasan demokrasi mahasisa, hingga
dikategorikan mundur jauh kebelakang.

Salah satu mahasiswa
angkat bicara, Farid mahasiswa Sosiologi menjelaskan ‘Sistem ini
(DEMA-red) masih dalam tahan percobaan dan tak jelas aturan mainya.
Masa kita mau dijadikan kelinci percobaan?

Silahkan lihat
kriteria seorang Pemimpin pada Bab V Pasal 8 point 3, 4 dan 5 (tentang
Kepengurusan, Anggota dan Cara Bakti-red). Di sana tertulis IPK minimal
3, 25 dan minimal semester V dan maksimal VII. Harus mendapat
Rekomendasi dari Ketua Jurusan, Pudek Tingkat Fakultas, Ketua Bidang
Mahasiswa untuk Sekolah Tinggi, Purek (Pembantu Rektor) untuk tingkat
Universitas. Rekomendasi untuk calon ketua diatur oleh masing-masing
pemimpin Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), jelasnya.

Selain
itu, dalam hal sanksi Dosen, Karyawan berhak memberikan hukuman. ‘Masa
tukang sasapu bisa mere hukuman [Masa klinik servis berhak memberikan
sansi kepada mahasiswa yang melanggar], tambahnya.

Pernyataan
senada juga dilontarkan oleh Fauzi, Presiden Mahasiswa Perbandingan
Agama ‘Iya nih masa karyawan bisa memberikan sanksi bagi yang melanggar
atauran main DEMA tersebut’.

Menyinggung perubana nama dari KBM
(Keluraga Besar Mahasiswa) ke Senat Mahasiswa, masih menurut Fauzi
‘Secara labeling (penamaan-red) kita sepakat, tapi soal kebijakan dan
aturan main kita tidak,’ tegasnya.

Sudah jelas aturan ini bisa
memperburuk dan memberangus kreativitas mahasiswa. ‘Waktu memakai
sistem BEM saja masih sedikit mahasiswa yang peduli. Apa jaminan dari
DEMA mahasiswa lebih peduli. Yang ada hanya pembunuhan karakter
mahasiswa, cetusnya.

Keluarnya keputusan Dirjen Pendidikan Islam
Departemen Agama Republik Indonesia No Dj. i/253/2007 tentang Pedoman
Umum Organisasi Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Islam (PTAI). Bagi saya
yang jadi persoalan aturan ini keluarnya surat edaran ini sekitar bulan
juli 2007, ‘Ko baru dibicarakan dan berusahan disosialisasikan bulan
sekarang (januari 2008-red). Ada apa nih?, keluh Siti Yasmin mahasiswa
Sejarah Peradaban Islam.

Yang jelas aturan ini sangat kaku dan
memasung kebebasan mahasiswa. Jika tetap berusaha untuk dilendingkan
ini kemunduran besar bagi Universitas, ujarnya.

‘Inilah gaya
baru pemertiban aktivitas mahassiswa. Kaya Orde Baru saja ada NKK dan
BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus (1978) dan Badan Koordinasi
Kemahasiswaan (1980-red). Pokoknya neo-NKK bagkit lagi’, kata salah
satu mahasiswa lainya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Wartel, 29/01/08; 20.23 wib

Mushaf (17)


Written on February 10, 2008 – 9:29 am | by ghifarie
Mahasiswa UIN SGD Bandung Angkat Bicara Soal 7 Hari Berkabung Nasional
Oleh Ibn Ghifarie

Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan kantor pemerintahan dan
kantor perwakilan RI di luar negeri mengibarkan bendera setengah tiang
dari tanggal 28 Januari hingga 2 Februari 2008.

Pemerintah juga
menyatakan sebagai hari berkabung nasional selama 7 hari atas wafatnya
mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Demikian dikemukakan Mensesneg Hatta
Rajasa, dalam jumpa pers di Kantor Sesneg Jln. Medan Merdeka Utara,
Jakarta, Minggu (27/1).

Presiden atas
nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi menyampaikan
belasungkawa atas wafatnya H.M. Soeharto. Presiden mengajak seluruh
rakyat Indonesia untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya
kepada salah satu putra terbaik bangsa. SBY juga mengajak umat Islam
membacakan surat Al-Fatihah.

"Kita semua berduka dengan wafatnya
Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua, karena
sakit. Atas nama negara, rakyat, pemerintah, dan selaku pribadi, saya
mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak Haji
Muhammad Soeharto," kata Presiden Yudhoyono dalam keterangan pers di
Kantor Presiden, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Minggu (27/1).

Keluarnya
Pernyataan sikap Presiden selaku Kepala pemerintahan Indonesia menuai
perbagai macan komentar masyrakat. Khususnya dikalangan Civitas
Akademikan UIN SGD Bandung. Salah satunya Yogi mahasiswa Materamika
Fakultas Sain dan Teknologi menuturkan ‘Wah itu sangat perlu sekali.
Sebaba Ia telah berjasa pada bangsa ini’.

Coba kalao bukan oleh
Bapak Pembangunan niscaya deretan tinggi banguna yang menjuklang itu
merupaka hasil jerih payanya selama 32 tahun. Sekarang kita tainggal
menjutkan dan mengisi pembanguna tersebut, jelasnya.

Keberhasilan
suatu bangsa itu terlihat dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Pada saat pemerintahan Orde baru sangat jelas bila dibandingkan dengan
zaman reformasi ini. Pokoknya dimana-mana kalaparan, busung lapar,
kurang gizibencana, benerr pan [Pokoknya di daerah mana-mana terkena
kelaparan, burung lapar, kurang gizi, bencana, benerkan!!], keluhnya.

Lain
lagi dengan Jamhur aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK)
Bandung, menjelaskan ‘Ini ga boleh terjadi. Karena sanget merugikan
masyarakat Indonesia, khususnya kaum terpelajar’,

Seutik-saeutik
peure. Lamun keu terus carana. Atuh iraha bangsa urang maju kawan
nagara lain [Sedikit-sedikit libur. Kalau begini keadaanya secara terus
menrus. Kapan mau majunaya bangsa kita ini seperti negaara lainya],
tambahnya.
Ceuk urang teuteup teu bisa [bagi saya tetep ga bisa] soal 7 hari berkabung atas meninggalnya Soeharto, cetusnya.

Menyinggung
upacara pemakaman orang nomer satu saat Orde Baru dan Presiden akan
bertindak sebagai inspektur upacara saat pemakaman di Astana
Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, hari ini (Senin, 29/01)

Bagi
saya sudah selayaknya bangsa kita menghargai jasa putra terbaik bangsa.
Selain itu, memang sudah ada ketentuan UUnya (Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 62 Tahun 1990. PP itu mengatur tentang ketentuan keprotokolan
mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan bagi pejabat
negara, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat-red), killah Yogi

Di
mata, Jamhur tetap tak boleh terjadi ucapara kematian Bapak Pembangunan
itu secara besar-sebaran dan adanya 7 hari berkabung nasional, seban
tetap saja dimata Tuhan yang membedakan kita hanya derajat ketaqwaanya
sambil menyentil Al-Qur’an,

Hal senada juga diungkapkan oleh
aktivis pergerakan yang tak mau disebutkan namanya ‘Yang mesti
berkabung nasional itu bukan kematian penguasa 32 tahun itu, melainkan
saudara-saudara kita yang terkena Lumpur lapindo. Sudah berapa tahun
mereka menderita dan tak mendapatkan kepastian dari pemilih
perusahanan’.

Bahkan kabra terbaru pihak Lapindo dibebaskan oelh
pengadilan karena tak terbukti salah. Padahal ini sudah jelaj-jelas
salah kaprah, paparnya.

Bila ingin tetap menggelar 7 hari
berkabung nasional dengan mengibarkan bendera setengah tiang, maka
berapa hari untuk menyuarakan berkabungnya kematian hati nurani pada
bangsa kita, harapanya. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 29/02/08;14.27 wib

Mushaf (16)


Written on February 10, 2008 – 9:28 am | by ghifarie
Haruskan Tahlilan Kematian Soeharo Digani; Membagikan Harta Kekayaanya?
Oleh Ibn Ghifarie

Rasanya
angkuh bila kita tak memberikan ucapan belasungkawa terhadap keluarga
Cendana. Pasalnya, Bapak Pembanguan telah meninggalkan kita semua untuk
menghadap Sang Kholik, Minggu (27/01) pukul 13.19 wib.

Semoga
amal baik mantan Penguasa Rezim Orbe baru itu di teriman oleh Tuhan dan
masyarakat Indonesia memaafkan segala kehilafannya.

Tak pelak, tradisi tahlilan
pun menjadi bagian yang tak bisa di ganggu gugat. Masih ingat dalam
benak kita, saat Ibu Tien (1996) meninggal kebiasaan membaca yasinan
itu menjadi sebuah keharusan. Seakan-akan rasanya tak afdhal bila kita
meninggalkan warisan para leluhur tersebut.

Kini, saat The Smiling General berpulang ke pangkuan rahmatullah. Adakah acara melayat mendingan Soeharto diwarnai tahlilan?

Hayu atuh. Kabeh sa UIN jeung Rektor kudu mimpina
[Ayo segera. Kalu perlu seluruh Civitas Akademika UIN SGD Bandung dan
Rektor, Prof Nanat Fatah Natsi, M.Si harus menjadi pemimpinya], kata
Sulthonie, Desen Fakultas Filsafat dan Teologi.

Meninggung kebiasaan Tahlilan yang dianggap oleh kelompok tertentu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Ia menjawabnya ‘Bid’ah teh lamun PERSIS (Persatuan Islam). Da urang mah UIN [Bid’ah itu kalau menurut pemahaman ajaran PERSIS. Kan saya bukan UIN (keislaman non sectarian-red)]

Lain lagi Sulthonie. Lain pula Akhmad Mikail, mahasiswa Sains dan Teknologi menuturkan ‘Ah pami abi mah hente, da tara. Tapi pami di bumina mah sigana nuju rame [Ah bagi saya tidak, soalnya tak pernah. Tapi kalau dirumah (mendiang-red) pasti rame].

Anu jelas mah teu aya contona ti Rasul [Yang jelas tradisi tahlilan itu tidak ada contohnya dari Rasulullah Saw], jelasnya.

Alangkah
baiknya jika biaya tahlilan pak Harto dikasihkan kepada rakyat. Cukup
barangkali memberikan makan bagi ratusan juta warga miskin, yang
sekarang jarang tersenyum. Atau selama 7 hari keluarga cendana harus
mengembalikan aset negara untuk kemaslahatan rakyat, kata Sukron
Abdilah, pegiat Studi Budaya dan Pemerhati Budaya Lokal Sunda.

Nah,
tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya, alangkah baiknya jika 7 hari
masa berkabung atas wafatnya Suharto dijadikan waktu untuk menggenjot
program ketahanan pangan. Karena ketika kebutuhan pangan untuk bangsa
ini murah-meriah, boleh jadi senyum manis Suharto akan kembali
dirasakan rakyatnya. Bukan ketegangan, ketimpangan, kemelaratan, dan
kemiskinan yang dirasakan bangsa ini, harapnya.

Menilik
kebolehan penggantian tahlilan dengan cara membagikan kekaraan terhadap
rakyat atau sekedar membagikan makanan alakadarnya bagi anak-anak
jalanan.

Akhmad berkata ‘Satuju..!! Mudah-mudahan abdi kabagean,
kumargi kaabus miskin [Sangat setuju sekali. Semoga saya dapat bagian,
karena saya masih tergolong miskin], cetusnya.

‘Kan putra putrina pengusaha. Pastina bisa muka lapangan kerja keur masyarakat anu nganggur
[kan putra-putri Soeharto itu para pengusaha. Pastinya dapat mmebuka
lapangan kerja supaya dapat mengurangi angka pengangguran], tambahnya.

‘Nya atuh sakali-kali tahlil. Ulah ka masyarakat miskin wae. Da urang oge miskin
[Ya sesekali ngadain tahlilan. Ga usah ngasih ke masyarakat (perubahan
gaya tahlilan; tidak berdoa dan membaca Al-Qur’an, tapi membuka
lapangan kerja-red) saja. Kan saya juga termasuk miskin] ungkap
Sulthonie

Kendati masih dalam suasana duka dan belom terpikirkan
untuk menggelar kebiasaan luhur tersebut. Haruskan Tahlilan kematian
Soeharo digani; membagikan harta kekayaanya? Selamat jalan Bapak
Pembangunan. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes Pojok Komputer Ngaheng, 29/01/01;01.36 wib

Mushaf (15)


Written on February 10, 2008 – 9:27 am | by ghifarie

Maraknya kumpulan blogger, seperti Angin Mammiri dari Makassar, Loempia dari Semarang, Bandung Blog Village dari Bandung, Ranah Minang dari Padang, Angkringan dan Cah Andong dari Yogyakarta, Tukang Lenong dari Jakarta, Komunitas Blogger Muslim, Blogfam, Merdeka, Multiply Indonesia, IdGmail!, bahkan dari Kuala Lumpur (Malaysia).

Demi menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia. Pasca “Pesta Blogger 2007”
maka bermunculan para Blogger. Entah yang mengatasnamakan pribadi,
komunitas, para pejabat pemerintahan beserta lembaganya. Mengasikan
memang.

Nah, yang lebih mengherankan
lagi, saat Penguasa Rezim Orde Baru mulai kritis di Rumah Rakit
Pertamina pula karena penyakit komplek yang dideritanya.
Sekoyong-konyong ada seorang blogger, rumahkayubekas menulis ‘Seandainya Soeharto NgeBlog( Kali Nih Kali)’

Sontak
saja, aku tertawa terbahak-bahak sekaligus berkata ‘Memang selalu ada
yang unik bagi para Blogger saat menyoal persoalan apapun’ . Ya bukan
apa-apa. Semuanya demi membiasakan menulis pada blognya masing-masing
dan mengajak pembaca untuk tetap ngeblog. Benerkan!

Kendati
masih mendapat perawatan intensif dari pelbagai Dokter ahli. Namun,
kondisi kesehatan Bapak Pembangunan itu tetap saja lemah sekaligus
masih berbaring di atas kasur. Seolah-olah menanti ajal dari Sang
Kholik.

Ia mengawali tulisanya dengan menuturkan ‘Soeharto emang
sakti/ Saat sehat, ya juga saat sakit seperti sekarang ini/ Semua
begitu peduli/ Semua begitu atensi.

Animo masyarakat sangat
besar terhadap Penguasa 32 tahun ini. Seakan-akan rakyat lupa sejenak
atas segala persoalan kemiskinan; kenaikan tahu dan tempe, konversi
minyak ke gas, kekurangan gizi dan busung lapar, korban bencana di
sana-sini yang dihadapinya.

Tak hanya sampai di sini, sang empu Blog itu malah ‘Berandai-andai bila Soeharto Ngeblog’. Coba apa yang akan terjadi?
So pasti di BOTD no hiji,
Traffic? dijamin tertinggi,
Mo dimana aja pasti,
The first rank anywhere it’s me.

Meski
begitu, inilah ‘potret lain’ para Blogger kala membincang pelbagai
permasalahan. Selelu dikaitkan dengan semangat berapi-api untuk tetap
ngeblog. Ayongeblog.

Nah, menurut kawan-kawan mungkinkah Soeharto Ngeblog? [Ibn Ghifarie]

Ayongeblog!!!

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 24/01/00;02.59 wib

Mushaf (14)


Written on February 10, 2008 – 9:25 am | by ghifarie
Surat Milad; Kerinduan Yang Tak Kunjung Datang
Oleh Ibn Ghifarie

Apa
ari sebuah kelahiran? Lama aku termenung, sulit menemukan jawabab. Yang
tergambar justru Neneku. Dialah penggenti pigur Ibu. Konon, Ia
mengembil fungsi ke dua Orang Tuaku semasa aku lahir ke dunia fana ini.

Tak
ada kata-kata bermakna yang selalu keluar dari Mamah Endet, pangilan
akrab Nenekku kecuali satu ungkapan `Semoga menjadi orang` itu doa
Nenek, pendek dan sederhana.

Saat termenung di tengah-tengah pencarian ari Maulid. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara `Cis kacang buncis nyengcle` dari HP(Hand Pone)ku. Tanpa panjang leber ku buka alat komunikasi tersebut.

Ass..Kang.
Met Milad y..Moga dengan usia yang tersisa makin di berkah oleh Allah
SWT. Makin sering berkarya.Kuliah dan kerja lancar. Amien. Bersemangat
ya,
Ara mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Lampung. (20/01;08.28.35)

Selamat hari lahir. Berharap semakin bijak mengarungi kehidupan. sukses selalu,’ pesan adeku, Rofi Muhammad Rizal Ghifarie, mahasiswa Teknik Industri UNiversitas Gajah Madja (UGM) Yogyakarta. (20/01;19.29.33)

Wilujeng Milangkala Ka-24. Mugia janteun jalma anu langkung sae [Selamat Ulang Tahun ke-24. Semoga menjadi orang yang lebih baik] Siti Nurdini (23). (20/01;20.08.23)

lain
lagi dengan Pradewi Tri Chatami, mahasiswa Antropologi Unpad
(Universitas Padjajran) Bandung memberikan pesan singkat melalui satu
pertanyaan;

Apa yang terjadi saat angka dalam usia berubah, bertambah?
Barangkali hanya raga yang menua,
Pikiran semakin dewasa.
Apapun itu,
Jika hari ini nafas masih dikala
Maka ada banyak kemungkinan
Jalan dan kesempatan memperbaiki kualitas dan kemanusiaan
Selamat Ulang Tahun kawan. (20/01;15.29.36)

Walhasil, tak ada yang ku perbuat selain berdoa, menulis, menulis dan menulis. Kendati status mahasiswaku sudah tak lagi muda.

Rasanya
ingin sekali berbuat banyak,kepada kedua Orang Tuaku saat usiaku sudah
diambang dewasa. Kawan-kawan pun mulai menjalani kehidupan
masing-masing, hingga memiliki buah hati.

Namun, aku masih seperti ini. Tak memiliki apa-apa. Membahagiaka Mamah dan Bapa pula sering terlupakan.

Kehadiran
kelahiran. Semoga menjadi pemicu semangat untuk berbuat baik.
Satu-satunya cara dengan menulis ‘Surat Milad; Kerinduan Yang Tak
Kunjung Datang’

Kepada

Kedua Orang Tua
Yang berada di perkampugan nan jauh di sana.

Muhun pisan abdi teh sabar seueur kalepatan.
Sok langki uih,
Sok langki masihan kabar
Sok langki barang bere

Malahan nyuhunkeun wae
Malahan ngantosan di hubungi wae
Malahan hare-hare wae

Kumargi kitu
Abdi sakali deui nyuhunkeun di hapunteun Ma, Apa
Tina sadayana kahilapan,
Boh anu dihaja atawa heunteu

Mugia ku ayana seratan ieu
Tiasa ngabeungberah manah anu riweuh
Tiasa ngubaran hate anu darigdug
Tiasa niiskeun kaayaan anu parna

Mung sakitu wae anu tiasa kapedar dina danget ayeuna. Simkuringn seja nadar mugia sakola rengse ayeuna.
Piduana wae tisadayana. Amien.

Anaking

Ibn Ghifarie

[Memang ku akui, terlalu banyak berbuat lalim
Ya jarang pulang
Ya jarang memberitahu kabar
Ya jarang memberikan sesuatu

Bahkan sering meminta
Bahkan selalu menunggu untuk dihubungi
bahkan tak peduli

Oleh karena itu
Sekali lagi aku minta maaf. Semoga di maafkan oleh Ayah dan Bunda
Dari segala kehilapan
baik yang disengaja ataupun tidak

Mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini
Bisa sedikit mengobati luka
Bisa menenangkan perasan hati yang tak tentu
Bisa membuat suasana hening

Hanya kata-kata inilah yang bisa saya ucapkan pada kesempatan ini
Saya berjanji semoga kelar sekolah sekangan ini
Dorang doa dari semuanya. amien

Ananda

Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/01;08.42 dan 22.56 wib

Mushaf (13)


Written on February 10, 2008 – 9:08 am | by ghifarie
Mohon Penjelasan Rektor UIN SGD Bandung; Alokasi Dana Praktikum
Oleh Ibn Ghifarie

Kendati
tidak terjadi gelombang aksi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Gunung Djati (SGD) Bandung saat pembayaran regisrasi SPP dan biaya
praktikum, kamis (24/01). Berdeda dengan mahasiswa Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat kenaikan SPP dan praktikum
diwarnai kericuhan (22-23/01).

Namun, sejumlah mahasiswa UIN SGD
Bandung mengelukan telah terjadilnya pembayaran dana praktikum, hingga
memohon penjelasan pikah Rektor.

Pasalnya,
pihak Universitas menetapkan SPP sebesar Rp 600 ribu serta biaya
praktikum Rp 500 ribu untuk jurusan MIPA dan Rp 200-300 ribu untuk
jurusan non-MIPA sangat memberatkan mahasiswa, terutama angkatan
2007-2008.

Salah satu mahasiswa D3 Menegemen Keuangan Syariah
(MKS) Fakultas Syariah dan Hukum, M Iqbal menuturkan ‘Meski sudah
menjadi ketetep pihak Rektor, tolong dong dalam pemberitahuan adanya
uang praktikum itu jauh sebelum jadwal regisrasi. Bukan saat pembayaran
SPP baru dikasih tau’

‘Ya masih mendingan orang yang berada.
Gimana kalau seperti saya. Masa harus pulang dulu ke Pangandaran, hanya
untuk meminta uang bayaran tambahan itu’, jelasnya.

Hal senada
juga diamini oleh Iim Mustofa, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA)
Fakultas Adab dan Humaniora ‘Iya nih kalau bisa, pengumumanya itu
sebelum adanya jadwal regisrasi. Bukan hanya jadwal SPP dong’.

‘Jadinya kan bisa memberitahuakan dulu kepada orang tua, bahwa pembayaran SPP itu harus dengan dana praktikum’, cetusnya.

Menanggapi
perbedaan iuran SPP dan dana praktikum yang berbeda-beda itu; 500 ribu,
300 ribu dan 200 ribu, Rifki mahasiswa Komunikasi Penyiran Islam (KPI)
Fakultas Dakwah dan Komunikasi berkata ‘Kenapa harus dibeda-bedakan.
Bukankah dana praktikum itu digunakan buat praktek Ibadah dan Tilawan
saja. Masa harus bayar mahal’

‘Jika begini yang terjadi. Memang Orang Miskin Dilarang Sekolah, sambil mengutif jargon mas Eko Prasetiyo,’ ujarnya.

Di mata Yogi, mahasiswa Matematika Fakultas Sains dan Teknologi. ‘Maeunya ku duit 500 rebu. Ngan bisa praktek tilawah da ibadah wungkul [Masa dengan uang 500 ribu hanya digunakan untuk praktek ibadah dan tilawan saja]’

Geus kitu nilai praktek ibadah urang oge teu kaluar. Pan lieur! [Sudah begitu nilai praktikum ibadah saya juga tidak keluar. Kan pusing!], ungkapnya.

Lain lagi bagi Dian mahasiswa Sosiologi Fakultas Ushuluddien ikut nimbrung
‘Bener pisan karunya atuh keur barudak nu lain jurusan MIPA.
Laboratorium euweuh, praktekum teupuguh. Siga keur jurusan Aqidah
Filsafat
IBenar , kasian pada anak-anak yang bukan jurusan
MIPA. Laboratorium tak ada, praktikum juga tak jelas. Kaya jurusan
Aqidah Filsafat]

Ketidakjelasan aturan main saat regisrasi tiba,
bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa baru, tapi mahasiswa lama juga
menyesalkan buruknya pelayanan administrasi.

‘Selain kasihan
kepada mahasiswa baru harus membayar SPP dan dana praktikum dari 200
ribu sampai 500 ribu. Pembayaranya masih manual, harus panas-panasan
ngantrinya, kata Ahmad mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas
Tarbiyah dan Pendidikan.

‘Pokoknya, boro-boro lewat
komputerisasi. Yang ada hanya antrian begini. Kan ngeri. Padahal sudah
berubah menjadi Universitas, tapi masih tetap manual’, keluhnya.

‘Bagi
saya, ya ga apa-apa ada dana praktikum yang besar itu bila dibarengi
dengan sarana dan prasarana yang memadai. Inikah tidak’, ungkap salah
satu mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi.

‘Besar harapan saya
jika pihak Rektorat bisa memberikan penjelasan soal alokasi dana
praktikum itu dipakai kemana-mananya. Bukan apa-apa supaya tidak
terjadi hal-hal yang tak diingikan. Demo misalnya’, tegasnya. [Ibn
Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Komputer Ngeheng, 24/01/08;20.35 wib

Mushaf (12)


Written on February 10, 2008 – 9:07 am | by ghifarie
Kebebasan Beragama Tersandung ‘Beda Pendapat’
Oleh Ibn Ghifarie

Sejatinya
kehadiran tahun baru hiriah kita jadikan moment evaluasi (muhasabah)
bersama sekaligus menolak rasa putus asa dan kebosanan hidup dengan
cara bergerak menuju kebaikan, kebenaran, dan kesabaran dalam
persaudaraan. Bukan malah sebaliknya.

Persaudaraan kita kian
hari semakin tersecer saja. Betapa tidak, perbedaan pendapat dalam
menjalankan perintak Tuhan pun menjadi biang kerusuhan tersebut.

Tengoklah
perseteruan antar kelompok mayoritas dan minoritas antara Jemaat
Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
dipelbagai daerah (Bpgor, Cianjur, Nusa Tenggara Barat (NTB),
Tasikmalaya, Garut, Kuningan, Majalengka, Bandung); Islam Sejati
(Banten); Pondok Alif (Kedal Jawa Tengah); Wahidiyah (Tasikmalaya dan
Sumedang); Al Qiyadah Al Islamiyah (Padang, Jakarta, Jogyakarta);
Al-Qur’an Suci atau Al-haq (Bandung); Oim, Qudrat dan Tarekat Nikung
(Garut).

Pengrusakan Tempat Ibadah; Perbuatan lalim
Apapun
alasannya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah
tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam
kategori perbuatan baik. Diridhoi oleh Tuhan apalagi, jelas tidak.

Terlebih
lagi, hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat Islam
(al-Quran dan hadis). Rasanya tak pantas bila kita menyelesaikan
persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya
perbuatal lalim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus modernitas
dan lemahnya keimanan acapkali perlakuan tak terpuji itu menjadi bagian
yang tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan yang dihadapi.

Di
tengah-tengah keterpurukan umat Islam dan krirsis kepemimpinan, masih
banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam
menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas. Adalah budaya baku hantam
menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Kilas Balik Hijriah
Kehadiran
tahun jiriah pun tak membuat suasana membaik. Ukhuah antar sesame
muslim kian menkerucut. Satu bukti semakin buramnya temali antar
seagama. Yakni dengan maraknya kelompok yang selalu mengatasnamakan
Tuhan. Bukanlah Sang Kholik memerintahkan kita untuk tetap menghargai
pendapat orang lain (Al-Hujurat:11). Pasalnya, beda merupakn rahmat
Tuhan yang harus kita jadikan modal dalam mengarungi kehidupan yang
beragam.

Bila memang terjadi perselisihan antar kelompok satu
dengan yang lainya, maka musyawarahkan. Bukan main hakim sendiri.
Apalagi meniadakan nyawa orang lain. Jangankan saling bunuh-membunuh
atau saling kafir-mengkafirkan. Sekedar menghujat saja, Muhammad
melarangnya.

Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan
mengeluarkan sabdanya, “Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan
membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau begitu,
apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai rahmat.
Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita. Sebab
kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita bisa
mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih mudah
dikendalikan dan teratur.

Mencermati kelahiran hijrian, pada
tanggal 16 Juli 622 M. Sekitar 70-an orang pengikut Nabi Muhammad lebih
dulu sampai di Madinah, menyusul kemudian Nabi Muhammad, Abu Bakar,
Ali, dan beberapa keluarganya.

Perjalanan yang ditempuh kala itu
tidaklah pendek karena masih terbatasnya sarana transportasi yang
tersedia. Jarak Mekkah-Madinah mencapai 250 mil dengan memakan waktu
perjalanan kurang lebih sembilan hari berunta. Untuk menghindari
kejaran orang-orang Quraiys yang makin sengit mempersekusi Nabi dan
para pengikutnya, maka strategi yang disusun untuk hijrah pun harus
matang dan rute yang ditempuh mestilah jalur alternatif yang lebih
berliku. (Montgomery Watt, 2006: 121-126)

Makna Hijriah; Pembaruan dan Pembebasan
Lalu
pelajaran berharga apa yang tersirat dari peristiwa ini? Bagi para
pengkaji agama (Religionwisenhaf), hijrah dapat saja dimaknai sebagai
upaya menyusun strategi baru guna membebaskan segala bentuk penindasan
(mutstad’afin). Kemenangkan perang Mekah (futhu Mekah) pun jadi buah
perjuanganya.

Adalah upaya mencari kebebasan dalam berkeyakinan
dan beragama menjadi makna terdalam atas kejadian bersejarah ini. Tanpa
perjuangan sahabat untuk menegakan agama lain (Islam) niscaya ajaran
islam akan tumbuh-berkembang hingga ke penjuru diunia.

Mengingat
kelompok Muhammad merupakan golongan minoritas-tertindas. Namun,
kuatnya ikhtiar dan jarang memperselisihkan bed pendapat dalam kelompok
islam membuat ajaran Muhamad dapat diterima di kalangan manapun.

Kendati
bulan Muharam telah berselang beberapa hari diharapkan kehadiran tahun
baru hijrian 1429 dapat membawa perubahan dan semanat baru atas segala
persoalan yang sedang menimpa masyarakat Indonesia, termasuk kebebasan
beragama. Cita-cita islam berwajah toleran dan menghargai pemahan
kelompok lain pula jadi tumpuan utama di tahun 1429 H tersebut. Semoga.

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/01/08;12.45 wib   

*Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama